Rasul dan Jeruk

Rasul dan Jeruk
Syaefudin Simon

Oleh Syaefudin Simon

KETIKA Rasulullah sedang  kumpul bersama beberapa  sahabatnya, tetiba datang tamu. Seorang wanita Quraisy membawa beberapa buah jeruk. 

Jeruknya kelihatan bagus. Kulitnya bersih mengkilap. Warnanya merah kekuningan. Rasul dan sahabatnya berpikir, jeruk ini pasti rasanya manis dan segar. Mereka senang mendapat hadiah jeruk itu.

Baginda Rasul  pun menerima pemberian itu dengan tersenyum, dan  ingin segera merasakannya. Lalu Rasul pun memakan jeruk itu di depan wanita tersebut. Sampai habis. Wanita itu kaget melihat jeruknya "dinikmati" Nabi Muhammad hingga tak tersisa. 

Biasanya, jika mendapat hadian makanan, Baginda selalu mengajak para sahabat untuk ikut merasakannya. Tapi aneh, kali ini tidak. Rasulullah justru memakannya sendiri di depan  wanita itu sambil menyatakan terima kasih atas hadiahnya. Jeruk itu habis dimakan beliau di depan sang tamu, tanpa menawarkannya kepada para sahabat.

Para sahabat pun berpikir, kenapa hal itu terjadi?  Mereka heran dengan sikap Rasulullah. Setelah sang tamu pulang,   salah seorang sahabat  bertanya. 

Wahai  Rasulullah, kenapa engkau tidak menawarkan kepada kami untuk ikut menyicipi jeruk tadi? 

Dengan tersenyum Rasulullah menjelaskan: “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam. Rasanya  kecut sekali. Pahit lagi.  Tidak enak di lidah. Seandainya  kalian turut makan jeruk  itu,  saya ragu apakah di antara kalian bisa menahan rasa kecutnya dan tidak menyinggung perasaan wanita itu?"

Para sahabat pun melongo. Kaget! Lanjut Rasul: "Karena  itu saya menghabiskan semua jeruk  agar kalian tidak ikut merasakannya dan kemudian membenci wanita tadi."

Begitulah akhlak Rasulullah SAW. Baginda tidak mau mengecilkan  pemberian seseorang, meski pemberian itu nilainya rendah dan mengecewakan. 

Sebenarnya wanita tadi utusan orang-orang Quraisy yang membenci Rasul. Ia diminta pemimpin Quraisy Abu Jahal untuk memberikan jeruk yang rasanya kecut dan pahit untuk  mempermainkan Rasulullah dan para sahabatnya.  Tapi sayang, karena kebaikan hati Rasul, rencananya gagal. Rekayasanya hancur karena  akhlak mulia Rasulullah. Wanita itu jelas kecewa karena gagal memperdaya Muhammad SAW.

Bayangkan seandainya jeruk itu dicicipi sahabatnya, niscaya wanita itu akan dicaci maki. Tapi Rasul tetap tersenyum sambil mengucapkan syukur Alhamdulillah atas pemberian wanita tadi.  Itulah akhlak mulia junjungan umat Islam. Allaahumma shalli 'alaa Muhammad. (*)

Syaefudin Simon adalah penulis lepas.