Transportasi

Rekomendasi KNKT soal Investigasi Kecelakaan Lion Air Ditindaklanjuti Kemenhub

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Rekomendasi hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait dengan kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT 610, langsung ditindaklanjuti Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti menyampaikan bahwa pihaknya mengapresiasi dan akan menindaklanjuti hasil investigasi oleh KNKT yang sejalan dengan keselamatan dan keamanan penerbangan.

“Kami mengapresiasi KNKT yang telah melakukan investigasi mendalam dan menghormati hasil investigasi yang telah dikeluarkan terhadap kecelakaan pesawat JT-610 yang terjadi di Perairan Tanjung Karawang, tahun lalu. Selanjutnya, kami akan menindaklanjuti hasil rekomendasi yang dikeluarkan oleh KNKT,” kata dia, Sabtu (26/10/2019).

Setelah kecelakaan berupa jatuhnya pesawat JT-610, Ditjen Hubud telah melakukan pemeriksaan khusus terhadap aspek kelaikudaraan seluruh pesawat Boeing B737 MAX-8.

Kemudian setelah kejadian Ethiopian Airlines, Ditjen Hubud memerintahkan agar semua pesawat dengan jenis B737 MAX-8 yang beroperasi di Indonesia dinyatakan dibekukan sementara atau “temporary grounded”.

Selanjutnya, memperhatikan CANIC (Continues Airworthinnes Notification to the International Community ) yang diterbitkan FAA pada 13 Maret 2019, dilakukan penghentian operasi atau grounded kepada semua pesawat Boeing jenis B737 MAX-8 yang beroperasi di Indonesia.

Polana menambahkan Ditjen Hubud tetap berkomitmen untuk memastikan keselamatan dan keamanan penerbangan.

Selain itu, akan terus melakukan koordinasi dengan komunitas dan organisasi internasional, khususnya Federal Aviation Administration (FAA) dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional /International Civil Aviation Organization (ICAO), untuk tetap memastikan terpenuhinya keselamatan dan keamanan penerbangan sipil di Indonesia.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis hasil investigasi kecelakaan Boeing 737 Max registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 milik Lion Air yang jatuh di Laut Jawa. KNKT menemukan ada sembilan faktor (contributing factors) yang menyebabkan menjadi penyebab kecelakaan pada pesawat nahas tersebut.

Satu dari sembilan penyebab kecelakaan yakni, Angle of Attack (AOA) sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

Hasil investigasi KNKT menemukan, kerusakan indikator kecepatan dan ketinggian di pesawat PK-LQP terjadi pertama kali pada tanggal 26 Oktober 2018 dalam penerbangan dari Tianjin, China ke Manado, Indonesia. Setelah beberapa kali perbaikan pada kerusakan yang berulang, pada tanggal 28 Oktober 2018 Angle of Attack (AOA) sensor kiri diganti di Denpasar, Bali.

Ketua Sub Komite Investigasi Penerbangan Nurcahyo Utomo mengatakan, AOA sensor kiri yang dipasang mengalami deviasi sebesar 21 derajat yang tidak terdeteksi pada saat diuji setelah dipasang.

“AOA sensor yang terpasang di pesawat, ternyata mengalami miskalibrasi sebesar kira-kira 21 derajat,” kata dia di Kantor KNKT, Jakarta, Jumat (25/10).

Deviasi ini mengakibatkan perbedaan penunjukan ketinggian dan kecepatan antara instrument kiri dan kanan di cockpit, juga mengaktifkan stick shaker dan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) pada penerbangan dari Denpasar ke Jakarta.

Hasil investigasi KNKT pun menemukan bahwa AOA sensor pengganti yang terpasang di pesawat JT 610, sebelumnya dipasang pada pesawat Malindo. “AOA sensor yang terpasang ini sebelumnya dipasang di pesawat Malindo yang mengalami kerusakan,” ungkapnya.

Lebih jauh, Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ony Soerjo Wibowo menjelaskan, AOA sensor yang rusak tersebut kemudian dikirim untuk diperbaiki di Florida, Amerika Serikat.

“Dikirim ke Amerika, Kemudian sampai di Amerika diperbaiki. Diperbaiki itu ada tata caranya. Ada buku panduannya, ada alatnya,” jelas Ony ketika ditemui di Kantor KNKT.

Namun, di Florida ternyata perbaikan AOA sensor diduga tidak mengikuti tata cara dan prosedur yang disyaratkan. Memang AOA bisa dipakai, tapi ada kelemahannya. “Pihak Amerika mengerjakan tidak menggunakan alat yang direkomendasikan oleh manufaktur. Tapi bisa dipakai dan sah,” papar dia.

