Prasetijo Didakwa Hilangkan Bukti Kejahatan, Perintahkan Anak Buah Bakar Surat Jalan Palsu Djoko Tjandra

Prasetijo Didakwa Hilangkan Bukti Kejahatan, Perintahkan Anak Buah Bakar Surat Jalan Palsu Djoko Tjandra
Persidangan perkara penggunaan surat jalan palsu yang menjerat Djoko Tjandra dan Brigjen Prasetijo Utomo (foto detikcom)

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Untuk mempersulit penyidikan, Brigjen Prasetijo Utomo bersama Jhony Andriyanto merusak berkas-berkas kejahatan yang dilakukan. Berkas yang dirusak itu adalah surat jalan palsu yang dibuatnya untuk Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra.

Hal ini diungkapkan dalam surat dakwaan Jaksa di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam persidangan aksus surat jalan palsu Djoko Tjandra.

"Bahwa terdakwa Prasetijo Utomo bersama Jhony Andrijanto telah melakukan, menyuruh melakukan dan turut serta melakukan, setelah dilakukan suatu kejahatan atau mempersukar penyidikan atau penuntutannya, menghancurkan, menghilangkan, menyembunyikan benda-benda terhadap mana atau dengan mana kejahatan dilakukan atau berkas kejahatan lainnya atau menariknya dari pemeriksaan yang dilakukan oleh pejabat kehakiman atau kepolisian maupun oleh orang lain, yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi menjalankan jabatan kepolisian," kata Jaksa saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (13/10/2020).

Awalnya, jaksa menjelaskan pertemuan Brigjen Prasetijo dengan Anita Dewi Kolopaking terkait pengurusan Djoko Tjandra yang ingin ke Indonesia untuk mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK). Anita meminta kepada Prasetijo untuk membantu Djoko Tjandra dalam pengurusan persyaratan untuk melalukan penerbangan di Bandara Supadio, Pontianak.

"Bahwa atas keinginan saksi Joko Soegiato Tjandra yang disampaikan melalui saksi Anita Kolopaking tersebut. Terdakwa yang mengetahui tentang status saksi Djoko Tjandra adalah seorang buron terpidana tindak pidana korupsi tetapi justru menyalahgunakan jabatannya dengan tetap menyanggupi untuk menyediakan surat jalan, surat keterangan pemeriksaan COVID-19, dan surat rekomendasi kesehatan guna penjemputan saksi Joko Soegiarto Tjandra, bahkan terdakwa ikut menjemput Joko Soegiarto Tjandar di Pontianak," ujar Jaksa.

Singkat cerita, Brigjen Prasetijo memerintahkan sejumlah pihak menyiapkan surat-surat yang dibutuhkan Djoko Tjandra tersebut. Surat-surat yang dibuat atas perintah Prasetijo itu yang digunakan sebagai persyaratan Djoko Tjandra melakukan pengurusan penerbangan.

Prasetijo memerintahkan Jhony Andriyanto mengurus penerbangan Djoko Tjandra dengan pesawat sewaan. Selain itu, Jhony diminta menyimpan semua surat jalan, surat keterangan pemeriksaan COVID, dan surat rekomendasi kesehatan baik atas nama Prasetijo, Anita, ataupun Djoko Tjandra.

"Jhony diperintahkan oleh terdakwa untuk menyimpan surat jalan, surat jalan, surat keterangan pemeriksaan COVID dan surat rekomendasi kesehatan baik atas nama terdakwa dan Jhony maupun atas nama Anita dan Joko Soegiarto Tjandra guna pengurusan administrasi penerbangan baik Bandar Udara Halim Perdanakusuma maupun Bandara Supadio, Pontianak," sebutnya.

Kemudian, jaksa mengatakan, pada Juli 2020, muncul pemberitaan terkait Djoko Tjandra masuk ke Indonesia menggunakan surat jalan palsu. Atas berita itu, Prasetijo merasa khawatir dan memerintahkan Jhony membakar semua surat-surat yang digunakan penjemputan Djoko Tjandra dari Pontianak.

"Dia mengatakan, 'Jhon.. surat-surat kemarin disimpan di mana? Dan dijawab, 'Ada sama saya, Jenderal'. Lalu terdakwa mengatakan 'bakar semua!!'," sebut jaksa.

Jaksa mengatakan Jhony kemudian membakar semua surat tersebut dan mendokumentasikan lewat handphone. Jhony kemudian datang ke kantor Prasetijo memperlihatkan foto surat-surat yang telah dibakar tersebut.

"Setelah melihat foto yang diperlihatkan oleh saksi Jhony, kemudian terdakwa mengatakan HP jangan digunakan lagi," tuturnya.

Selain itu, Prasetijo didakwa bersama Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra dan Anita Dewi Anggraeni Kolopaking memalsukan surat untuk kepentingan beberapa hal.

Atas perbuatannya, Prasetijo didakwa melanggar tiga pasal, yakni Pasal 263 ayat 1 KUHP juncto Pasal 55 Ayat 1, Pasal 426 ayat 2 KUHP juncto Pasal 64 KUHP ayat 1, dan Pasal 221 ayat 1 ke-2 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP. (ws)