Catatan dari Senayan

Puasa, Momentum Menjaga Kata dan Hati

HARI ini segenap umat Islam di Indonesia, juga di seluruh dunia, mulai menjalani ibadah puasa Ramadhan. Ucapan dan tulisan “Marhaban Yaa Ramadhan” bertebaran indah dimana-mana. Tadi malam shalat tarawih perdana berlangsung semarak di berbagai masjid dan surau. Bacaan Alquran dilantunkan dalam majelis tadarus dimana-mana. Suasana keseharian di tempat-tempat umum berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ada kewajiban bagi orang yang berpuasa untuk menjaga kata, mata, telinga, juga hati. Agar tidak berpuasa sekadar memperoleh lapar dan dahaga.

Umat Islam memasuki bulan suci Ramadhan. Suasana lahiriah itu sesungguhnya dan seharusnya adalah cerminan hati. Bahwa semuanya dilakukan secara tulus, bukan sekadar menjalani ritualitas dan rutinitas musiman, tapi benar-benar menjadi bagian dari totalitas kepatuhan terhadap Sang Maha Pencipta.

Maka menunaikan ibadah puasa yang sebenar-benarnya bukanlah perkara ringan. Kita sedang diuji. Ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa kita mampu menghadapi ujian. Ujian lahiriah dan batiniah. Kewajiban umat Islam dalam bulan suci ini adalah menjaga kesucian dari segala godaan dan cobaan, baik yang bersifat individual maupun kolektif.

Cobaan yang mesti kita hadapi secara kolektif berkaitan dengan penyelesaian tahapan hajatan negara dan bangsa, Pemilu serentak 2019. Imbauan agar kita sabar menunggu penyelesaian penghitungan hasil pemilu sudah meluas, toh tetap saja ada yang menyoal, mencurigai, bahkan menuding pemilu tidak sah.

Ketika berada di bulan Ramadhan ini semestinya kita semua tersadar: bahwa orang berpuasa tidaklah sepantasnya larut ke dalam sikap berburuk sangka (suuzon) terhadap siapa pun dan institusi mana pun. Mari berbekal hati yang bersih dan tenang (mutmainnah) saling percaya terhadap legitimasi lembaga pemilu dan penyelenggaranya yang kita bangun dan jaga bersama.

Pemilu memang penting, tapi bukan segalanya. Tidak harus menghilangkan hal-hal yang lebih esensial, yakni nilai keberagamaan kita, juga akal sehat dalam kehidupan. Bulan Ramadhan juga menjadi momentum bagi kita untuk bermuhasabah, apa yang layak dan tidak layak untuk dilakukan. Dalam konteks berbaik sangka (husnuzon) bagi orang yang berpuasa, maka semestinya kita hentikan hiruk pikuk saling tuding dan mengolok-olok, sikap distrust terhadap sesama komponen bangsa. Jaga hati dan jaga kata adalah pilihan untuk mewujudkan Ramadhan yang bermakna.

Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mewujudkan kehidupan yang harmonis, saling menghormati dan menyayangi, bukanbsaling menista dan mencaci. Sangat disayangkan jika kita melewatkan nonentum Ranadhan yang mubarakah ini.
Salam Ramadhan.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close