Breaking NewsFeaturesTokoh

Mengenal Lebih Dekat Diaz Hendropriyono, Staf Khusus Presiden Jokowi

JAKARTA (SenayanPost.Com) – Diaz Hendropriyono adalah seorang politikus muda asal Jakarta. Ia adalah anak ketiga dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) era Presiden Megawati, Prof. Dr. Jenderal TNI (Purn) H. Abdullah Makhmud Hendropriyono (AM Hendropriyono).

Saat ini, Diaz diberi amanah dari Presiden Joko Widodo sebagai Staf Khusus Kepresidenan Bidang Sosial. Pria muda kelahiran Jakarta, 25 September 1978, itu juga menjabat Komisaris PT Telkomsel, Tbk sejak Januari 2015.

Pada Mei 2015, Menpora Imam Nachrawi menunjuk Diaz Hendropriyono sebagai anggota Tim Transisi PSSI yang saat ini sudah dibubarkan. Sebelumnya, pada November 2014, Diaz dipercaya sebagai Staf Khusus Bidang Intelijen Menteri Politik Hukum dan Keamanan saat dijabat Tedjo Edhy Purdijatno.

Banyak tudingan yang dialamatkan padanya, mulai dari numpang tenar nama sang ayahanda sampai perannya sebagai relawan Presiden Jokowi saat Pilpres 2014 silam. Tapi Diaz mengaku telah kebal dari berbagai tudingan miring yang tertuju pada dirinya. Ia menganggap tudingan miring itu akan hilang dengan sendirinya jika memang orang yang dipilih itu mempunyai kapasitas dan kapabilitas. Apalagi nanti jika memang secara internal mengakui bahwa orang-orang yang dipilih itu mempunyai kontribusi yang besar kepada perusahaan.

Penyandang title Master of Public Administration yang diraihnya di Virginia Tech, USA, ini memulai karirnya di sebuah majalah mingguan di Jakarta. Pengalaman di media itulah yang membuatnya lihai menuangkan pikirannya menjadi jurnal. Puluhan tulisannya telah diterbitkan di berbagai media di tanah air.

Berbagai profesi lain pernah ia tekuni. Sebut saja, antara lain: asisten penjualan PT KIA Otomotif Indonesia, Direktur PT Ulam Sari Samudra, staf di perusahaan konsultan Johnston & Associates di Washington DC Amerika, peneliti pada lembaga riset RAND Corporation, Direktur Pengembangan Bisnis PT Benua Etam Coal, dan Direktur Operasi PT Andalusia Andrawina.

Saat berada di Washington, DC, Diaz sempat bekerja sebagai analis di sebuah perusahaan konsultan politik (lobbying firm), yang dipimpin oleh mantan Senator Bennett L. Johnston, dan sebagai research associate di sebuah “think tank” RAND Corporation.

Karir pemuda ini dimulai saat dirinya aktif mendukung Joko Widodo dalam masa kampanye pemilihan Presiden RI tahun 2014 silam. Diaz merupakan ketua umum “Kawan Jokowi”.

Ia pernah menjabat sebagai Anggota Dewan Analis Strategis di Badan Intelijen Negara (BIN), dan pernah berkerja sebagai Staf Khusus bidang Intelijen di Kemenko Polhukam.

Apakah ia mengikuti jejak sang ayahanda di dunia intelijen? Ternyata tidak. Berbeda dengan sang ayahanda, Diaz memilih tidak menekuni dunia intelijen.

“Saya pernah bekerja di BIN, tapi bukan jabatan struktural. Saya tidak pernah diajari mengenai intelijen oleh ayah saya. Memegang pisau saja saya takut,” imbuh alumnus Lemhannas 2013 itu.

Disinggung mengenai tugasnya di Telkomsel, Diaz mengaku diberikan tugas oleh Menteri BUMN Rini Soewandi untuk menjaga kepentingan negara.

“Ini untuk menjaga kepentingan negara. Meski perusahaan sudah sehat, jangan sampai terlena di zona nyaman. Tentunya kita harus tahu bahwa kompetitor bisa bergerak ke mana saja dan bisa melakukan apa saja,” terang kandidat Doktor (Ph.D) bidang Administrasi Negara di Center of Public Administration and Policy (Virginia Tech, USA) itu.

Ditegaskannya bahwa kondisi Telkomsel sangat sehat. Revenue PT Telkomsel terus meningkat dan laba bersih yang diraih pun melesat dari tahun ke tahun. Menurutnya, yang perlu diawasi dari Telkomsel adalah bagaimana tidak selalu merasa aman di zona nyaman. Harus ada inovasi yang dilakukan seiring perkembangan zaman. (AF)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close