Opini

Presiden Kok Disuruh Cuti Emak-emak

SIAPA pun presidennya kalau nyalon lagi memang tidak perlu cuti. Peraturan perundang-undang jelas tidak mengharuskan petahana presiden untuk ambil cuti jika ia nyapres. Andai UU mengatur ada cuti Presiden betapa repotnya. Apalagi jika wapresnya pun ikut maju pilpres, mesti menghidupkan Triumvirat (himpunan 3 menteri) dan menggelar Sidang Istimewa MPR segala.

Demikian juga secara akal sehat menyuruh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk ambil cuti selama nyapres itu lucu sekali. Kita umpamakan kereta api dengan gerbong panjang dan banyak penumpang, agar sang penumpang selamat sampai ke tujuan ya harus jalan terus. Dengan alasan dan sebab tertentu ada gerbong yang boleh dicopot, penumpang juga bisa dikurangi. Tapi lokomotif harus jalan terus. Kalau tidak, penumpang tak akan sampai ke tujuan.

Ihwal kelangsungan presiden jelas Jokowi tidak perlu pensiun sebagai Presiden RI ketika masa kampanye nanti. Republik ini harus jalan terus sampai kapanpun. Bahkan walaupun langit akan runtuh sekali pun tidak boleh ada kekosongan jabatan Presiden.

Jadi aneh kalau emak-emak dikerahkan berunjuk rasa di KPU menuntuk Jokowi harus cuti sebagai Presiden, seperti halnya gubernur, bupati dan pejabat lainnya. Gubernur, bupati, dan pejabat lainnya itu dalam kereta Republik ini adalah gerbong-gerbong yang bisa dilepas di stasiun mana saja, tapi khusus untuk Presiden, sang lokomotif harus jalan terus.

Lagi pula lucu bin aneh kalau emak-emak berdemo kok yang dituntut Presiden Jokowi. Lucu karena pada lazimnya emak-emak itu lebih pantas mengeluh soal kenaikan harga barang-barang kebutuhan ketimbang urusan presiden harus cuti. Artinya diduga kuat mereka berdemo karena digearakkqn, bukan maunya sendiri. Diduga kuat juga yang menggerkkan ya mereka yang berseberangan dengan Capres Jokowi. Apalagi ada emak-emak yang membawa spanduk bertagar “#2019 Ganti presiden”. Jadi tak sulit mencari siapa di balik emak-emak itu.

Wajar kalau kemudian KPU tenang-tenang saja. Tak menggubris ulah emak-emak rasa kubu capres tertentu. KPU bertindak sesuai aturan main. Tidak bisa didesak-desak siapa pun yang tidak berpijak di bumi aturan main. KPU harus tetap netral.

Demikian juga kubu Jokowi-Ma’ruf. Abaikan aksi-aksi murahan emak-emak. Jalan terus. The show must go on. Anggap itu bagian dari dinamika kontestasi Pilpres, walaupun yang dilakukan emak-emak itu salah alamat dan ngawur.

Pesan penting tulisan ini. Boleh saja emak-emak direkayasa untuk demonstrasi tapi sebaikya pilih isu atau tuntutan yang masuk akal. Menghadapi gawe pilpres memerlukan kecerdasan para tim sukses. Jangan asal menegasikan apa yang dilakukan pihak lawan. Jangan pula sok kreatif tapi malah kontraproduktif. Dalam ihwal emak-emak berdemo di KPU menuntut Presiden Jokowi cuti, alih-alih tuntutannya diperhatikan, malah diketawain banyak orang.

Kasihan emak-emak.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close