Prof. Dr. KH. Moch. Tolchah Mansoer, SH, Kiayi NU Pakar Tata Negara

Prof. Dr. KH. Moch. Tolchah Mansoer, SH, Kiayi NU Pakar Tata Negara
Prof.Dr.Syihabuddin Qalyubi, Lc., M.A

Bertepatan dengan Hari Santri, 34 tahun lalu Prof. Dr. KH. Moc. Tolchah Mansoer, SH wafat. Beliau adalah putra K. H. Mansur, seorang ulama dan pedagang kecil di kota Malang. Lahir di kota tersebut pada tanggal 10 September 1930. Pendidikan pertamanya di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Jagalan Malang (1937-1945), kemudian melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah di tempat  yang sama.

Setelah lulus Taman Dewasa, beliau melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Karena banyak aktif di berbagai organisasi dan kegiatan di masyarakat, kuliahnya tidak berjalan lancar. Pada tahun 1953, Moch. Tolchah Mansoer berhenti kuliahnya untuk sementara waktu dan pada tahun 1959 beliau kembali ke bangku kuliah. Semangatnya untuk belajar tidak pernah surut, walaupun telah menikah beliau tetap berusaha untuk menyelesaikan studinya. Pada tahun 1964, akhirnya beliau bisa meneyelesaikan studinya dengan gelar Sarjana Hukum.

Dalam waktu yang relatif singkat, untuk ukuran kala itu, yaitu hanya lima tahun beliau berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pembahasan Beberapa Aspek Tentang Kekuasaan-kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia (17 Desember 1969). Dengan Promotor Prof. Abdul Gaffar Pringgodigdo, S.H, beliau berhasil meraih gelar Doktor dalam Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada.

Moch. Tolchah Mansoer dikenal sebagai seorang akademisi ahli Hukum Tata Negara, politisi, aktivis, organisator, dan pendiri IPNU (Ikatan Pelajar Nadhatul Ulama). Beliau adalah dosen di IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di samping itu beliau mengajar di IKIP Yogyakarta, IAIN (UIN) Sunan Ampel Surabaya dan Akademi Militer di Magelang. Adapun jabatan yang pernah didudukinya Direktur Akademi Administrasi Niaga Negeri (1965-1975), Rektor Universitas Hasyim Asy’ari, Jombang (1970-1983), Rektor Perguruan Tinggi Imam Puro, Purworejo (1975-1983), Dekan Fak. Hukum Islam di Universitas Nahdlatul Ulama’ (UNU) di Surakarta dan Rais Syuriyah PBNU periode 1984-1986. Pernah pula menjabat sebagai anggota Badan Pemerintah Harian (BPH) DIY.

Di kesehariannya Moch. Tolchah Mansoer mengisi pengajian di masjid-masjid dan mushalla-mushalla. Di kediamannnya yang mungil di kompleks Colombo Jogja beliau mengaji kitab-kitab kuning seperti ar-Risalah karya Imam Asy-Syafii yang diikuti oleh para dosen dan mahasiswa senior. Yang menarik dari cara pengajiannya adalah beliau membaca teks kitab itu, lalu para santri yang para dosen itu mengomentarinya, atau sebaliknya salah seorang santri baca teks kitab lalu beliau yang menjelaskan dan mengomentarinya.

Untuk kalangan mahasiswa beliau mengajar kitab Alfiyah Ibnu Malik, yaitu gramatika Arab yang disusun secara puitis dan bahasa Inggris. Semua pengajian dan pembelajarannya itu dilaksanakannya secara tulus ikhlas tanpa imbalan sedikitpun. Yang paling menarik perhatian saya sebagai salah seorang santrinya yaitu ketika dokter, berdasar hasil diagnosisnya, bahwa usianya tidak akan lebih dari enam bulan. Waktu itu beliau tidak menjadi surut dalam kegiatannya, malahan mengisi pengajian di mana-mana. Sehingga ada salah seorang santri bertanya:

“Kenapa kiyai tidak istirahat saja?”. 
Beliau menjawab:” Jika memang saya sudah diprediksi umur saya tidak lebih dari 6 bulan lagi, kenapa tidak saya gunakan waktu ini beribadah dan beramal yang bermanfaat untuk sesama.”

Semoga almarhum mendapat maghfirah Allah SWT. dan para generasi penerus bisa melanjutkan perjuangannya. Āmīn.

_*Prof.Dr.Syihabuddin Qalyubi, Lc., M.A
Alumni Pesantren Colombo Jogjakarta._