Ramadan29: Teologi Ekologi

Ramadan29: Teologi Ekologi
Ahmad Erani Yustika

Oleh: Ahmad Erani Yustika

SEORANG PRIA yang usianya 70 tahun, namanya Pak Sadiman, terus berjalan menanjak ke bukit dengan pikulan di pundak. Isi beban itu aneka bibit pohon. Selama hampir 25 tahun ia tunaikan lelaku itu seorang diri di bukit tandus Wonogiri. 4000 lebih bibit sudah dia tanam. Wilayah tempat tinggalnya kerap terjadi banjir dan
kekeringan, salah satu sebabnya pohon ditebang. Sekarang bukit itu sudah hijau dan anak-anak muda terinspirasi sehingga ikut dalam bakti heroik tersebut. Kekeringan dan banjir tak lagi singgah. Pak Diman hanya lelaki desa yang tak paham istilah "triple bottom line: people, planet, profit" yang dipopulerkan John Elkington sekitar 25 tahun lampau. Namun, ia menginsafi bahwa ekologi tak boleh dikoyak oleh alasan apa pun, termasuk pembangunan.

Pada tahun 2000 saya pergi ke Kabupaten Morowali via darat. Perjalanan dimulai dari Palu, Poso, dan melewati Tentena sebelum sampai Morowali (400 km). Muhibah penuh cekam, banyak pemeriksaan oleh warga sepanjang jalan, sebagai akibat konflik Poso yang masih belum usai. 16 tahun kemudian (2016) saya pergi ke Tentena lagi untuk hadiri acara Festival Bumi Mosintuwu ("Mosintuwu" bermakna: saling menghidupi) dan diskusi atas undangan Direktur Institut Mosintuwu (Lian Gogali). Saya tergetar melihat festival bumi ini. Warga dari banyak desa dan ragam etnis-agama berkumpul membawa hasil panen. Warisan konflik total sudah luruh. Lian, perempuan pendekar kemanusiaan, berhasil menegakkan pembangunan yang berparas sosial.

Pada dekade 1960-an teori ekonomi banyak dihujani keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan tujuan pokok pembangunan. Solow, Harrod-Domar, dan Rostow adalah sebagian pemikir yang mempromosikan mazhab "growth model". Seluruh negara kemudian menjadikan teori mereka sebagai pandu pembangunan, tak terkecuali Indonesia. Investasi, tabungan, teknologi, dan produktivitas tenaga kerja dikerahkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tambang digali, hutan ditebang, adat dilindas, laut dihisap, pupuk kimia disemprotkan, dan warga digusur demi pertumbuhan ekonomi. Lingkungan dan relasi sosial/kemanusiaan dihancurkan oleh buldozer dengan dalih pembangunan.

Celakanya, alat ukur kemajuan semata dilihat dari pertumbuhan ekonomi, kenaikan investasi, dan pendapatan per kapita. Pertumbuhan ekonomi kian tinggi menunjukkan kedigdayaan negara. Investasi yang menjulang menandakan ekonomi juara. Kenaikan pendapatan per kapita menampakkan kesejahteraan yang terus naik tangga. Sikap akademik ini bukan cuma dikunyah oleh regulator, tetapi juga ditelan para akademi maupun khalayak. Tentu saja pandangan ini tidak keliru sepenuhnya. Namun, tidak ada artinya itu semua bila di baliknya lingkungan hancur, manusia tercampakkan, dan disparitas pendapatan menganga. Jika variabel ini dimasukkan, bisa jadi pertumbuhan ekonomi selama ini sebetulnya neracanya minus belaka.

Islam adalah agama yang amat memuliakan kemanusiaan dan lingkungan. Salah satu firmanNya: "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar-Rum: 41]. Kasih sayang kepada sesama juga kewajiban setiap muslim. Bahkan, Allah mengampuni dosa seorang pelacur, yang dengan kasih sayangnya memberi minum kepada anjing yang kehausan, seperti yang dinukilkan dalam HR. Bukhari dan Muslim. “Torang Samua Basudara,” seru warga Minahasa. Jadi, teologi lingkungan dan (kohesi) sosial adalah paket komplet pembangunan (ekonomi) yang wajib dimenangkan.

Prof. Ahmad  Erani Yustika, Ph.D., Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, Malang.