FeaturesNasional

Presiden Jokowi: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertinggi di Asia

JAKARTA (SenayanPost.com) — Presiden Jokowi mengatakan, bangsa Indonesia patut bersyukur karena pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di Asia, meskipun terpengaruh perlambatan ekonomi global.
“Perekonomian Indonesia pada triwulan pertama 2016 tumbuh 4,92 persen. Bahkan, pada triwulan kedua tahun ini, pertumbuhan ekonomi nasional naik menjadi 5,18 persen,” kata Presiden dalam Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2016).
Pada pidato kenegaraan dalam rangka hari ulang tahun ke-71 Republik Indonesia itu, Presiden mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu jauh lebih besar di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia dan negara-negara berkembang.
Presiden menyatakan, 2016 merupakan Tahun Percepatan Pembangunan Nasional menyusul pembangunan infrastruktur di seluruh pelosok Tanah Air, khususnya di desa-desa, daerah-daerah pinggiran dan wilayah perbatasan guna memperkuat konektivitas nasional.
“Berbekal pencapaian transformasi fundamental ekonomi tersebut, memasuki tahun kedua, pemerintah bertekad melakukan percepatan pembangunan. Kita harus melangkah menuju Indonesia maju,” tegas Presiden.
Sinergi Atasi Kemiskinan dan Pengangguran
Presiden mengajak segenap elemen bangsa untuk bersinergi mengatasi kemiskinan, pengangguran, serta ketimpangan dan kesenjangan sosial. Ia mengingatkan, tanpa kerjasama, tanpa gotong royong, kita akan digulung oleh arus sejarah.
“Kita tidak menginginkan itu terjadi,” tegas Presiden Jokowi. 
Untuk itu, apapun bidang yang digeluti, Presiden mendorong agar menjadi yang terbaik. Ia menegaskan, dengan kerja nyata bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa pemenang, dengan kerja nyata bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa maju, menjadi bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berbudaya.
“Sekarang ini biduk kita sedang berlayar menuju ke sana. Menuju kemajuan Indonesia Raya!,” tutur Presiden Jokowi.
Tantangan Makin Berat
Sebelumnya pada awal pidatonya Presiden Jokowi mengatakan, sudah  71 tahun Indonesia merdeka, kita belum mampu memutus rantai kemiskinan, memutus rantai pengangguran, memutus rantai ketimpangan dan kesenjangan sosial.
Presiden mengemukakan, setiap Presiden Republik Indonesia telah bekerja keras, telah membanting tulang, telah berjuang untuk mengatasi tiga tantangan tersebut di masanya masing-masing, mulai dari Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, sampai masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Tantangan yang sama, juga sedang kita hadapi sekarang ini. Perbedaannya, lanjut Presiden, kita menghadapi tantangan tersebut di tengah tatanan baru dunia, di tengah era kompetisi global.
“Kompetisi tidak lagi terjadi antardaerah tetapi antarnegara, antarkawasan. Sebuah era di mana semua negara saling terhubung satu sama lain, satu masalah bisa menjadi masalah bagi negara-negara di dunia,” ujarnya.
Ia menyebutkan, sampai sekarang ekonomi global masih mengalami perlambatan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi nasional juga terpengaruh.
Sementara itu tantangan politik dan keamanan global, menurut Presiden, juga semakin berat dan semakin beragam. Fenomena pergolakan politik di Timur Tengah, misalnya, berdampak pada ketidakstabilan kawasan dan memicu perluasan aksi terorisme di dunia termasuk di Ibukota negara kita.
Presiden lantas mengingatkan peristiwa yang terjadi  pada  14 Januari 2016 di Jalan MH Thamrin, Jakarta, saat teroris mencoba menimbulkan kepanikan masyarakat. Namun mereka berhasil digagalkan.
Karena itu, Presiden mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus meneguhkan komitmen bersama mencegah dan melawan aksi terorisme. “Mari kita tegaskan bahwa tidak ada tempat untuk terorisme di Nusantara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,” pintanya.
Presiden menegaskan, kita hanya dapat membuat terobosan bagi kemajuan bangsa dan negara kalau pola pikir kita progresif, optimis, dan inovatif. Untuk itu, lanjut Presiden, pemerintah terus menjalankan proses Revolusi Karakter Mental, yaitu perubahan pola pikir dan perubahan sistem yang dimulai dari berbagai institusi pemerintahan.
Menurut Presiden, selama ini kita terkukung oleh sikap pesimis dan tidak sadar bahwa sebagian dari hambatan kemajuan Indonesia justru datang dari diri kita sendiri. Padahal Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang pernah menginspirasi negara-negara yang terjajah untuk merdeka, bangsa yang memberikan Pancasila, memberikan Trisakti, memberikan nilai-nilai gotong royong untuk dunia.
Oleh sebab itu, Presiden meminta segenap elemen bangsa agar harus percaya diri, harus yakin, bahwa kita bisa menjadi bangsa pemenang.
Pidato kenegaraan Presiden Jokowi itu dihadiri oleh Presiden ketiga RI BJ. Habibie, Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Boediono, Ketua DPR Ade Komaruddin, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Ketua DPD Irman Gusman, para pimpinan lembaga negara, para menteri Kabinet Kerja, dan para duta besar negara sahabat. (ANT/ZSR)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close