Opini

Prahara di Benua Afrika (9)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com akan memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

SEKALIPUN Taher Rasmi telah berupaya keras untuk tidur, dan ia tahu dirinya perlu tidur pulas dan benaknya perlu beristirahat, tapi hampir dua jam lamanya matanya tetap tak mau terpejam. Karena itu, ia lantas duduk dan mengarahkan pandangannya ke arah Ezzat Bilal yang sedang tidur di tempat tidur di sampingnya. Sejatinya, ia ingin mengirim sahabatnya itu ke rumahnya. Atau ke ruang kerjanya yang dilengkapi dengan berbagai perabotan dan peralatan yang lengkap. Tetapi, upayanya gagal.

Ezzet tahu, setiap saat telpon dari seberang lautan bisa masuk. Atau ada pesan atau telegram yang memerlukan jawaban segera darinya. Bagaimana pun remehnya. Karena itu, tidak boleh tidak ia harus hadir di ruangan itu. Kini, bukan saatnya untuk membuang waktu. Dengan menonton televisi atau ngerumpi dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Meski hanya satu menit sekalipun. Semua itu, kini tiada waktu lagi. Sebab, waktu bergulir kencang dan rig yang diburu bergerak tanpa henti di lautan menuju tujuannya. Malam pun bergulir terus dan suasana tenang menyelimuti segala sesuatu yang ada. Yang terdengar hanyalah desir suara AC dan angin yang menerpa pohon-pohon di luar.

Ketika Taher melihat jam tangannya, di bawah pancaran cahaya redup dari lampu di atas meja kerjanya di dekat tempat tidur, ternyata waktu telah menjelang pukul tiga pagi. Ia pun menyalakan sebatang rokok. Lalu, dengan perasaan malas dan berjingkit agar tidak membuat Ezzat terjaga, ia menuju ke jendela. Ia pun memandangi pemandangan di luar dari balik kaca. Dari pancaran cahaya biru lampu-lampu di luar tampak olehnya hujan sedang membasahi bumi. Di luar yang ada hanyalah taman kecil. Di antara tembok bangunan-bangunan besar.

Tiba-tiba dalam benak Taher membersit pikiran: ia harus segera menata kembali pikirannya. Segera, sederet pertanyaan muncul: Di manakah rig itu kini berada? Di perairan manakah rig itu sedang melaju? Andaikan badai menghajar rig itu, sehingga membuatnya tertelan lautan, akan sedih atau gembirakah ia?

Jelas, andai rig itu tenggelam di lautan, tentu ia akan merasa sedih. Sebab, hal itu akan membuat ia terhalang dari kebahagiaan melakukan sesuatu. Untuk Tanah Airnya. Tanah Air mungkin tampak kabur bagi orang-orang yang tak menggeluti realitas. Namun, bagi orang seperti dirinya, kosakata Tanah Air memiliki makna dalam yang diwarnai dengan kecintaan, keagungan, kehormatan, dan sikap pantang menyerah tanpa perasaan rendah diri!

Profesi yang diemban Taher kini memberi ia kesempatan untuk memahami Mesir dalam kenyataan sebenarnya. Tanpa ritus dan gelegak perasaan yang membara. Dengan pengetahuanya tersebut, kini, betapa ia sangat mencintai negerinya.

Ia menyadari, seorang perwira badan intelijen bagaikan seorang pilot. Betapa negerinya telah mengeluarkan biaya yang begitu besar, ratusan ribu pound, sehingga ia kini menjadi seorang perwira Badan Intelijen Mesir. Karena itu, bukankah sewajarnya bila kini ia ingin sedikit melunasi utangnya. Terhadap negerinya?

Problem utama yang dihadapi Taher kini adalah kontradiksi yang ditimbulkan operasi itu sejak saat pertama. Sebab, setiap operasi seperti yang ia laksanakan kini harus memenuhi dua unsur yang saling berjalin kelindan dan menopang satu sama lainnya. Bagaikan musik nan merdu. Tetapi, kedua unsur itu sendiri kontradiktif. Kedua unsur itu adalah keamanan dan kemampuan. Kedua unsur itu adalah inti setiap keberhasilan, senjata dalam setiap pertempuran, dan jalan yang sebenarnya menuju kemenangan.

Demikianlah yang dipelajari Taher sejak ia memutuskan bergabung dengan orang-orang yang memilih bayang-bayang. Sebagai tempat bagi kehidupan mereka. Demikian pulalah yang ia pelajari dari pengalaman, perjalanan panjang, dan konflik keras. Demi memelihara kelangsungan hidup bangsanya!

Keamanan menuntut “kerahasiaan mutlak” dan ketersembunyian luar biasa serta penyembunyian penuh segala gerak yang dapat diindra. Karena itu, 90% keberhasilan “Operasi Rig” tergantung pada ketidaktahuan Israel. Tentang apa yang dilakukan terhadap rig itu. Demikian halnya keamanan menuntut sesedikit mungkin orang yang terlibat dalam operasi itu. Anda dapat memelihara rahasia di antara dua orang. Tetapi, rahasia itu akan tak akan diketahui siapa pun bila tidak dikemukakan. Kepada siapa pun!

Jika keamanan menuntut sesedikit mungkin pelaksana, sementara itu kemampuan, baik apakah kemampuan dalam menyampaikan, kemampuan bergerak, kemampuan merencanakan, maupun kemampuan melaksanakan, menuntut sejumlah orang yang tepat jumlahnya. Jumlah yang tepat di sini bisa saja mencapai puluhan orang. Baik dari ujung paling utara dari belahan dunia hingga kawasan paling selatan yang terletak ribuan mil dari garis katulistiwa. Juga, dari ujung barat di Benua Amerika hingga ke Timur Jauh.

