Prof. Dr. Hidayat Syarif, Pejuang Gizi dan Pendidikan yang Luar Biasa

Prof. Dr. Hidayat Syarif, Pejuang Gizi dan Pendidikan yang Luar Biasa
Hidayat Syarif

Oleh Fachry Ali

BARU ta’ziah Prof. Doktor Hidayat Syarif yang diorganisasikan Amich Alhumami, salah satu direktur di Bappenas. 

Saya kenal Kang Dayat —demikian kami para yunior memanggilnya— melalui adiknya, Asep, kini Prof. Doktor dan Rektor Universitas Al-Azhar.  Lalu, semakin kenal karena Kang Dayat adalah senior kami di Himpunan Magasiswa Islam (HMI). Pada 1995-97, bersama Didin Damanhuri, Bahtiar Effendy, Umar Juoro dan lainnya, sebagai Deputi Ketua Bappenas, Kang Dayat acap mengundang saya mendiskusikan pembangunan sumberdaya manusia (SDM) di Bappenas. Dan, untuk sementara, pengetahuan saya tentang Kang Dayat hanya sampai di situ.

Tapi, testimoni yang disampaikan malam ini, 30 Juli 2021, menguak pengetahuan saya tentang sepak terjangnya.

Walau termasuk pemberi testimoni lebih akhir, apa yang diceritakan perempuan muda di dalam gambar di bawah, bisa menjadi awal narasi ini. Dengan terisak, perempuan muda lulusan IPB, bercerita bagaimana Kang Dayat menghampirinya dan berkata: ‘Kalau kamu mau berbakti pada bangsa, maka Bappenas tempatnya.’ Kalimat yang tampak ‘menekan’ ini lahir dalam situasi perempuan muda tersebut telah diterima bekerja di sebuah lembaga internasional. Urusan yang tersisa hanya soal negosiasi jumlah gaji. 

Panggilan ‘pengabdian’ demi bangsa ini yang mengurungkan niat perempuan muda lulusan IPB ini masuk dalam arus ‘braindrain’. Pada konteks pengabdian kepada bangsa inilah Kang Dayat sangat patut dicatat. 

Lulus dari IPB, rektor Andi Hakim Nasution mengirim Kang Hidayat belajar ilmu gizi di sebuah perguruan tinggi di North Corolina, Amerika Serikat. Pulang dari sana, Kang Dayat, mengembangkan ilmunya di IPB: Gizi dan Kesejahteraan Keluarga. Ini berkembang menjadi fakultas tersendiri. Proses inilah, antara lain, yang mengaitkannya dengan Bappenas. 

Terutama setelah membaca tulisan Bustanul Arifin, juga lukusan IPB, tentang peranan nutrisi dalam pembangunan, baru-baru ini, saya menyadari betapa strategisnya posisi Kang Dayat bagi bangsa. Suksesnya membangun studi gizi di IPB menjadi lebih bertenaga ketika Kang Dayat menjadi direktur pengembangan SDM dan Pendidikan serta Agama di Bappenas. 

Dengan otoritas teknokratik dan wewenang perencanaan pembangunan di bawah Bappenas, Kang Dayat meletakkan dasar-dasar pembangunan manusia berintikan program perbaikan gizi. Perbaikan gizi, bukan saja melahirkan badan yang sehat bagi rakyat kebanyakan, melainkan peningkatan kecerdasan anak-anak bangsa. Di sini, sebagaimana kebijakan itu tetap berlangsung hingga kini, Kang Dayat telah meletakkan dasar-dasar teknikal pembangunan manusia berbasis nutrisi yang ‘cukup’.

Tapi, cerita tidak berhenti di sini. Kesaksian Husni Rahim, mengungkapkan bahwa dengan wewenangnya di Bappenas, Kang Dayat  berhasil menggolkan konsep dana pendidikan bagi sekolah-sekolah dan perguruan-perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama. 

Di bawah payung  Ginandjar Kartasasmita (Ketua Bappenas) dan Malik Fadjar (Menteri Pendidiian) dan dibantu oleh DPR (dalam testimoni diwakili Ferry Mursidan Baldan), Kang Dayat berhasil menggolkan konsep ‘dana pendidikan’ bagi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi agama’ harus diambil dari dana APBN yang dialokasikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Bukan dari anggaran Kementerian Agama. 

Sejak itulah dana bagi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi agama menjadi lebih berimbang dan memadai. Di sini, pengalaman Kang Dayat sebagai aktivis mahasiswa dan kemampuan teknokratisnya menyatu dengan produktif. Gabungan keduanya ini pula yang menyebabkan negosiasi diplomatisnya menjadi efektif dalam meyakinkan badan-badan keuangan dunia dan regional untuk membantu lembaga-lembaga pendidikan agama di Indonesia. 

Sebuah langkah tak berpreseden. Itulah sebabnya, Husni Rahim —patnernya dari Kementerian Agama— menyebut bahwa ‘dividen’ Kang Dayat sangat cukup untuk menempuh hidup di akhirat.

Akhirat? Dalam konteks terakhir ini saya terkesima dengan cucu perempuan Kang Dayat, yg melantunkan ayat Al-Qur’an, sebagai pembuka acara ta’ziah. Dalam kesempatan itu, sang cucu membaca ayat: ‘Ya ayuuhal nafsul muthamainnah. Irji’i illa rabbiki radhiyatan mardhiyyah.’ Seakan-akan melepas kepergian sang kakek, Kang Dayat, dengan penuh kehormatan dan keihlasan. (*)

Penulis adalah kolumnis