Opini

Prahara di Benua Afrika (60)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

–oooaRuooo—

“NADEM! Kenapa kau tidak menungguku ketika melakukan pengamatan kedua kalinya terhadap rig itu?” tanya Pasha. Agak melengking.
“Shawkat! Aku ingin membenturkan diriku pada kenyataan yang sebenarnya!”
“Oke! Jika begitu, kapan operasi itu akan kau laksanakan?”
Nadem tak segera memberikan jawaban. Kini, yang sedang menggelegak dalam benaknya adalah semacam tindakan gila-gilaan atau imajiner.

Perbincangan di antara dua perwira Badan Intelijen Mesir itu terjadi pada Jumat pagi, 6 Maret 1970. Malam hari sebelumnya, Nadem Hashem telah mengunjungi lokasi tersebut sekali lagi. Ia tahu, saat pelaksanaan “Operasi Rig” paling tepat pada larut dini hari sebelum matahari terbit. Pada malam itu Nadem pergi ke lokasi itu disertai seorang anak muda Abidjan, bernama Mammadou.

Untuk kedua kalinya Nadem merasa bebas dari segala sesuatu. Sampai pun teman-temannya tak tahu di mana ia sedang berada. Di lokasi itu, ia meneliti setiap jengkal tanah dan mengamati dengan cermat Rig “K” yang di malam hari tampak lebih gamblang ketimbang di siang hari. Rig itu dari kejauhan tampak sedang bermandikan cahaya yang berpendar cemerlang dari segala arah.

Mahmoud Shawkat, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kini dengan resah mengawasi sejawatnya itu. Sebab, Nadem “si Hati Singa” telah keluar dari persembunyiannya. Karena itu, ia ingin tahu, apa yang sejatinya yang sedang menggelegak dalam benak sejawatnya itu.

Nadem kemudian melangkahkan kedua kakinya menuju jendela yang berada di atas jalan kawasan perdagangan yang padat. Ia sangat mengagumi pilihan Pasha, alias Mahmoud Shawkat, atas safe house yang berada di lokasi yang sulit dibayangkan. Ia lalu teringat ucapan Pasha bahwa pertemuan di tempat rahasia lebih mudah terbongkar ketimbang pertemuan di depan mata lawan. Akhirnya, ia pun berkata kepada Pasha, “Tengah malam ini Khalifa Gaudat akan tiba!”
“Tapi, bukankah kau mengatakan, kali ini Taher akan mengirim enam anggota pasukan katak?”
“Benar! Tapi, mereka akan dikirim dalam dua gelombang!” jawab Nadem. Seraya tersenyum.
“Bagaimana ceritanya, Nadem?”
“Gelombang pertama tak mungkin sampai di sini sebelum dua puluh empat jam,” ucap Nadem. Bagaikan orang yang menggenggam sesuatu yang misterius.
“Kapan kau mau menghancurkan rig itu?”

Hari berikut adalah Sabtu, 7 Maret 1970. Hari itu adalah hari perayaan penyambutan kedatangan para astronaut Amerika Serikat. Tentu, perayaan itu akan berlangsung hingga lewat tengah malam. Dengan demikian, orang-orang Isarel akan kehilangan dua pertiga para pengawal yang menjaga Rig “K”. Di samping itu, hari berikutnya adalah Minggu. Dengan kata lain, hari itu libur. Nah, jika demikian, apakah Nadem bermaksud “melancarkan serangan” dengan separuh kekuatan saja?

