Opini

Prahara di Benua Afrika (59)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

BEBERAPA jam selepas kedatangan Nadem Hashem di Abidjan, ia bertemu dengan Pasha di safe house. Pertemuan dua perwira Badan Intelijen Mesir itu benar-benar hangat. Pasha, dengan gayanya yang meledek, menyatakan kini Abidjan telah berubah menjadi perbentengan bersenjata. Lebih jauh ia menyatakan, ia telah meneliti Rig “K” beberapa kali, di samping meneliti Pelabuhan Abidjan. Menurutnya, pelaksanaan “Operasi Rig” di Abidjan cukup ideal, meski banyak para agen Mossad dan CIA sedang hadir di kota itu.

Dengan menggelar peta Pelabuhan Abidjan, kemudian dua perwira Badan Intelijen Mesir itu memelajari kemungkinan pelaksanaan operasi di tiga lokasi. Yang ditentukan oleh Pasha. Waktu saat itu menunjukkan pukul dua siang. Kemudian, pada pukul tiga siang, dua orang itu telah merampungkan apa yang harus mereka lakukan. Saat itu sendiri Pasha harus kembali ke hotel. Supaya kepergiannya tidak menimbulkan tanda tanya. Dua orang itu sepakat akan bertemu lagi pada malam hari.

Sepuluh menit kemudian Nadem meninggalkan safe house. Ia mengenakan kemeja berwarna putih yang agak lusuh dan beberapa kancingnya terbuka, celana biru, dan topi yang biasa dikenakan pelaut. Di samping itu, di bibir atasnya kini bertengger kumis tebal.

Di gedung di mana safe house berada ada beberapa kantor perwakilan perusahaan pelayaran. Karena itu, Nadem tidak turun dengan menggunakan lift. Tapi, ia turun lewat dua tangga. Hingga sampai ke pintu keluar. Pada setiap pintu kantor-kantor itu sejumlah pelaut dari berbagai bangsa sedang berkumpul. Mereka adalah para pelaut yang baru meninggalkan kapal mereka atau mencari pekerjaan pada kapal lain. Meski kipas angin berputar kencang, namun kantor-kantor itu penuh asap rokok. Yang mengepul dari mulut para pelaut.

Nadem pun berbaur dengan para pelaut, menyulut rokok, dan berdiri menunggu. Tak jauh dari situ ada tiga pelaut-dua dari Eropa dan seorang dari Meksiko-sedang berbincang-bincang dengan seorang pegawai kantor pelayaran. Perbincangan itu berakhir dengan janji bahwa mereka akan bertemu kembali pada hari berikut. Tujuan ia dengan tindakan tersebut adalah untuk menguji pakaian yang ia kenakan di tengah-tengah orang-orang yang mengenakan pakaian itu. Ternyata, ketika ia meninggalkan gedung itu menuju jalan umum, tidak ada di antara para pelaut yang menanyakan tentang dirinya. Karena suhu udara saat itu telah membubung tinggi, lalu lintas di jalan tak terlalu padat. Dan kurang dari setengah jam kemudian, ia telah berada di dalam tembok pelabuhan. Ia melangkah tenang, seperti orang yang tahu sepenuhnya arah yang dituju: menuju dermaga di mana Rig “K” sedang tambat.
Nadem kemudian memperlambat langkahnya dan berhenti di samping sebuah gudang. Kini, ia berada di tengah-tengah dua lokasi yang ditentukan Pasha. Kedua lokasi itu menuju ke Rig “K” yang tiang-tiangnya tampak jelas. Lokasi pertamalah yang paling ideal untuk menghancurkan rig itu. Jaraknya dari rig tak lebih dari seratus lima puluh meter. Lokasi yang kedua menghadap pintu keluar pelabuhan yang selalu sibuk pada malam hari. Jaraknya dari rig sekitar dua ratus lima meter.

Pengamatan yang dilakukan Nadem tidak memerlukan waktu lebih dari lima menit. Menurut ia, dua lokasi itulah yang paling tepat untuk menghancurkan Rig “K”. Jelas, orang-orang tak melalaikan hal itu. Dua matanya pun tak melupakan pengamanan tersembunyi yang tampak pada sejumlah pelaut yang bertebaran tempat itu dengan perhitungan yang sangat matang. Sehingga, jika seseorang berkeinginan mau mendekati dermaga, dari arah perairan, dengan mudah mereka akan menghajarnya dengan timah panas.

Nadem pun segera meninggalkan pelabuhan. Waktu saat itu menunjukkan pukul empat lebih beberapa menit. Ia kemudian menyeberangi jalan seraya melihat jam tangannya yang besar dan murah harganya. Setelah melangkah sekitar lima puluh meter, ia kemudian membelok ke kiri, menuju jalan yang di samping kanan dan kirinya bertebaran bar-bar yang biasanya banyak mewarnai kawasan pelabuhan. Di seluruh penjuru dunia. Sejenak ia menghentikan langkah dan mencopot topi yang ia kenakan. Kemudian, seraya menggaruk-garuk kepala, ia memandangi salah satu bar. Lantas, ia meneruskan langkah-langkahnya menuju bar itu dan masuk ke dalamnya. Bar itu nyaris kosong dari tamu. Yang ada di situ hanya beberapa pelaut yang sedang asyik menenggak bir. Tanpa banyak kata.

Sementara itu, di berbagai sudut bar itu, sejumlah cewek dari berbagai kebangsaan sedang duduk dengan malas-malasan dan menunggu. Memang, saat itu bukan jam kerja bagi mereka. Melihat kedatangan Nadem, seorang cewek berkulit hitam legam dan bertubuh ramping mengawasinya dengan mata nyalang. Beberapa saat kemudian, cewek itu berdiri mendekatinya seraya menyapanya, “Hallo, Jack!”

