Opini

Prahara di Benua Afrika (58)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

KETIKA waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, Nadem Hashem telah berada di Bandara Roma. Dengan membawa dua tas yang berisi bahan peledak. Kini, yang berada di hadapannya-sesuai dengan rancangan yang digelar- masih ada enam jam penuh sampai saat keberangkatan pesawat terbang kedua yang akan membawanya ke Paris tiba. Meski bandara Roma memiliki desain yang unik, dengan bentuknya yang memanjang, namun ia tahu ke mana harus melangkah. Kemudian, pada suatu titik, ia berhenti dan menurunkan kedua tasnya. Selepas mencermati suatu arah, ia pun merasa tenang. Tapi, ketika ia kian mencermati lingkungan di situ, ia merasa ada sesuatu di udara yang membuat hatinya tak enak.

Nadem berharap bisa lebih tenang. Tidak terhadap apa yang mungkin terjadi selama enam jam menunggu. Tapi, terhadap apa yang mungkin terjadi di Paris. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak. Meski ide sederhana, tapi ia tak ragu-ragu untuk melaksanakannya.

Selama enam jam menunggu, Nadem diperkenankan meninggalkan bandara untuk menikmati keindahan Roma. Maka, ia pun melangkahkan kedua kakinya menuju pos polisi di bandara. Ternyata, di situ ada dua polisi yang sedang piket. Dengan bahasa Perancis yang fasih, ia mengucapkan sesuatu yang tak dimengerti kedua polisi itu. Kemudian, seraya tersenyum dan dengan bahasa Italia patah-patah, ia menanya kedua polisi apakah bisa berbahasa Inggris. Salah seorang di antara kedua polisi itu menjawab, “Apakah yang dapat kami lakukan untuk Anda?”
“Saya harus menanti selama enam jam di sini. Hingga tiba saat keberangkatan pesawat terbang yang akan saya naiki ke Paris!”
Sejenak Nadem berhenti berkata. Sekali lagi polisi itu menanyakan kepadanya, apakah yang dapat dilakukan untuknya.
“Saya belum pernah ke Roma. Saya ingin sekali melihat Colosseum!”
“Apa yang menjadi kendala Anda? Bukankah Anda memiliki waktu yang cukup?”
Dengan bahasa yang sangat sopan, Nadem menunjuk kedua tas seraya berkata, “Kedua tas itu berat. Penuh dengan buku. Bolehkah saya menitipkan kedua tas itu di sini. Sekitar dua atau tiga jam, sampai saya kembali. Betapa saya ingin sekali menikmati keindahan Roma!”
Ketika polisi itu memandangi kedua tas itu, Nadem pun segera menyirnakan keraguan polisi dengan ucapnya, “Kedua tas itu hanya berisi buku-buku!”
Memang, dari celah kedua tas itu tampak sejumlah buku. Karena itu, dengan sikap acuh tak acuh, polisi itu menyuruh Nadem meletakkan kedua tas itu di pojok pos polisi itu, “Letakkan dua tas itu di pojok situ!”

Nadem pun, seraya mengucapkan terima kasih kepada kedua polisi itu, menaruh kedua tas yang berisi bahan peledak yang sangat kuat daya ledaknya di tempat yang ditunjuk polisi itu. Lantas, selama beberapa jam, Nadem menikmati keindahan Roma. Bersama seorang sahabatnya. Seperti setiap kali mengunjungi kota itu, ia pun menyempatkan diri menikmati sup Italia yang sarat dengan ikan segar. Atau sup yang di Milan dikenal dengan nama sopo de pitzi.

Nadem baru kembali ke Bandara Roma satu setengah jam menjelang keberangkatan pesawat terbang yang akan ia naiki. Tapi, sebelum meminta kembali kedua tasnya, ia mencermati tempat itu. Dan waktu selama delapan detik cukup baginya untuk mengetahui, segala sesuatu sesuai dengan yang ia harapkan. Maka, ia pun menemui kedua polisi yang jaga di situ dan mengucapkan terima kasih kepada mereka. Lantas, ia pun menuju ke dalam bandara.

Ketika pesawat terbang yang dinaiki Nadem mendarat di Charles de Gaule Airport, suhu di “Kota Cahaya” sedang melorot tajam. Beberapa derajat di bawah nol. Di kota ini, ia juga harus menanti hingga tiba saat keberangkatan pesawat terbang yang menuju Accra, Ghana lewat Dakar, Senegal. Pesawat terbang itu akan tinggal landas pukul sepuluh lewat tiga puluh menit malam. Meski selama menunggu segala sesuatu tampak berjalan lancar, namun baginya penantian itu terasa sangat lama. Ketegangan masih terasa menggelayuti benaknya, meski sudah agak mereda. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan malam, salju mulai turun deras. Dan, ketika bandara mengumumkan penundaan keberangkatan pesawat karena salju yang menumpuk, ketegangan pun mulai menggelegak kembali dalam benak Nadem.

Betapa saat itu benar-benar paling menegangkan bagi Nadem. Bukan karena ia mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Tapi, karena merasa khawatir tak dapat melaksanakan tugas negara dengan secara sempurna dan tuntas. Betapa jam demi jam ia lalui bagaikan orang yang berjalan di ujung jari-jarinya. Selepas tengah malam lewat, terdengar pengumuman tentang keberangkatan pesawat pada pukul satu malam. Kali ini, tiada petugas yang meminta setiap penumpang memeriksakan bawaan mereka sebelum naik ke pesawat. Suasana di bandara sendiri sangat tegang. Tapi, akhirnya, segala sesuatunya berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh Nadem.