“Cuma ada kelemahannya. Kalau switch satu saja akan menyebabkan kalibrasinya bermasalah. Inilah yang kita sangka terjadi. Karena ketika kita uji kembali. Ketika dicoba switch-nya sengaja disalahin, benar nggak ada miskalibrasi? Ternyata benar (ada miskalibrasi). Sehingga kita berpendapat barangkali inilah yang mengakibatkan angle of attack (AOA) itu miskalibrasi,” imbuhnya.

Karena itu, meskipun hasil pengetesan di Florida, dinyatakan bahwa AOA sensor telah berhasil diperbaiki dan bisa digunakan, tapi sesungguhnya dikirim kembali dalam keadaan tidak terkalibrasi dengan benar. Sekitar Oktober 2017, AOA sensor yang diperbaiki di Florida tersebut, tiba di Indonesia dan disimpan di gudang di Batam.

“Berapa tidak terkalibrasinya, kurang lebih 21 derajat. (Kapan tiba di Indonesia?) Kurang lebih Oktober 2017. Disimpan di gudang, lama. Karena di Denpasar butuh, ambillah untuk dipasang di PK-LQP. Tanggal 28 Oktober. 2018, sebelum terbang ke Jakarta,” urai dia.

AOA sensor dari Batam tersebut, tidak lagi dicek dan langsung dipasang pada pesawat nahas itu. Karena dianggap terjamin kelaikannya. “Karena sudah ada sertifikasi yang sudah ada di sana dan sudah approve, maka operator hanya tinggal pasang saja. Mereka hanya periksa dokumentasi saja. Itu dianggap clear. Meskipun ada perbedaan itu tidak akan terdeteksi,” tandasnya.

Sebelumnya dalam paparannya, Ketua Sub Komite Investigasi Penerbangan Nurcahyo Utomo menegaskan ke-9 faktor (contributing factors) yang menyebabkan menjadi penyebab kecelakaan pesawat Lion Air PK-LQP saling berkaitan satu sama lain.

Menurut dia, jika salah satu faktor tidak terjadi, maka kecelakaan pada 29 Oktober 2018 silam mungkin tidak terjadi. “Jadi sembilan yang kami temukan adalah sembilan hal yang terjadi hari itu, yang mengakibatkan kecelakaan. Apabila salah satu dari sembilan ini tidak terjadi, mungkin kecelakaan tidak terjadi. Sembilan ini saling berkaitan,” kata dia, dalam konferensi pers.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menerbitkan enam rekomendasi keselamatan untuk Boeing. Rekomendasi ini disampaikan berdasarkan kesimpulan atas hasil investigasi jatuhnya Lion Air PK-LQP di Tanjung Karawang, 29 Oktober 2018 silam.

Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo tidak menyampaikan secara rinci enam rekomendasi tersebut. Meskipun demikian, dia mengatakan salah satu poin rekomendasi terkait perbaikan assessment oleh Boeing atas produk baru.

“Terkait asumsi-asumsi yang mereka gunakan, terkait assesment desain baru,” kata dia di Kantor KNKT, Jakarta, Jumat (25/10).

“Intinya ke Boeing masalah gimana mereka melakukan assesment, kajian-kajian, dan asumsi itu yang perlu diperbaiki, dilakukan dengan lebih akurat,” sambungnya.

Investigasi KNKT menemukan bahwa salah satu penyebab kecelakaan, yakni pilot tidak terinformasi soal fitur baru pada Boeing 737 Max, yakni Maneuvering Characteristics Augmentation System alias MCAS.

Sebagai informasi, MCAS adalah fitur yang baru ada di pesawat Boeing 737-8 (MAX) untuk memperbaiki karakteristik angguk (pergerakan pada bidang vertikal) pesawat pada kondisi flap up, manual flight (tanpa auto pilot) dan AOA tinggi.

Proses investigasi menemukan bahwa desain dan sertifikasi fitur ini tidak memadai, juga pelatihan dan buku panduan untuk pilot tidak memuat informasi terkait MCAS.

“Jadi saat mereka lakukan training dari pesawat tipe sebelumnya ke 737 MAX, tidak ada informasi mengenai MCAS di dalam buku panduan pilot. Sehingga pilot sama sekali tidak memiliki informasi tentang apa itu MCAS,” ungkapnya.

“Hal ini tentu menyulitkan pada saat MCAS mulai aktif, mereka tidak bisa mengenali gejala ini disebabkan oleh sistem apa,” imbuhnya.

Atas dasar itu, pihaknya merekomendasikan pada Boeing agar penetapan asumsi harus lebih mempertimbangkan kemampuan pilot pada umumnya. KNKT menilai asumsi Boeing ditetapkan berdasarkan ketrampilan test pilots yang dimiliki Boeing.

“Karena test pilots memang pada jago-jago. Kan Pilot pada umumnya itu tidak sejago test pilots. Mereka (Boeing) diminta membuat asumsi yang lebih membumi,” tandasnya.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close