Nadem berpaling ke arah gadis itu. Sejenak kemudian, setelah menoleh ke kanan dan kiri, ia menyambut kedatangan cewek itu dan memegang dagu cewek itu seraya berkata, “Namaku Jimmy!”

Cewek itu tersenyum. Manis. Seraya menggamit tangan Nadem, cewek itu berteriak kepada seorang pelayan lelaki berkulit hitam supaya membawakan baginya satu botol minuman keras. Nadem kemudian menggandeng cewek itu menuju pintu samping. Selepas keluar dari pintu bar, ia lantas melangkahkan kedua kakinya bersama cewek itu. Menyusuri lorong panjang yang di kanan dan kirinya penuh dengan kamar-kamar yang sebagian terbuka dan sebagian lain tertutup. Kamar terakhir di lorong itu berdampingan dengan pintu belakang bar. Nadem dan cewek itu lalu memasuki kamar terakhir itu. Dan, begitu cewek itu menutup pintu kamar, ia membisiki Nadem, “Kini, gantilah bajumu!”

Kata-kata yang diucapkan cewek itu dan jawaban yang diberikan Nadem serta belaian pada dagu cewek itu sebenarnya adalah sandi yang disepakati di antara mereka berdua. Nadem segera mengganti pakaian yang ia kenakan. Ketika anak muda yang membawa minuman keras datang, Nadem kini telah mengenakan kemeja necis, dasi yang mahal harganya, dan celana berwarna coklat muda. Selepas menyisir rambutnya dan mengenakan kaca mata medis dari merk yang terkenal, ia mengambil tas berisi berkas-berkas yang berada di bawah tempat tidur.

Anak muda yang membawakan minuman keras itu pun berlalu, setelah cewek itu menerimanya lewat celah kecil di pintu kamar. Ketika lorong itu tampak sepi, Nadem pun memberikan isyarat dengan anggukan kepalanya kepada cewek itu supaya membukakan pintu baginya. Cewek manis berkulit hitam itu pun membuka pintu dan mengamati lorong. Sejenak kemudian, ia memberikan isyarat kepada Nadem seraya menarik pintu belakang bar. Tanpa suara. Nadem segera keluar dari kamar menuju luar. Ternyata, di situ telah menunggu sebuah mobil berwarna biru. Begitu Nadem masuk ke dalam, mobil itu segera meluncur cepat. Meski demikian, ia masih sempat mendengar ucapan cewek itu kepadanya, “Jangan lebih dari satu jam. Jika lebih, bayarannya lebih tinggi!”

Mobil itu, tanpa membuang banyak waktu, segera meluncur menuju lokasi ketiga. Yang terletak sekitar dua puluh dua kilometer dari pelabuhan. Karena Pelabuhan Abidjan terdiri dari sejumlah danau yang dipisahkan oleh sederet dermaga yang memanjang bagaikan jari-jari telunjuk, di kawasan tertentu dari jalan utama mobil itu harus membelok ke jalan sampai yang kondisinya kurang bagus. Jalan ini memanjang sekitar tujuh kilometer. Selanjutnya, mobil itu melewati kawasan pedesaan yang dibelah sebuah sungai kecil. Sungai itu bermuara pada kawasan yang dipilih sebagai tempat melompat menuju Rig “K”.

Ketika mobil itu melewati sebuah desa, si sopir mengatakan, nama desa itu adalah Lokodogo. Pekerjaan warga desa itu adalah mengangkut batang-batang kayu, sepanjang sungai kecil itu, menuju pelabuhan, dan menaikkan ke kapal-kapal. Kemudian, ketika mobil itu melewati desa kedua, Nadem bertanya kepada si sopir, “Warga desa ini biasanya tidur pukul berapa?”
“Dari pukul sepuluh malam hingga pukul enam pagi. Ketika lonceng gereja di dekat situ berdentang!” jawab si sopir.

Memang, ketika Nadem melihat keluar mobil, di kejauhan ia melihat menara gereja tersebut. Ia lalu mencermati kawasan itu. Tak lama kemudian mobil itu berhenti di tengah-tengah hutan dan menepi dari jalan. Sehingga, mobil itu tersembunyi di balik pepohonan. Nadem pun turun dari mobil. Lalu, dengan pelan, ia berjalan seraya mencermati segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Kemudian, ketika langkahnya hampir sampai di tepi hutan, ia melihat Rig “K” berada di depannya. Beberapa lama, dari jarak sekitar lima ratus sampai enam ratus meter, ia mencermati rig itu.

Suasana tenang seakan sedang menyergap tempat Nadem berada saat itu. Tak lama kemudian ia mendengar suara deru sebuah bus sedang melewati jalan berdebu. Di belakangnya. Ia tahu, setiap sekitar satu jam, sebuah bus lewat desa-desa itu. Jarak yang memisahkan perairan antara lokasi itu dengan Rig “K” penuh dengan kayu-kayu gelondong. Yang siap diangkut kapal-kapal ke luar negeri. Meski lokasi itu benar-benar ideal, namun jantung Nadem berdegup kencang juga. Ia kemudian melihat jam tangannya yang mahal harganya yang telah menggantikan tempat jam yang murah yang ia kenakan sebelumnya. Dan, ia segera kembali ke mobil supaya bisa sampai ke bar pada saat yang tepat.

Kemudian, pada pukul sepuluh malam 5 Maret 1970 Taher Rasmi menerima pesan dari Nadem Hashem yang meminta kepadanya supaya pasukan katak dikirim kepadanya. Secepat mungkin!

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (58)

Prahara di Benua Afrika (57)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close