Opini

Rahmat Allah untuk Semua: Sebuah Kisah Indah dari Lembaran Sejarah

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Jerusalem, 583 H/1187 M.

Kala itu, malam begitu sunyi dan senyap. Saat itu Helena keluar dari tenda. Dengan langkah-langkah pelan dan berat ia menuju ke sebuah tempat yang lapang, tidak jauh dari tendanya. Lalu ia duduk, sedangkan pikirannya yang galau menerawang entah ke mana. Usianya baru sekitar tiga puluh tahun. Tetapi, ia tampak jauh lebih muda laksana seorang gadis muda usia. Tinggi, ramping, dan cantik, itulah penilaian orang tentang dirinya.

Lama pandangan Helena terarah pada perkemahan memanjang yang menghiasi perbukitan nun jauh di depannya. Itulah perkemahan pihak lawan. Di bawah pimpinan Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi. Kini, mereka telah berhasil menduduki perbentengan tinggi. Yang mengitari Kota Jerusalem.
“Betapa kejam hidup ini!” keluh Helena dalam hati seraya merenungi kehidupan yang dialaminya kini.

Segera pikiran Helena menerawang jauh ke masa lalu, ketika ia masih remaja dan hidup di kaki Pegunungan Alpen. Ketika itu, hanya dunia kecil itu sajalah yang ia kenal. Namun, bayang-bayang desanya nan indah itu segera sirna dan kini muncul suasana kelam, gersang, dan kejam menghajar dirinya. Sejenak ia kebingungan, mengapa kini ia berada di negeri nun jauh dari desanya, sedangkan suaminya kini raib entah ke mana.

“Louis, masih hidup atau gugurkah engkau?” gumam pelan bibir Helena.

Helena tiba-tiba teringat, betapa kebahagiaan senantiasa mengiringi kehidupannya selama ia tinggal di desanya.
Setiap pagi ia tidak pernah lalai pergi ke gereja kecil di tengah-tengah desanya, menyatakan rasa syukur kepada Tuhan. Lantas, bersama suaminya tercinta, ia menelusuri hutan yang tampaknya tidak pernah membuat ia jemu untuk mengunjunginya. Namun, kebahagiaan yang mereka nikmati itu segera terusik oleh seruan dari para pemuka desa, agar mereka menggabungkan diri dengan pasukan Perancis yang bertolak menuju Jerusalem. Dengan penuh semangat, Louis dan Helena pun menggabungkan diri, dengan membawa serta putra pertama mereka tercinta, Louis kecil.

Tiba-tiba pula terbayang oleh Helena, seakan sosok suaminya tercinta sedang mendekapnya. Meledaklah tangis dan ratapan panjangnya. Sehingga, membuat kakak perempuannya terjaga dari tidur pulasnya. Kakaknya pun keluar dari tenda dan mendekati adiknya seraya memangku Louis kecil. Lantas, ucapnya, “Ada apa, Helena? Mengapa engkau menangis? Tidurlah, adikku. Malam telah begini larut!”

Helena diam seribu bahasa. Lalu, ia meneruskan tangis panjangnya.

“Apa yang membuatmu sedih?”

“Louis!”

Begitu usai menyebut nama Louis, Helena pun kembali tenggelam dalam tangis panjangnya.

“Tabahkanlah hatimu, Helena! Ia kini telah berada di langit. Lagi pula, bukankah di sampingmu masih ada Louis kecil. Tidakkah engkau mendengar tangisnya? Ia adalah anakmu dan suamimu tercinta, Helena. Jangan engkau biarkan anakmu ikut berlarut-larut sedih. Gembirakanlah hatinya. Berilah ia semangat suamimu. Peluklah anakmu ini, Helena. Tidak tahukah engkau, tangismu benar-benar membuat ia sedih?” ucap sang kakak.

Helena pun mengambil Louis kecil dari pangkuan kakaknya. Seraya memejamkan kedua matanya, ia dekap keras anak semata wayangnya itu. Tiba-tiba wajah Louis, suaminya, serasa mendekap dirinya kembali. Segera, kakaknya menuntunnya ke dalam tenda. Dan, segera pula, lentera di tenda itu pun padam.

