Presenter TV VOA Seksi Bahasa Persia Menjadi Target Penculikan yang Gagal

Presenter TV VOA Seksi Bahasa Persia Menjadi Target Penculikan yang Gagal
Masih Alinejad

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Masih Alinejad, juru kampanye hak-hak perempuan di Iran sekaligus pemandu acara TV VOA Bahasa Persia, menceritakan bagaimana agen federal AS menyelamatkannya dari upaya penculikan yang rumit oleh otoritas Iran.

Masih Alinejad, aktivis hak asasi manusia sekaligus pembawa acara Tablet dari VOA seksi bahasa Persia, mengaku terbiasa menerima ancaman, tapi tidak seperti yang diterimanya kali itu.

“Saya tahu Republik Islam (Iran) memang punya rencana menculik saya dari New York. Saya masih tidak bisa mempercayainya. Tapi FBI kemudian memberitahu saya sekitar delapan bulan lalu bahwa saya tidak aman berada di rumah. Saya lalu bergurau tentang itu dan bilang ‘begini, saya menerima ancaman pembunuhan setiap hari',” kata Alinejad.

Menurut agen-agen federal AS, rencana rumit yang diduga dilakukan oleh agen intelijen Iran itu melibatkan penculikan Alinejad dan membawanya secara paksa ke Iran. Pada hari Selasa, Departemen Kehakiman AS secara resmi mendakwa lima warga negara Iran dengan keterlibatan dalam skema yang dituduhkan.

Abbas Milani, Direktur Studi Iran Universitas Stanford, mengatakan, “Mereka tidak pernah melakukan sesuatu seberani ini, mencoba menculik seorang warga Amerika dari AS. Tapi mereka telah melakukan hal ini di Eropa dan Uni Emirat Arab. Dan alasan mereka ingin melakukannya karena ini adalah rezim yang bertahan berkat teror, berkat rasa takut. Dan Masih Alinejad telah sangat vokal menyuarakan kritiknya atas rezim di Iran dan telah sangat efektif mencoba membuat orang-orang mengorganisir berbagai bentuk perlawanan terhadap rezim ini.”

Alinejad, yang sekarang telah menjadi warga negara AS setelah melarikan diri dari Iran pada 2009, meliput pelanggaran-pelanggaran HAM oleh pemerintah Iran dan memimpin gerakan media sosial untuk menentang hukum Iran yang mewajibkan perempuan mengenakan jilbab.

Alinejad mengatakan, “Saya memberikan platform bagi perempuan di Iran yang mengatakan tidak pada pemaksaan berjilbab, yang mengatakan bahwa di abad ke-21 kita ingin bisa masuk ke stadion olahraga. Kami ingin punya kebebasan untuk bernyanyi. Kami ingin punya kebebasan untuk menari. Kami, mereka hanya ingin punya kehidupan normal. Saya akan menyediakan platform bagi warga Iran yang menentang Republik Islam. Apakah itu bentuk kejahatan? Saya hanya melakukan pekerjaan saya. Menjadi wartawan adalah kejahatan di mata Republik Islam.”

Iran menolak laporan Departemen Kehakiman AS terkait rencana penculikan itu dan menyebutnya sebagai hal yang tidak berdasar. Tapi, menurut pakar intelijen Heather Williams, pemerintah Iran telah berusaha mengumpan atau bahkan memaksa pembangkang kembali ke negara itu.

“Pada beberapa operasi sebelumnya, mereka telah mencoba membujuk atau meyakinkan seseorang untuk kembali ke Iran, di mana mereka mungkin punya lebih banyak alat untuk memenjarakan orang ini dan kemungkinan mengeksekusi mereka. Dan tampaknya di sini beberapa taktik itu berhasil, jadi mereka lebih agresif,” ungkap Williams.

Alinejad telah menyerukan agar ada tanggapan yang sama agresifnya dari pemerintahan Biden, yang juga menghadapi upaya yang rumit untuk memulihkan kesepakatan nuklir tahun 2015.

Juru bicara Gedung Putih, Jen Psaki, mengatakan, “Kami tidak pernah menilai Iran sebagai aktor yang baik di dunia, bukan hanya dari plot penculikan warga Amerika yang tinggal di Amerika ini aja, tetapi juga aktivitas mereka di kawasan, yang sangat kami khawatirkan, dan presiden telah mengambil tindakan balasan. Tapi pada saat bersamaan, kita masih melihat Iran dalam kepentingan AS dan kepentingan nasional kami untuk terlibat dalam diskusi yang sedang berlangsung sehingga kami bisa melihat lebih baik upaya Iran untuk memperoleh senjata nuklir.”

PBB juga telah mengutuk dugaan rencana penculikan tersebut. (voaindonesia/Jo)