Internasional

Pria Selandia Baru Menyesal Gabung ISIS karena Urusan Syahwat

JAKARTA, SENAYANPOST.com –– Seorang lelaki asal Selandia Baru, Mark Taylor, mengaku menyesal telah bergabung dengan kelompok ISIS di Suriah lantaran tak sanggup membayar perempuan Yazidi untuk dijadikan pemuas syahwatnya.

ISIS memang kerap menangkap ribuan perempuan Yazidi untuk dijadikan budak seks. Kelompok teroris itu memandang kaum Yazidi sebagai kaum Muslim minoritas sesat dan perempuannya layak disetubuhi.

“Anda harus mengeluarkan uang US$4.000 (Rp56,5 juta) untuk bisa membeli perempuan tua setidaknya umur 50 tahun. Dan untuk membeli (perempuan) dengan usia layak setidaknya harus membayar US$10 ribu atau US$20 ribu (Rp282 juta),” ucap Taylor kepada ABC News Australia, seperti dilansir para Senin (5/3/2019).

Selama lima tahun bergabung, Taylor mengatakan dirinya terjebak dengan dua wanita yang ia nikahi. Ia mengaku kedua pernikahannya itu tidak pernah berhasil.

Dikenal sebagai “Jihadis Negeri Kiwi” di Twitter, Taylor pernah lupa mematikan fitur geo-tagging di Twitter pada 2014 lalu sehingga mengungkap lokasi keberadaan dia dan para pejuang ISIS lainnya.

Di tahun kelimanya bersama ISIS, Taylor mengatakan berusaha kabur karena merasa tak tahan dengan kehidupannya bersama kelompok pimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi itu.

Taylor mengaku sehari-hari tidak mendapat makan dan uang yang layak.

Taylor mengaku bukan pejuang ISIS tetapi orang yang ditugaskan menjaga perbatasan wilayah kelompok teroris tersebut. Dia memutuskan kabur dari ISIS pada Desember lalu dan menyerahkan diri kepada pasukan Kurdi.

Taylor mengaku pernah tiga kali dipenjara oleh ISIS, salah satunya karena insiden geo-tagging tersebut. Dia memaparkan sempat menyaksikan beberapa kali melihat algojo ISIS melakukan eksekusi dan pemenggalan.

“Mereka mengambil seorang wanita lalu di bawa keluar dari sebuah truk dan menembak kepalanya. Ada kerumunan besar yang berkumpul. Saya bertanya ‘apa yang terjadi’ tapi tidak ada yang menjawab,” kata Taylor.

Taylor adalah satu di antara beberapa warga Selandia Baru yang diduga kabur ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Meski telah bergabung dengan ISIS, dia kemungkinan akan tetap dipulangkan dan diterima sebagai warga negara Selandia Baru.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, memastikan tidak akan mencabut kewarganegaraan Taylor karena laki-laki itu tak memiliki kewarganegaraan ganda.

Berdasarkan undang-undang Selandia Baru, negara baru dapat mencabut kewarganegaraan seseorang jika yang bersangkutan memiliki dwikewarganegaraan.

Meski begitu, sejumlah pejabat Selandia Baru menuturkan kondisi Taylor yang ditahan di luar negeri dan minimnya dokumen perjalanan yang dimiliki membuat pemerintah sulit memulangkannya.

Selandia Baru juga memungkinkan Taylor menerima sanksi hukum lantaran aksinya tersebut.

“Saya minta maaf karena telah membuat banyak sekali masalah dan karena telah keras kepala. Saya tidak tahu apakah saya bisa kembali ke Selandia Baru, tetapi pada akhirnya hal itu menjadi konsekuensi yang harus saya hadapi selama sisa hidup saya,” ucap Taylor, seperti dikutip cnnindonesia. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close