Ketika pagi menampakkan senyumnya, betapa sangat terkejut Helena karena tidak mendapatkan Louis kecil di tempatnya. Ia pun segera keluar dari tenda sambil berteriak, berteriak, dan berteriak. Menanyakan puteranya kepada setiap orang yang ia jumpai. Tenda demi tenda ia masuki. Tetapi, jawabannya sama: mereka tidak tahu di mana puteranya.

Akhirnya, sampailah Helena ke tenda para komandan pasukan suaminya. Begitu berada di hadapan mereka, ia pun menjatuhkan diri. Seraya menangis panjang. Tanpa henti. Runtuhlah hati para komandan itu. Tetapi, mereka tak kuasa berbuat apa-apa. Mereka pun membisu.

Akhirnya, salah seorang komandan berucap, “Helena, temuilah Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi! Ia seorang sultan nan bijak dan jagoan perang. Saya percaya, ia tidak akan menutup telinga terhadap keluhan dan ratapan seorang ibunda yang menangis mencari putra semata wayangnya. Tentu, ia akan mengembalikan putramu itu. Beberapa waktu yang lalu ada seorang komandan teman kita yang diculik oleh pasukannya. Ketika komandan itu diserahkan kepadanya dan tinggal menuju saat kematiannya, ia membebaskan komandan kita dengan penuh penghormatan dan kemuliaan. Kemudian ia kirim komandan kita itu ke Damaskus sebagai komandan yang terhormat. Saat itu, komandan kita itu tidak kuasa menatapkan pandangannya kepada sang sultan. Karena komandan kita benar-benar merasa tidak kuasa mengungkapkan perasaan terima kasihnya dan perasaan malunya terhadap dirinya ketika bertemu dengan sang sultan dan para komandannya. Menurut saya, cobalah temui Sultan Shalah Al-Din. Barang kali puteramu ada di sana.”

Pendapat komandan pasukan Perancis itu mendapat dukungan dari teman-temannya.

Mendengar saran demikian, tanpa membuang waktu Helena pun melangkahkan kakinya. Menuju perkemahan musuh yang berada jauh di atas bukit. Keinginan kuatnya untuk bertemu dengan putera semata wayangnya membuatnya lupa beratnya medan yang harus ia lalui. Untuk sampai ke perkemahan pasukan Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi.

Ketika Helena tina di perkemahan itu, para pengawal pun menghentikan langkah Helena. Helena pun berhenti. Menanti apa yang bakal dilakukan para pengawal. Ia memang tidak tahu apa gunanya para pengawal dan perang. Yang ia ketahui, ia sampai ke Jerusalem hanya untuk mengunjungi Tanah Suci yang Dijanjikan. Dan, kini, satu-satunya tujuannya ke perkemahan itu adalah bagaimana Louis kecil dapat ia temukan kembali. Ia lalu berseru kepada para pengawal, “Anakku! Kembalikan anakku kepadaku! Aku hanya menginginkan anakku. Mengapa kalian menculiknya? Mengapa kalian menyiksa perempuan papa? Di mana anakku? Apakah kalian membunuhnya? Tidak! Tidak! Tidak! Kembalikanlah anakku!”

Para pengawal itu pun kebingungan. Mereka tidak mengerti bahasa perempuan yang berada di hadapan mereka. Tanpa menyadari kebingunan para pengawal, Helena kembali berteriak. Meminta mereka mengembalikan puteranya. Para pengawal pun akhirnya memanggil seseorang yang memahami bahasa Helena. Ia lantas bertanya dengan nada suara ramah dan santun kepada Helena, “Siapa puteramu, Ibu?”

“Anakku Louis! Louis! Aku Helena. Bila anakku tidak kalian kembalikan, aku akan menemui sultan kalian!”

Merasa kasihan terhadap Helena, para pengawal pun menyilakan ia masuk dan menunjukkan arah tenda Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi. Tanpa membuang waktu, Helena pun mengarahkan langkah-langkahnya ke sana dan bertemu dengan Ibn Syaddad, seorang penasihat sang sultan. Ketika Ibn Syaddad tahu maksud Helena, ia pun berkata kepadanya, “Sultan sedang beristirahat. Tunggulah sebentar.”

“Tidak! Tidak! Tidak! Tolonglah aku, Tuan. Aku khawatir anakku tertimpa sesuatu. Biarlah aku menemui sultan!”
“Pergilah bersama pengawal ini,” ucap Ibn Syaddad. Lalu, ia memerintahkan pengawal itu membawa Helena ke tenda para tawanan. Sampai Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi memberikan izin untuk menemuinya.

