Opini

Protes Cerdas Mantan Isteri Seorang Pujangga

One Day One Hikmah (8)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

Betapa gembira hati Mu‘awiyah bin Abu Sufyan hari itu.

Tentu saja gembira. Kala itu, seorang sastrawan besar dan pujangga kondang, Abu Al-Aswad Al-Du’ali, berkenan datang ke istananya. Di Damaskus, Suriah. Pendiri Dinasti Umawiyah itu pun menyambut sang pujangga. Dengan penuh takzim dan penghormatan. Dan, beberapa lama kemudian, seorang ibu memohon diizinkan untuk juga menghadap. Penguasa yang terkenal ramah dan santun itupun mengizinkan ibu itu untuk menghadap kepadanya.

“Ibu. Ada keperluan apa Ibu menghadap ke sini?” tanya sang penguasa. Ketika perempuan itu telah menghadap.

“Amir Al-Mukminin,” jawab perempuan itu. Dengan suara lirih seraya melirik ke arah sang pujangga. “Saat ini, saya sedang menghadapi masalah pelik.  Malah, sangat pelik. Sehingga, membuat jalan terasa sangat sempit dan rumit bagi saya. Hal itulah yang mendorong saya menapakkan kaki ke sini. Menghadap Amir Al-Mukminin. Saya merasa, jalan keluarnya kian tertutup oleh masalah yang berat sekali untuk saya kemukakan di hadapan khalayak ramai. Karena itu, berilah saya keadilan dalam perselisihan ini. Saya berlindung, dengan kekuatan-Nya, dari keburukan yang datang bertubi. Juga, masalah besar yang menimpa mantan isteri seorang suami. Yang tak tahu diri!”

“Siapakah suamimu, Ibu?” tanya sang penguasa. Dengan nada ramah, santun, dan penuh rasa ingin tahu.

“Abu Al-Aswad Al-Du’ali!” sahut cepat perempuan itu. Dengan nada suara agak melengking.

Betapa kaget Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Mendengar jawaban itu. Sejenak, penguasa itu kebingungan. Dan, beberapa saat kemudian, ia berpaling ke arah sang pujangga. Lalu, ia bertanya dengan penasaran, tapi tetap dengan sikap takzim, “Pujangga yang saya kagumi dan hormati. Bagaimana pendapatmu, perihal perempuan ini?”

“Amir Al-Mukminin,” jawab sang pujangga. Salah tingkah seraya mengatur nada bicaranya dan posisi duduknya, “Sebagian yang ia katakan adalah benar adanya. Tidak dapat ditolak oleh siapa pun. Sedangkan tentang perceraian yang ia kemukakan, dengan sejujurnya saya katakan, itu adalah hak saya.”

“Abu Al-Aswad Al-Du’ali. Apa sejatinya yang mendorong dirimu menceraikan istrimu?” tanya lebih lanjut Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Kian penasaran.

“Demi Allah, Amir Al-Mukminin,” jawab sang pujangga. Dengan suara lirih. “Saya menceraikannya bukan karena adanya alasan praduga yang muncul. Bukan pula karena keretakan yang timbul. Tetapi, karena saya tak menyukai lakunya. Akibatnya, terurailah hubungan erat saya. Dengannya!”

“Laku apakah yang tak engkau sukai pada diri perempuan itu, pujangga?” cecar lebih jauh Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Terhadap pujangga yang sebelumnya sangat ia kagumi itu.

“Amir Al-Mukminin,” sahut sang pujangga. Dengan perasaan tak senang dan sangat enggan. “Sungguh, Anda telah mendorong saya. Untuk memberikan jawaban tegas dan kata keras.”

“Engkau harus berbicara dengannya, pujangga. Jawablah kata-katanya. Supaya saya kuasa mencermati kebenarannya,” ucap sang orang nomor satu Dinasti Umawiyah itu.

“Amir Al-Mukminin,” jawab sang pujangga. Tak kuasa menolak permintaan sang penguasa. “Ia adalah seorang perempuan yang acap berbicara lantang. Senantiasa membangkang. Terhadap keluarga saya ia acap bersikap lancang. Juga, ia suka menyakiti suaminya. Bertindak buruk terhadap jirannya. Gemar menyingkap aib dan keburukan keluarga. Manakala melihat kebaikan, ia sembunyikannya. Sebaliknya, manakala melihat keburukan, ia tebarkannya.”

“Demi Allah, Amir Al-Mukminin!” sergah perempuan itu. Dengan nada suara penuh kegeraman dan ketidaksenangan. “Andai bukan karena kedudukanmu dan kehadiran para pemuka kaum Muslim, tentu saya akan menjawab perkataannya. Dengan ungkapan sangat tajam. Laksana pedang yang akan mematahkan setiap anak panahnya yang sangat menyakitkan itu. Ini, walau tak layak bagi seorang perempuan merdeka mencerca mantan suaminya. Juga, tak patut mengungkapkan kedunguannya. Kepada orang lain!”

