Internasional

Putra Mahkota Saudi: Perempuan Tak Perlu Kenakan Kerudung

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengungkapkan, perempuan di Arab Saudi tak perlu mengenakan kerudung atau abaya hitam, pakaian tradisional yang panjang. Perempuan, menurut dia, cukup berpakaian sopan dan terhormat.

“Undang-undang sangat jelas dan juga diatur dalam hukum syariah bahwa wanita mengenakan pakaian yang sopan, terhormat, seperti pria,” kata Mohammed dalam wawancara dengan stasiun televisi CBS yang ditayangkan Senin (19/3) malam.

“Ini, bagaimanapun, tidak secara khusus menyebut abaya hitam atau penutup kepala hitam,” lanjutnya seperti dilansir Gulf News, Selasa (20/3).

“Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada perempuan untuk memutuskan jenis pakaian yang layak dan terhormat yang dia pilih untuk dikenakan,” ujar dia.

Seorang ulama senior Arab Saudi bulan lalu telah menyatakan wanita harus berpakaian sopan, tapi tidak harus mengenakan abaya, pakaian tradisional Saudi.

Baca juga: Putra Mahkota Arab Saudi Akui Islam versi Wahabi Keliru

Sejak Pangeran MBS berkuasa, Arab Saudi mulai memperluas hak-hak perempuan, termasuk mengizinkannya mengemudi, sesuatu yang selama ini terlarang. Juga memperbolehkan wanita menonton olah raga di stadion.

Perubahan tersebut dipuji banyak kalangan sebagai bukti perubahan progresif terbaru di kerajaan yang sangat konservatif, meski pemisahan gender di Arab Saudi masih terus memicu kritik.

Belum jelas apakah pernyataan Pangeran MBS menandakan perubahan pada hukum berpakaian untuk wanita di Arab Saudi.

Arab Saudi tidak memiliki hukum tertulis yang mengatur syariah. Polisi dan pengadilan telah lama memberlakukan aturan yang ketat mewajibkan wanita Saudi mengenakan abaya, dan di banyak kasus wajib menutup rambut serta wajah mereka.

Angin segar kebebasan sosial bertiup setelah putra mahkota berusia 32 tahun tersebut berkuasa, menggantikan para penguasa yang biasanya telah berusia lanjut.

Beberapa tahun belakangan, wanita Saudi mulai mengenakan abaya warna-warni, biru muda dan pink. Warga yang berlawanan dengan abaya tradisional yang berwarna hitam.

Mengenakan abaya terbuka dengan rok panjang atau celana jins juga lazim dikenakan perempuan Saudi belakangan ini.

Pada 8 Maret, sekelompok perempuan di Jeddah, Arab Saudi menandai Hari Perempuan Internasional dengan menggunakan hak-hak baru mereka, seperti lari pagi tanpa peduli pada orang-orang yang memperhatikan mereka dengan bingung.

Meski begitu, beberapa aktif masih mengecam sistem perwalian yang mewajibkan perempuan minta izin pada laki-laki di keluar mereka untuk bisa belajar di luar negeri, bepergian dan aktivitas lainnya.

Pekan lalu, badan hak-hak asasi (HAM) PBB meminta Arab Saudi untuk mengakhiri praktek diskriminasi terhadap perempuan, termasuk perwalian laki-laki, serta memberikan akses penuh bagi wanita ke pengadilan. (MU)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close