Dengan bungkam seribu kata, Helena mengikuti langkah pengawal menuju tenda yang tersedia baginya. Ketika tahu tenda itu bukan tenda Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi, tapi tenda bagi para tawanan, ia pun kembali berteriak dan melolong. Menginginkan puteranya. Teriakan dan lolongannya pun terdengar oleh sang sultan. Sang sultan pun memerintahkan agar perempuan asing itu dibawa menghadap kepadanya.

Di sisi lain, di ujung tenda para tawanan, saat itu ada seorang tawanan yang semenjak beberapa lama senantiasa bermuka murung dan kuyu. Tetapi, ketika melihat Helena dari kejauhan, tiba-tiba hatinya bergelora nyaris tidak tertahankan lagi. Kedua matanya tidak pernah lepas dari perempuan itu hingga keluar dari tenda. Begitu perempuan itu keluar, aneka ragam bayang-bayang dan pikiran menghajar benaknya. Ia pun menjadi ingat kembali perjalanan panjang hidupnya. Hingga menjadi tawanan. Tiba-tiba ia berdiri dan berteriak, “Biarkan aku melihatnya! Biarkan aku melihatnya! Biarkan aku melihatnya!”

Para pengawal pun berdatangan menenangkannya. Tetapi, ia tetap berteriak, berteriak, dan berteriak. Tidak kuasa mengendalikannya, para pengawal pun menghadapkan tawanan kepada sang sultan.

Ketika tawanan itu tiba di hadapan Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi, ia merasa betapa berat menengadahkan kepalanya. Perasaan berterima kasih kepada sang sultan, atas perlakuan terhadap dirinya selama menjadi tawanan, membuat ia tidak kuasa menatap penguasa yang satu itu. Tiba-tiba ketika berhasil mengangkat kepalanya, ia melihat perempuan yang ia lihat tadi sedang memangku seorang anak kecil. Lalu, ia melihat perempuan itu membungkukkan tubuhnya ke arah sang sultan, sebagai ungkapan terima kasih yang tidak terkira. Tampak jelas oleh tawanan itu tetes-tetes air mata membasahi kedua pipi perempuan itu. Tanpa sadar tiba-tiba ia berlari ke arah perempuan itu. Tiba-tiba anak yang berada di dekapan perempuan itu berseru, “Ayah!”

Melihat suaminya tercinta tiba-tiba berada di hadapannya, Helena pun tidak kuasa mengendalikan diri. Serunya seraya memeluk suaminya, “Louis! Engkau masih hidup?”

Melihat kejadian itu, Sultan Shalah Al-Din Al-Ayyubi segera mengerti kisah di antara suami-istri itu. Ia pun membiarkan mereka berdua berpelukan di hadapannya. Lama dan sangat bahagia.

Selepas lama Helena dan Louis tenggelam dalam kegembiraan, keduanya kemudian menyadari di hadapan mereka berdiri seorang penguasa yang jauh dari dugaan mereka. Ketika mereka masih berada di desa mereka. Suami-isteri itu pun lalu menyampaikan ucapan terima kasih kepada sang sultan.

“Sejatinya apa yang kami lakukan tidak lebih dari apa yang diperintahkan oleh agama kami,” ucap sang sultan.
“Benarkah agama sultan memerintahkan demikian?” tanya Helena. Penuh rasa ingin tahu.

“Benar. Islam adalah rahmat bagi seluruh penghuni semesta alam dan kemanusiaan.”

“Apakah rahmat itu juga berlaku bagi seorang perempuan lemah yang ingin hidup dengan damai dan tenteram dalam pelukan Islam?”

“Rahmat Allah tidak terbatas bagi suatu kelompok tertentu. Rahmat Allah untuk semua,” jawab ramah dan santun sang sultan. Seraya tersenyum.

“Bagaimanakah cara memeluk agama ini?”

“Ucapkanlah: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.”

Helena pun mengikuti kata-kata yang diucapkan sang sultan. Usai mengucapkan kata-kata itu, ia pun berpaling kepada suaminya. Betapa bahagia IA, ketika ia melihat suaminya pun mengucapkan kata-kata yang sama.

Mereka berdua kemudian berpelukan. Lama dan sangat [email protected]

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close