Mendengar jawaban perempuan tersebut, Mu‘awiyah bin Abu Sufyan pun meminta kepada perempuan itu supaya tak segan mengemukakan segala sesuatu yang ada di benaknya. Supaya segala sesuatunya menjadi gamblang.

“Amir Mukminin!” ucap perempuan itu penuh semangat. Merasa sang penguasa mendukungnya. “Yang saya tahu, ia adalah seorang pria yang senantiasa meminta. Maunya menang sendiri dan pelit luar biasa. Manakala berkata, ia berucap dengan keindahan kata yang paling tak tertata. Manakala diam seribu bahasa, ia sarat dengan dendam luar biasa. Sejatinya, ia adalah singa saat tanpa daya dan serigala saat tanpa punya wibawa. Juga, sejatinya, ia adalah orang sangat pelit tak terkira. Manakala kedermawanannya diungkapkan, tentu ia bakal cemberut karena tahu ia hanya sedikit memberi kepada sesama. Tamu-tamunya kini kian menghindarinya. Jiran-jirannya kian menjauh darinya, karena ia tak hendak memelihara tetanggga. Juga, tak memelihara kerukunan dengan mereka. Yang hina di antara mereka, baginya, justru orang-orang yang menghormatinya!”

Subhânallâh (Mahasuci Allah)!” seru Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Mendengar ucapan penuh semangat perempuan itu. “Betapa indah ucapanmu, Ibu.”

“Kiranya Allah melimpahkan kebaikan kepadamu, Amir Al-Mukminin,” sergah sang pujangga. Merasa sangat gerah dan gelisah begitu mendengar jawaban perempuan yang mantan istrinya itu. “Adakah perempuan yang lebih banyak cakapnya ketimbang perempuan yang diceraikan?”

Mendengar jawaban sang pujangga yang demikian, perempuan itu kemudian memohon diri. Beberapa lama. Ia mengatakan, akan segera kembali menghadap.

Benar saja, tak lama kemudian perempuan itu muncul kembali. Dengan menggendong seorang bocah. Melihat bocah lucu yang berada di gendongan ibunya, sang pujangga tiba-tiba berdiri dan mendekati perempuan itu. Untuk merebut bocah itu. Tentu, perempuan itu tak ingin menyerahkan bocah yang digendongnya, seraya berucap kepada sang penguasa, “Amir Al-Mukminin! Ini adalah putera dan buah hati saya. Dulu, baginya, perut saya adalah kandungannya. Asuhan saya adalah halaman baginya. Payudara saya adalah gizi baginya. Saya senantiasa segera mengambilnya manakala ia terjaga dari tidur nyenyaknya. Selama ia tumbuh, saya pula yang senantiasa menjaganya. Selama beberapa tahun, senantiasa demikian adanya. Kini, selepas putera saya ini saya sapih dan tumbuh dengan baik, ayahnya hendak mengambilnya dari tangan saya dan menjauhkannya dari saya? Demi Allah, bertindak adillah terhadap diri saya, Amir Al-Mukminin!”

“Pujangga,” ucap Mu‘awiyah bin Abu Sufyan kepada sang pujangga. “Engkau telah mendengar sendiri kata-katanya. Apa jawabmu?”

“Apa yang ia kemukakan memang benar adanya, Amir Al-Mukminin,” jawab sang pujangga yang masih merasa punya kuasa atas puteranya. “Namun, sayalah yang mengandung putera saya ini. Sebelum perempuan itu mengandungnya. Saya pula yang melahirkannya. Sebelum putera saya lahir di dunia. Kini, saya ingin mengajarkan ilmu pengetahuan kepadanya. Juga, menanamkan hikmah kepadanya.”

“Apa yang ia katakan memang benar adanya, Amir Al-Mukminin!” sahut perempuan itu. Dengan nada suara sangat sengit dan garang. “Namun, ia mengandungnya tanpa beban apa-apa. Sedangkan saya berat mengandungnya. Berbulan-bulan lamanya. Benar pula ia yang melahirkannya. Tetapi, ia melahirkannya dengan birahi luar biasa. Sedangkan saya melahirkannya dengan menahan rasa sakit. Tak terkira!”

Betapa kagum Mu‘awiyah bin Abu Sufyan mendengar kepetahan bicara perempuan itu. Akhirnya, ia pun berucap kepada sang pujangga, “Abu Al-Aswad Al-Du’ali! Ia lebih berhak atas anak itu ketimbang engkau!”

*Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close