Internasional

Profesor Rusia ini Menyesal Bunuh dan Mutilasi Kekasih Sekaligus Mahasiswinya

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Profesor sejarah asal Rusia, Oleg Sokolov, menyesali tindakan pembunuhan terhadap seorang mahasiswi sekaligus kekasihnya, Anastasia Yeshchenko (24) saat menjalani persidangan di St. Petersburg, Senin (11/11). Sokolov mengaku telah membunuh dan memutilasi Yeshchenko.

“Saya sangat menyesal [atas pembunuhan tersebut]. Saya menganggapnya sebagai seorang kekasih dan bercerita kepada teman-teman saya bahwa saya akan menikahinya,” kata Sokolov sambil menangis sebagaimana dikutip CNN.

Ia kemudian bercerita bahwa keduanya memiliki hubungan khusus dan telah tinggal bersama di apartemen milik Sokolov selama lima tahun.

AFP melaporkan, ia mengungkapkan bahwa sebelum kejadian pembunuhan, ia dan sang kekasih sempat adu mulut terkait anak-anak dari hasil pernikahannya terdahulu. Ia mengklaim kekasihnya marah ketika menyebut mereka dan menyerangnya dengan sebuah pisau.

Setelah persidangan, hakim langsung memerintahkan Sokolov untuk ditahan selama dua bulan di sebuah pusat penahanan pra-sidang di Kresty.

Sokolov ditahan setelah dituduh membunuh dan memutilasi kepala, lengan, dan kaki Yeshchenko. Ia ditemukan mengapung di Sungai Moika dan diduga berada dalam keadaan mabuk sambil kedapatan membawa ransel berisi sepasang potongan lengan.

Petugas yang melakukan upaya pencarian kemudian menemukan potongan tubuh lainnya dari korban yang berada di dalam sungai dan beberapa potongan tubuh berada di dalam apartemen milik Sokolov di pinggir sungai.

Penyidik menduga upaya yang dilakukan di sungai itu untuk membuang mayat korban dan aksi bunuh diri di Benteng Peter dan Paul dengan berpakaian sebagai Napoleon.

Kasus itu menarik perhatian masyarakat karena dikaitkan dengan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap perempuan, terutama di lingkungan pendidikan.

Para pengamat beranggapan Sokolov memiliki riwayat perilaku yang tidak menentu serta beredar beberapa laporan kekerasan terhadap beberapa mahasiswi.

Salah satu kasus kekerasan yang melibatkan Sokolov terjadi pada 2008 saat ia mengancam akan memukul, membakar dengan besi panas, dan membunuh salah seorang mahasiswanya.

Kekerasan itu memicu kemarahan masyarakat hingga memunculkan sebuah petisi yang telah ditandatangani oleh 30 ribu orang.

Petisi tersebut mendesak penyelidikan di dalam manajemen internal Universitas Negeri St. Petersbrug terkait perlakuan Soklov dan tindakan kampus yang mengabaikan penindakan terhadap masalah kekerasan tersebut.

“Tidak ada orang yang memerhatikan,” kata Ivan Pustovoit, seorang mahasiswa kepada AFP. Ia juga menyalahkan pihak kampus yang dianggap lamban menindak kasus yang membelit Sokolov.

Pihak kampus kemudian merilis pernyataan dan memastikan akan memecat Sokolov. (AR)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close