KriminalLintas Daerah

Praktik Oplosan Gas Beromset Ratusan Juta di Jateng Dibongkar Polisi

SEMARANG, SENAYANPOST.com – Polisi membongkar jaringan pengoplos gas elpiji bersubsidi 3 kilogram ke non subsidi beromzet ratusan juta di wilayah Semarang, Boyolali, dan Sukoharjo. Tiga pelaku ditangkap yakni Artya Brahman (32) warga Semarang, Sugeng Sanjaya (34) warga Boyolali, Margono (33) warga Sukoharjo.

Kabid Humas Polda Jateng Kombes Agus Triadmaja mengatakan, para pelaku sudah menjalankan aksinya sejak 2018. Mereka beraksi dengan cara memindahkan isi gas subsidi ke tabung 12 dan 50 kilogram.

“Mereka modus sebelum dioplos gas 3 kilogram direbus terlebih dahulu, kemudian dipasang selang regulator dihubungkan ke tabung gas LPG 5,5 kilogram dan 12 kilogram,” kata Agus Triadmaja usai gelar perkara di Polda Jateng, Kamis (28/3/2019).

Kemudian, usai selesai memasang segel palsu untuk selanjutnya dijual dengan harga normal.

“Biasanya kalau harga normal 12 kilogram harga pasaran Rp 130 ribu. Sedangkan harga pasaran Rp 140 ribu. Mereka ini harga berani bersaing dipasaran,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan tabung gas 3 kilogram, pelaku sendiri berusaha membeli gas subsidi dengan menyambangi toko-toko sekitar.

“Dari pengakuannya beli di toko. Untuk mengoplos tabung gas subsidi ke tabung gas ukuran 12 kilogram sendiri, butuh sekitar 4 hingga 5 tabung gas. Itu pun takarannya tidak sesuai,” kata dia.

Untuk keuntungan sendiri bisa sekitar Rp 100 juta dan keuntungan bersih mencapai Rp 30 juta. “Untuk pelaku pengoplos Tabung gas di Semarang hasilnya dijual ke warung wilayah Semarang dan Kendal,” ucapnya.

Petugas kembali menangkap Margono pengoplos di wilayah Sukoharjo tepatnya di Kenteng RT 2 RW 3, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kartasuro, Rabu (20/3/2019).

“Hasil pengembangan itu berada di Sukoharjo yaitu di wilayah Boyolali dengan pelaku Sugeng Sanjaya Wates, Boyolali,” terang Agus.

Agus menjelaskan, Margono dan merupakan pelaku jaringan yang mengedarkan gas oplosan di wilayah Sukoharjo, Kartasura, Boyolali dan Surakarta.

“Ketiga pelaku dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui sudah melakukan aksinya selama satu tahun terakhir. Modusnya sama, memindahkan gas dari gas bersubsidi atau gas melon ke gas tabung 5,5 KG dan 12 Kg,” jelasnya.

Hingga saat ini jajaran Krimsus Polda Jateng masih melakukan pengembangan, terutama pada pelaku Artya Brahman yang beraksi di Semarang.

“Tentu akan kita dalami sebenarnya siapa saja, apakah ada jaringan diatasnya, kemudian siapa-siapa yang terkait dengan proses. Masih kita dalami,” ujarnya.

Direktur Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Jateng, Kombes Pol Hendra Suhartiyono mengaku modus kejahatan seperti pengoplosan gas subsidi ke non subsidi terjadi menjelang bulan ramadhan, karena ketersediaan gas dan sembako pasti akan ada seperti fluktuasi harga.

“Plus adanya ‘hilang’ di pasar. Untuk menyikapi ini, ditkrimsus polda jateng sudah mengambil langkah-langkah awal. Dari pengungkapan ini, intinya kita me warning kepada mereka yang bermain-main seperti ini, supaya tidak lagi bermain dan melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum, yang tentunya ada sanksi pidananya,” tegas Hendra.

Polisi menjerat ketiga tersangka dengan Pasal 62 ayat (1) jo pasal 8 ayat (1) huruf a dan b Undang-Undang RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 106 Undang-Undang RI No. 7 tahun 2014 tentang perdagangan dan Pasal 32 ayat (1) UU RI no. 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal, dengan total ancaman minimal 9 tahun kurungan.

“Dari ketiga pelaku ini kami menyita total 579 tabung gas LPG terbagi masing-masing tabung 3 KG, 5,5 dan 12 KG. Kita juga menyita sejumlah alat yang digunakan untuk mengoplos gas dari melon ke gas 5,5 dan 12 KG,” tutup Hendra Suhartiyono.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close