Persoalan yang paling pelik yang kini dihadapi oleh Nadem Hashem adalah bagaimana membawa keluar timnya selepas operasi itu dilaksanakan. Jika pembersihan lokasi itu dalam waktu yang sangat singkat dijamin akan membuat orang-orang Israel kelabakan, penelitian dan pengkajian yang dilakukan Nadem menunjukkan, membawa keluar tim itu lewat darat nyaris mustahil. Sebab, hanya ada satu jalan yang menghubungkan antara Abidjan dan Accra, ibu kota Ghana. Padahal, jarak di antara kedua kota itu sekitar delapan ratus kilometer. Tiga ratus kilometer di antaranya berada dalam negara Pantai Gading dan separuhnya merupakan jalan rusak. Dengan kata lain, keluarnya tim memerlukan waktu antara tiga sampai enam jam. Jelas, waktu sedemikian itu cukup membuat mereka tertangkap.

Selain jalan itu, ada jalur kereta api yang menghubungkan antara Abidjan dengan ibukota Volta Hulu, Ouagadougou. Jalur kereta api ini membelah Pantai Gading. Dari ujung paling selatan hingga ujung paling utara. Jelas, bila tim memakai sarana itu, mereka akan tertangkap dengan sangat mudah. Dengan demikian, tiada jalan keluar selain jalur penerbangan. Karena itu, tanpa banyak cakap, dua perwira Badan Intelijen Mesir itu pun segera memelajari gerakan penerbangan. Sejak Sabtu sore sampai 8 Maret 1970 siang.

Ternyata, rancangan kedatangan tujuh anggota pasukan katak ke Abidjan, yang digelar Taher Rasmi, begitu rumit. Dan, perkiraan Nadem benar-benar terbukti.

Pada tengah hari Jumat, Nadem dan Pasha menerima pesan dari Taher yang menyatakan, Khalifa Gaudat, komandan pasukan katak, akan tiba di Abidjan pada pertengahan malam 6/7 Maret 1970. Sedangkan tiga orang anggota katak lainnya, dengan menggunakan dua jalur penerbangan yang berbeda, akan tiba sebelum pertengahan malam 7/8 Maret. Mereka adalah sang kopral, sang kapten, dan “si Hiu”. Sementara sang anak muda yang tekun beribadah akan tiba pada fajar Minggu, 8 Maret. Dan, dua orang lainnya akan tiba pada pukul setengah sepuluh pagi hari yang sama. Mereka naik pesawat terbang milik sebuah perusahaan penerbangan Perancis.

Khalifah Gaudat tiba di Abidjan tepat waktu. Dari bandara, ia langsung menuju sebuah hotel. Namun, beberapa saat kemudian, dengan diam-diam, ia pergi menemui Nadem. Yang berada di suatu tempat yang terletak sepuluh kilometer di luar Abidjan. Begitu kedua orang itu bertemu, mereka dengan naik sebuah mobil lain segera pergi menuju lokasi ketiga.

Ketika di tengah perjalanan, Khalifa Gaudat menyerahkan selembar kertas kecil kepada Nadem. Kertas itu berisi pesan yang memerintahkan Nadem untuk tak bergerak atau bertindak sebelum memberitahu Kairo. Bagaimana pun kondisi yang ia hadapi. Setelah membaca isi pesan itu, ia lantas merobek-robek kertas itu menjadi serpihan sangat kecil dan membuangnya keluar mobil yang sedang melaju kencang.

Kemudian, di suatu lokasi tenang yang berada di ujung perbatasan Pelabuhan Abidjan, dua perwira Badan Intelijen Mesir itu mengamati dengan cermat Rig “K”. Betul-betul suatu pemandangan yang indah. Suasana yang kelam, damai, dan garang ditingkahi deru merdu ombak yang memecah di tepi pantai serta pendar bulan purnama yang menerangi perairan luas dan sarat dengan kayu-kayu gelondong yang siap diekspor membuat rig itu, yang dipayungi pancaran sinar yang berpendar cemerlang dari segala arah, membentuk pemandangan yang sangat indah.

