Opini

Prahara di Benua Afrika (6)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com akan memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

SAAT itu sendiri Taher Rasmi duduk di lantai ruang kerja. Ia sedang asyik membolik-balikkan segala benda asing yang memenuhi dan berserakan di seluruh ruangan itu. Di atas meja, lantai, kursi, dan rak. Sementara itu rokok di antara kedua bibirnya tak henti-hentinya mengepulkan asap. Sedangkan tangannya tampak sibuk sekali. Sebentar-sebantar ia meletakkan ke samping segala sesuatu yang ia pegang.

Memang, sejak perwira Badan Intelijen Mesir ini pindah dari ruang kerjanya yang sebenarnya ke ruangan itu, ia nyaris tidak pernah merasakan perbedaan antara siang dan malam. Sehingga, ia pernah berkata pada dirinya sendiri bahwa pada dasarnya manusia memiliki kemampuan yang tak terbayangkan sebelumnya. Antara lain bahwa manusia mampu menyesuaikan diri dengan segala kondisi yang ada.

Taher Rasmi lantas memegang sesuatu dan menggumamkan kata-kata yang menunjukkan bahwa ia tak puas. Sementara di sudut ruangan itu berdiri Ezzat Bilal, sahabat lamanya yang terkenal sebagai “orang informasi”. Orang tak pernah meninggalkan Taher sejak ia memulai pekerjaan itu. Sejak itu, sekali pun Ezzat belum pernah pulang ke rumahnya. Juga, belum pernah keluar dari ruangan itu. Ia tidur di mana saja ia mau. Juga, selalu siap memberikan jawaban setiap kali ditanya. Memang, orang yang satu ini terkenal bagaikan komputer yang memiliki ingatan yang sangat kuat dan berpenampilan tenang bagaikan bintang film. Ia jarang berbicara kecuali bila perlu dan bila berbicara ia selalu mengucapkannya dengan pelan dan jelas.

Kini, Ezzat berdiri di depan meja berukuran sedang di samping pintu, di sudut kiri ruangan ituyang menuju ke kamar mandi. Di situ, terdapat segala sesuatu yang diperlukan seseorang yang hidup di ruangan seperti itu. Siang dan malam serta tak pernah meninggalkannya sama sekali. Di atas meja makan terdapat peralatan listrik untuk membuat teh dan kopi. Sedangkan di sudut kanan ruangan beberapa bok rokok dan beberapa karton biskuit. Dan, di sudut meja makan terdapat beberapa piring sisa makanan. Yang belum dijamah.

Sekali lagi Taher Rasmi tampak bergumam tak puas. Ezzat, yang sedang asyik membuat beberapa cangkir kopi Perancis yang digemari Taher, pun berpaling kepadanya dan tersenyum. Terpikir olehnya, untuk menanya Taher apakah ia menginginkan secangkir teh. Namun, ia khawatir pertanyaannya akan mengganggu keasyikan Taher. Karena itu, ia pun kembali ke meja makan dan mulai membuat secangkir teh. Tanpa diminta!

Segala sesuatu di ruangan itu memang tampak aneh. Di bagian paling depan terdapat meja kerja Taher Rasmi. Di atasnya tergeletak setumpuk barang-barang yang nampak seakan tidak ada kaitannya satu sama lainnya. Di atas meja itu terdapat sejumlah kotak metal tipis, sejenis yang biasanya dipakai untuk menyimpan karbon yang menghasilkan oksigen bagi para penyelam. Sedangkan di pojok meja itu terdapat sederet buku-buku besar. Yang paling atas adalah buku petunjuk tentang kapal, kapal tunda, dan yacht yang sedang mengarungi berbagai lautan dunia.

Di samping buku-buku itu terdapat sejumlah baterai dari berbagai ukuran dan merek. Di ujungnya terdapat sebuah baterai-yang dipakai para penyelam-yang masih menyala. Di dekatnya ada sebuah jam jenis khusus yang menghitung waktu pancaran baterai dan kekuatannya. Sementara di atas meja terdapat beberapa pena peledak. Baik apakah yang diset untuk tiga jam, enam jam, atau dua puluh empat jam. Sedangkan di atas lantai di samping meja itu terdapat sebuah kotak kayu bergambar tengkorak. Jelas, dari gambar itu tampak bahwa kotak itu berisi peledak. Di situ juga terdapat tali, selang karet, pipa oksigen, buletin sejumlah kedutaan asing, dan tiket-tiket berbagai perusahaan penerbangan.

Dinding ruangan itu sendirisarat dengan peta-peta dari berbagai ukuran. Yang menjelaskan secara rinci sebagian tempat di pantai barat Afrika. Sebagian peta itu memaparkan secara rinci sejumlah pelabuhan penting di dunia. Pada sisi lain dari dinding ruangan itu tergantung sebuah peta besar Lautan Atlantik. Peta yang diwarnai dengan sejumlah garis yang berpotongan, baik horizontal maupun vertikal. Garis-garis itu menjelaskan rute-rute kapal-kapal yang mengarungi lautan yang terletak di antara Benua Amerika dan Benua Afrika. Di samping peta itu terdapat sebuah peta Eropa dan Afrika. Peta itu penuh dengan garis-garis berwarna yang sangat kompleks. Tampak, semua garis itu berakhir di Kairo. Peta itu merupakan peta rinci rute perusahaan penerbangan yang menghubungkan Kairo dengan sejumlah ibukota negara-negara di Benua Afrika. Lewat Eropa, Afrika, atau Asia.

