Opini

Puncak Cinta Zulaikha

One Day One Hikmah (10)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“SIAPA itu nama perempuan yang pernah jatuh cinta kepada Nabi Yusuf a.s.?”

Demikian tanya seorang sahabat. Suatu saat kepada saya. Selepas lama berbincang tentang berbagai hal.

“Zulaikha. Itulah nama yang biasanya disebut,” jawab saya. “Sejatinya nama itu sendiri tidak dikemukakan dalam Al-Quran.

Ya, dalam Kitab Suci itu memang tidak dituturkan nama perempuan yang pernah menggoda Nabi Yusuf a.s. itu. Nama Zulaikha sendiri berasal dari kaum Muslim yang semula memeluk agama Yahudi (dalam Torat disebut Zelikah) dan Nasrani. Ada yang menyatakan, suami Zulaikha bernama Potiphar.

Ia seorang penguasa kawasan San, Mesir Selatan. Ada pula yang menyatakan, Potiphar adalah seorang kepala polisi. Dalam Al-Quran, suami Zulaikha itu disebut “Al-‘Aziz”. Yang bisa berarti “Pejabat Tinggi” atau “Orang yang Menempati Kedudukan Tinggi”.

Konon, Nabi Yusuf a.s. adalah seorang Nabi yang lebih tampan dibanding para Nabi sebelum beliau. Tak aneh bila Zulaikha langsung jatuh cinta. Sejak pertama kali ia melihat Yusuf muda.

Demi cintanya kepada Yusuf, Zulaikha rela mengorbankan segala-galanya. Harta, reputasi, maupun kedudukannya. Dia begitu tergila-gila kepada Yusuf. Hingga ia rela menyerahkan permata terbaik miliknya.

Kepada siapa pun yang melaporkan hasil pengamatannya terhadap Yusuf. Juga, menuturkan apa saja yang sedang dilakukan sosok tercintanya itu. Dia pun menjadi buah bibir di kalangan para perempuan di kalangan bangsawan Mesir: seorang perempuan bersuami tanpa malu-malu jatuh cinta. Kepada seorang budak milik suaminya.

Ketika mendengar para perempuan bangsawan kerap menggunjingnya, Zulaikha pun berusaha membalas mereka. Ia undang teman-temannya. Untuk datang bersantap siang bersama dia. Sebagai hidangan penutup, ia hidangkan buah-buahan segar. Lengkap dengan pisau tajam untuk mengupas dan memotong buah-buah itu.

Kemudian, ia panggil Yusuf. Seketika, semua perempuan di ruangan itu tersergap oleh pesona ketampanan Yusuf muda. Begitu terpukaunya mereka, hingga mereka benar-benar lupa dengan buah-buah di tangan mereka. Sehingga, mereka tidak menyadari, ketika pisau-pisau itu malah mengiris tangan mereka. Zulaikha pun berucap penuh sindiran kepada mereka, “Lihat! Kini, apakah kalian masih menyalahkan aku: aku jatuh cinta kepadanya?”

Bertahun-tahun kemudian, kedudukan dan nasib Nabi Yusuf a.s. dan Zulaikha berbalik. Nabi Yusuf a.s. telah menjadi sahabat dan perdana menteri Fir’aun Mesir kala itu.

Sebaliknya dengan nasib Zulaikha. Selepas dicampakkan suaminya, karena skandal cintanya, kini Zulaikha meniti hidup lain. Sangat menderita dan sengsara. Kini, ia hidup sebagai peminta-minta. Lantas, suatu hari, Nabi Yusuf a.s. melihat Zulaikha sedang berjalan pelan di sebuah jalan. Sang Nabi kala itu mengenakan busana nan indah dari sutera, mengendarai kuda jantan nan gagah, dan dikitari para penasihat serta tentara yang bertugas sebagai pengawal pribadinya.

Sedangkan Zulaikha hanya mengenakan sampiran kain lusuh. Kecantikannya telah sirna. Sirna dalam tempaan kehidupan yang ia lintasi bertahun-tahun dalam keadaan menderita dan sengsara. Nabi Yusuf a.s. segera turun dari kuda yang ia naik. Kemudian, ia berjalan di samping Zulaikha dan berucap dengan penuh cinta, “Zulaikha! Dulu, ketika engkau ingin menikah denganku, aku terpaksa menolakmu. Kala itu, engkau adalah isteri tuanku. Kini, engkau bebas. Aku pun bukan lagi seorang budak. Kalau engkau mau, aku akan menikahimu.”