Beberapa saat dua perwira Badan Intelijen Mesir itu duduk di atas tanah, menikmati pemandangan yang unik itu. Kemudian, dengan suara pelan tertahan, Khalifa Gaudat mengatakan kepada Nadem bahwa meski jarak lokasi itu jauh dari sasaran, namun lokasi itu bagus sekali. Dan, ketika Nadem mengatakan kepada Khalifa Gaudat bahwa sang letnan, sang kopral, dan “si Hiu” akan tiba menjelang tengah malam, Gaudat menimpali bahwa yang penting semua anggota tim tiba dulu. Ya, semua.

Mendengar komentar Khalifa Gaudat yang demikian itu, Nadem pun berpaling ke arah Khalifah Gaudat seraya bertanya, “Kenapa operasi itu tidak kita laksanakan dengan tiga orang saja?”
“Tiga alat peledak hanya mampu menghancurkan tiga tiang saja. Enam orang lebih aman!” jawab Khalifa Gaudat. Keheranan.
“Oke! Andai bahan peledak itu dipasang di bawah anjungan dan kita berhasil melepaskan diri dari rig itu, bukankah itu yang diharapkan?”
“Kenapa tidak kita pasang dua bahan peledak di bawahnya?” ucap Khalifa Gaudat. Menimpali.
Nadem tidak memahami secara tepat apa yang ingin dikatakan oleh Khalifa Gaudat. Namun, sebelum ia bertanya, Khalifa Gaudat memotongnya, “Menurutmu, apakah pelaksanaan operasi besok akan lebih baik?”
“Dari seluruh segi!”
“Bila demikian, kiranya Allah memberkahi kita!”

Malam itu, Abidjan meriah dan riuh sekali. Penyambutan terhadap para astronaut Amerika Serikat benar-benar meriah. Dan, pesta peresmian Hotel “La Foire” pun tak kalah meriah.

Pada malam itu Luna Bayern berdansa sepuas-puasnya. Bagaikan orang yang belum pernah berdansa sebelumnya. Juga, ia minum sepuas-puasnya. Seperti orang yang lama tidak minum. Tampaknya, kedatangan Zackerie dan bebas tugas dari menghimpun informasi tentang Rig “K”, di samping keterlepasannya dari beban yang mengimpit, membuat ia merasa sangat aman dan bahagia. Anehnya, malam itu ia tak melihat wartawan Maroko, Leila Masood, menghadiri pesta yang membuat ia datang jauh-jauh dari negerinya.

Pagi hari itu, Pasha dikatakan bahwa sedang sakit perut berat. Sehingga, ia harus berada di dalam kamar. Meski ia tak harus mendekam di tempat tidur. Tapi, sore harinya, Pasha ikut menghadiri pesta karena mendapat undangan dari manajemen hotel. Ia datang ke pesta itu bersama teman perempuannya, Liliane Hugo. Ia tampak gembira seperti biasanya: berdansa dan minum sepuas-puasnya.

Ketika tengah malam tiba dan pesta sampai pada puncaknya, kaki Pasha terkena kram. Sehingga, ia terpaksa duduk. Seraya menikmati rokok, ia duduk di situ: membiarkan Liliane berdansa sepuas-puasnya. Hingga tengah malam. Saat itulah ia baru kembali ke kamarnya. Memang, malam itu benar-benar malam yang luar biasa bagi para tamu Hotel “La Foire”. Botol-botol minuman keras disajikan gratis. Sehingga, para undangan menenggaknya. Sepuas-puasnya. Tapi, di sisi lain, pengamanan di seputar Pelabuhan Abidjan sangat ketat. Jauh lebih ketat ketimbang hari-hari sebelumnya. Lalu-lalang para penjaga bersenjata seakan tak pernah henti. Hingga siang menyeruak dan menampakkan senyumnya.

Demikianlah suasana Abidjan pada malam itu. Suasana hangat, meriah, dan hidup mewarnai ibu kota Pantai Gading itu. Namun, sejatinya, serentetan peristiwa sedang menggelegak. Di jantung kota itu.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (59)

Prahara di Benua Afrika (58)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close