Bila demikian, bagaimanakah memadukan di antara unsur yang memerlukan orang yang sedikit jumlahnya dan unsur yang memerlukan orang yang banyak jumlahnya. Lagi pula, hal itu bukan satu-satunya masalah yang harus ia pecahkan. Yang paling memusingkan baginya adalah ia kini berhadapan dengan “sasaran yang bergerak”. Andai sasaran itu berada di tempat yang tetap, tentu hal itu dapat dihadapi dengan tenang dalam mengawasi, merencanakan, dan mengenali berbagai titik lemah dan kekuatannya. Dan, selanjutnya, memilih orang-orang yang tepat dan saat yang tepat.

Namun, kini Taher harus berhadapan dengan sasaran yang berjalan. Berjalan tanpa henti dan senantiasa bergerak. Sasaran yang tak berhenti kecuali bila berada di jantung perlindungan dan di balik benteng yang kukuh. Dan ketika berhenti di tengah perjalanan, sehari atau dua hari untuk membekali diri dengan apa yang diperlukannya, kemudian bergerak kembali. Karena itu, kesempatan satu-satunya adalah pada saat rig itu berhenti sementara.

Jadi, bagaimana? Apa yang mungkin terjadi andai rig itu berhenti di sebuah pelabuhan, lalu dibuat rancangan untuk memburunya, tapi ketika rancangan itu hendak dilaksanakan ternyata rig itu bergerak kembali? Di pelabuhan mana rig itu akan berlabuh? Dan di perairan mana?

Menurut perkiraan Taher, ada tiga perhentian yang mungkin disinggahi rig itu. Yaitu Dakar di Senegal, Abidjan di Pantai Gading, dan Lagos di Nigeria. Berdasarkan seluruh kemungkinan yang ada, dan berdasarkan pendapat para teknisi dan kapten di bidang pelayaran, dalam kondisi terburuk rig itu paling tak akan berhenti di dua pelabuhan di antara ketiga pelabuhan itu.

Namun, andai diasumsikan Israel telah membuat rancangan lain, dan ia berupaya berpikir dengan cara berpikir Israel, tentu mereka akan berpikir dengan cara berpikir dirinya. Seluruh upaya yang dicurahkan untuk mengetahui pelabuhan-pelabuhan yang menjadi tempat pemberhentian rig itu akan sia-sia. Malah, sampai pun van Kerck, kapten kapal tunda rig itu pun tak tahu kapalnya akan berlabuh di mana. Yang diketahui orang Belanda itu adalah kapal itu menuju ke arah Afrika Barat dan selama di tengah perjalanan ia akan menerima telegram yang berisi informasi. Tentang pelabuhan yang harus ia datangi!

Jadi, perlombaan itu tak hanya dengan waktu saja. Tetapi, juga perlombaan dengan sederet kendala. Dan, perlombaan dengan kemampuan berpikir!

Tiba-tiba pikiran Taher berhenti bergerak pada titik itu. Segera, membersit suatu pikiran. Lalu, dengan berjingkit, ia menuju meja kerjanya supaya Ezzat yang baru tertidur tidak terbangun. Ia lantas membuka peta Lautan Atlantik dan memusatkan pandangannya pada kawasan yang terletak di antara Amerika dan Eropa. Yaitu Kepulauan Azores yang berada di bawah kekuasaan Portugal dan di bawahnya sedikit-di hadapan pantai Afrika-Kepulauan Madeira yang terkenal dengan anggurnya yang berkualitas sangat bagus dan berada di bawah kekuasaan Portugal. Namun, ada suatu persoalan yang membersit dalam benaknya. Lalu ia bergumam, “Tinggal hal ini. Logiskah? Kebun nanas di kawasan dingin seperti ini?”

Taher berkali-kali bergumam dengan suara lirih. Tiba-tiba muncul jawaban dari Ezzat dengan suara keras, “Kenapa tidak. Tentu saja logis!”

Taher pun mengangkat kepalanya ke arah Ezzat. Ternyata, anak buahnya itu telah bangun dari tempat tidurnya. Dengan wajah segar dan melangkah menuju tempat membuat kopi.
“Baik bagaimana?”
“Suhu udara kebun dinaikkan!” jawab Ezzat. Seraya menyeduh kopi.
“Lalu, bagaimana?”
“Di kebun yang ditutup dengan tenda plastik besar dan suhu udara di dalamnya dinaikkan hingga mendekati suhu di kawasan katulistiwa. Lalu, mereka menanam nanas di situ!”
“Tapi, bukankah lebih murah dengan mengimpornya?”
“Ini kalau mereka akan memakannya!”
“Jadi, untuk apa mereka menanamnya?”
“Nanas itu dibuat sebagai campuran anggur Madeira.”
“Tahukah engkau apa yang membuatku risau?”

Ezzat tak menjawab. Malah, ia kian asyik menyeduh kopi. Ia yakin, Taher kini telah tiba pada inti pembicaraan.
“Ezzat! Bagaimanakah pendapatmu, apakah Fernando berhasil mendahului rig itu sebelum memasuki Kepulauan Azores?”
“Yakinkah engkau?”
“Apa maksudmu?”
“Andai rig itu berhenti di Kepulauan Azores, maka setelahnya tidak ada pelabuhan lagi selain Pelabuhan Punta Delgada di Pulau San Miguel. Ini adalah pelabuhan utama di kepulauan itu. Letak San Miguel sekitar 1000 mil saja dari Lisbon.”
“Berarti Fernando mungkin sampai ke pulau itu dalam waktu 48 jam. Dengan naik kapal.”
“Rig itu tak mungkin tiba di sana sebelum itu!”
“Tolong buatkan saya secangkir teh!” ucapnya sambil menarik napas lega.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (8)

Prahara di Benua Afrika (7)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close