Zulaikha balik menatap Yusuf a.s. Sangat lama. Namun, kali ini, kedua matanya berpendar cemerlang. Ucapnya lirih kepada sang Nabi, “Tidak, Yusuf. Cintaku yang begitu besar kepadamu, dulu, tak lain hanyalah sebuah tirai. Yang menjadi penyekat antara aku dan Sang Kekasih. Kini, aku telah merobek tirai itu dan mencampakkannya. Kini, aku telah menemukan Kekasihku. Yang sejati. Karena itu, kini, aku tak lagi memerlukan cintamu!”

Kecewakah Nabi Yusuf a.s. begitu menerima penolakan tawarannya untuk menikah oleh Zulaikha? Ternyata, menurut Al-Ghazali dalam karyanya Ihya’ ‘Ulum Ad-Din (vol. 13), Nabi Yusuf a.s. tidak kecewa. Putera Nabi Ya’qub a.s. itu malah kian gembira. Mendengar jawaban indah yang demikian itu dari Zulaikha. Walau demikian, beliau tak patah arang. Malah, dengan berbagai pendekatan yang meyakinkan, akhirnya Nabi Yusuf a.s. berhasil menyunting Zulaikha. Dan, kemudian menempatkan Zulaikha di istananya.

Pendar keelokan fisik Zulaikha pun segera pulih. Seperti sediakala. Malah, kini, pendar keelokannya kian berkilau dan bercahaya. Baik lahir maupun batinnya. Berbeda dengan ketika masih menjadi istri Potiphar, Zulaikha kini berubah sepenuhnya menjadi seorang perempuan bangsawan yang senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Setiap saat, ia tak pernah melewatkan waktunya untuk kian mendekatkan dirinya. Kepada-Nya.

Nah, suatu siang hari, Nabi Yusuf a.s. yang lagi menikmati rehat, pulang ke istananya. Sebagai seorang suami, siang itu ia berhasrat sekali bercengkerama dengan isteri tercintanya nan elok itu. Namun, Zulaikha dengan halus menolak permintaan suaminya. Yang sangat tampan itu. Dia meminta, supaya Nabi Yusuf a.s. menunda hasrat dan keinginannya yang menggebu itu. Hingga malam hari tiba. Nabi Yusuf a.s. pun, dengan agak kecewa, menerima penolakan itu. Kemudian, di malam harinya, ketika Nabi Yusuf a.s. memanggilnya, Zulaikha sekali lagi meminta supaya hasrat Nabi Yusuf a.s. itu ditunda. Hingga siang hari tiba. Ucapnya, “Yusuf, suamiku tercinta! Aku mencintaimu sebelum aku mengenal Allah Swt. Karena itu, begitu aku mengenal Dia, bukankah sepantasnya tak kusisakan lagi cinta untuk selain Dia dan menghendaki pengganti Dia?”

Nabi Yusuf a.s. pun tercenung dan termenung. Mendengar ucapan Zulaikha yang demikian itu. Tak lama kemudian, ia berucap lirih kepada Zulaikha, “Isteriku tercinta! Sejatinya, Allah Yang Mahaagunglah yang menyuruh aku melakukan hal yang demikian itu. Denganmu. Dia mengabarkan kepadaku, Dia akan mengaruniakan dua putera lewat dirimu. Dia akan mengangkat kedua putera itu sebagai Nabi.”

“Yusuf, suami tercinta,” jawab Zulaikha dengan wajah berbinar cemerlang. “Bila memang Allah Swt. memerintahkan engkau untuk bercengkerama denganku, dan menjadikan aku sebagai sarana terlaksananya perintah-Nya, tentu aku menaati perintah-Nya. Karena dengan ketaatan itu, kalbuku menjadi tenang dan kian dekat dengan-Nya.”

Lahirlah, kemudian, dua putera: Ephraim dan Manasseh (dalam bahasa Arab disebut Afrayim dan Manissa)!

Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. kini Pengasuh Pesantren Nun, Baleendah, Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close