Sementara dinding di bagian depan ruangan itu penuh dengan jam-jam yang menunjukkan waktu setempat sejumlah kota di Eropa dan pelabuhan di Afrika Barat. Sedangkan di sebelah kiri ruangan itu terdapat sejumlah telpon yang tidak diketahui nomornya selain oleh segelintir orang saja. Di samping meja telpon, ada sebuah tempat tidur lipat. Di bawah bantal di atas tempat tidur itu terdapat sebuah piyama yang belum dipakai. Meski piyama itu telah berada di tempat itu lebih dari tiga minggu.

Sejak tiga minggu sebelum itu, ketika telah tampak gamblang bahwa perang terselubung itu tidak boleh tidak harus dilakukan, keluar perintah untuk menyiapkan sebuah ruangan lain bagi Taher Rasmi. Lewat perintah itu pula, perwira Badan Intelijen Mesir itu bekerja sepenuhnya. Juga, ia diperintahkan tak menyibukkan dengan sesuatu yang lain dan tak seorang pun tidak boleh mengetahui tempatnya. Ketika Taher Rasmi berpamitan dengan istrinya dan anak-anaknya, ia menyatakan bahwa akan melakukan perjalanan dinas yang memerlukan waktu sebulan atau lebih. Keluarganya telah biasa menjalani kehidupan yang demikian itu. Karena itu, mereka menerima berita itu dengan tenang-tenang saja.

Pilihan itu jatuh pada sebuah ruangan yang terletak di gedung lain yang jauhnya sekitar lima ratus meter dari ruang kerja aslinya. Dalam waktu dua puluh empat jam, ruangan itu telah siap dengan segala sesuatu yang diperlukan seseorang untuk hidup di dalamnya. Siang dan malam. Dan, tak meninggalkan ruangan itu kecuali sangat perlu sekali.

Seusai membuat secangkir teh dan menyajikannya kepada Taher, yang kini berdiri di belakang meja kerjanya dan memegang kotak metal kecil yang ia tekan dengan keras, dalam upaya untuk merusakkannya dengan kedua telapak tangannya, Ezzat pun memandangi temannya yang satu itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Tampak Taher tak tertarik sama sekali dengan kotak itu. Malah, kemudian perwira Badan Intelijen Mesir itu membuang ke tanah kotak itu dan menendangnya dengan kakinya. Berkali-kali. Seakan ia hendak melahapnya.

Taher Rasmi kemudian berpaling ke arah Ezzat dan berucap, “Ezzat! Kotak ini harus diganti! Kita harus mencari jalan pemecahannya! Jenis ini tidak ada gunanya sama sekali!”

Ezzat tetap bungkam seraya melirik sahabatnya yang sedang memandangi kotak yang penyok itu. Tetapi, segera Ezzat berkata, “Saya tahu kotak ini tak akan tahan menghadapi benturan di bawah air. Tapi, kotak ini akan dipindahkan dari satu pesawat ke pesawat yang lain. Kau tahu, perlakuan macam apa yang terjadi pada kotak semacam ini di bandara-bandara. Khususnya di negara-negara seperti negara kita ini. Andaikan kotak itu berasal dari negara yang terdapat padanya badan yang memberikan sertifikasi terhadap peralatan pasukan katak, yakinkah kau kotak itu akan penyok di bawah permukaan air?”

“Kotak! Kotak itu belum sampai!” teriak Taher.

Baru kali itulah Taher memberikan jawaban. Sementara itu Ezzat sedang memegang sebuah cangkir kopi. Dengan kedua tangannya. Untuk memanaskan dirinya. Padahal, pemanas di ruangan itu tak pernah berhenti bekerja. Siang dan malam. Taher lantas mengambil cangkir itu dari tangan Ezzat. Begitu merasakan hangatnya teh itu memasuki relung dadanya, ia merasa agak sedikit tenang. Ia lantas menyalakan rokoknya dan kembali ke tempat duduknya ketika ditanya Ezzat, “Tak jadi menelpon Nadem?”

Persoalan itulah sejatinya yang sedang memenuhi benak Taher. Sejak ia meninggalkan ruang kerja bosnya. Betapa ia ingin segera menelpon Nadem dan memintanya segera bekerja kembali. Ia pun bergumam, seakan memperingatkan dirinya sendiri, “Kedua anak lelaki Nadem sedang sakit!”

“Campak bukan penyakit yang berat!” ucap Ezzat. Santai dan memandang ringan masalah itu.

Taher tak memberikan jawaban. Ia tahu campak-di Mesir-bukan penyakit yang membahayakan. Tetapi, dari manakah orang seperti Ezzat, yang hingga kini belum menikah dan menolak menikah, tahu perasaan seorang ayah terhadap anaknya yang sedang sakit. Lagi pula Ezzat tahu, ia akan segera meminta Nadem segera bekerja. Baik apakah anaknya sakit atau tidak sakit.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (5)

Prahara di Benua Afrika (4)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close