Ketika berada di dalam pesawat, Nadem berupaya memejamkan kedua matanya. Tapi, sia-sia belaka. Saat ini ia membawa paspor dengan nama Zaki Metwalli Daker. Profesi yang ia sandang adalah direktur utama sebuah BUMN. Sedangkan rute yang tertera pada tiketnya adalah dari Kairo menuju Accra. Melewati Roma, Paris, Dakar, dan Abidjan.

Pesawat terbang itu mendarat di Abidjan menjelang fajar. Nadem tidak segera meninggalkan tempat duduknya. Sejumlah penumpang turun dan beberapa penumpang lain naik. Di antara penumpang yang naik dari Dakar adalah Salem Abu Foudah, pengusaha asal Suriah, disertai Suleiman Abdel Bar Mahmoud yang telah kembali dari Paris ke Dakar. Beberapa hari sebelumnya. Tapi, tak seorang pun peduli dengan kedatangan mereka dan bagaimana cara mereka. Apalagi saat itu Rig “K” telah meninggalkan Dakar dan segala urusan yang ada telah normal kembali.

Malam itu, Suleiman Abdel Bar Mahmoud menyertai bossnya melakukan perjalanan bisnis ke Abidjan. Rencananya, di ibukota Pantai Gading itu mereka akan mendatangi perwakilan sebuah perusahaan Perancis. Untuk menegosiasikan beberapa keperluan pabriknya di Dakar. Anehnya, malam itu Suleiman mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian yang dikenakan oleh Nadem. Karena saat itu larut malam dan Nadem tak beranjak sama sekali dari tempat duduknya, tak seorang pun memperhatikan kesamaan pakaian yang dikenakan oleh dua orang itu. Juga, tak memperhatikan keserupaan yang tak mungkin terjadi secara kebetulan. Sebab, keserupaan itu sampai warna dan merek pakaian.

Kemudian, setengah jam sebelum pesawat itu mendarat di Bandara Abidjan dan sinar matahari telah memancarkan senyumnya lewat jendela-jendela pesawat, Nadem berdiri dari tempat duduknya. Kemudian, ia melangkahkan kedua kakinya menuju toilet. Ada sekitar lima menit ia berada di dalamnya.

Pada saat Nadem berada di dalam toilet, pengusaha asal Suriah berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke toilet di mana Nadem sedang berada di dalamnya. Sejenak, pengusaha asal Suriah itu menunggu di depan pintu toilet. Ketika Nadem membuka pintu, lorong di pesawat ternyata agak kesempitan bagi mereka berdua. Sehingga, tubuh berdua terpaksa bersinggungan. Persinggungan dua tubuh yang singkat itu ternyata mampu membuat beralihnya paspor dan tiket dengan nama Suleiman Abdel Bar Mahmoud ke tangan Nadem. Sementara pengusaha asal Suriah menerima paspor atas nama Zaki Metwalli Daker dan tiket dari Kairo ke Accra. Atas nama orang yang sama.

Ketika pesawat terbang itu menukik di atas Abidjan, waktu saat itu telah menunjukkan menjelang pukul delapan pagi. Selama pesawat terbang itu berputar-putar di Abidjan, Nadem menyempatkan diri melihat panorama di bawah lewat jendela. Tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang. Peta kecil yang ia cermati 24 jam sebelumnya di ruang kerja Taher Rasmi, kini tampak hidup di bawahnya.

Kemudian, ketika pesawat terbang itu terbang di atas Pelabuhan Abidjan, Rig “K” tampak telah tambat di sana. Di depan kedua matanya. Kapal itu tambat berdampingan dengan kapal tunda “Allenby”, di dermaga yang mendapat pengawalan dan pengamanan sangat ketat. Nadem pun mencermati pemandangan yang ia lihat hingga benar-benar terpateri kuat di benaknya. Nasib telah memberinya kesempatan “melakukan pengamatan awal” lokasi rig itu. Pelabuhan itu tampak bagaikan peta yang sangat hidup di bawah pendar matahari Afrika yang cemerlang.

Di Bandara Abidjan tiada seorang pun penumpang yang datang dari Kairo. Di antara para penjemput yang hadir saat itu adalah utusan perusahaan Perancis. Utusan itu menjemput Salem Abu Foudah dan Suleiman Abdel Bar Mahmoud yang kini tak lain adalah Nadem Hashem. Anehnya, Nadem meninggalkan bandara tanpa membawa kedua tasnya. Yang berisi bahan peledak. Kedua tas itu malah telah meninggalkan bandara beberapa menit sebelumnya. Bersama dua penumpang lainnya. Salah seorang penumpang itu berkewarganegaraan Perancis.

Sementara kedua kopor yang berisi pakaian pasukan katak dan perlengkapan mereka meneruskan perjalanannya menuju Accra, Ghana. Di sana, kedua kopor itu oleh diambil oleh Suleiman Abdel Bar Mahmoud. Kemudian, pada hari yang sama, kedua kopor itu kembali ke Abidjan dengan naik sebuah pesawat terbang lain. Bersama seorang agen perusahaan mobil Jerman. Orang itu kerap mengunjungi bandara-bandara di kawasan Afrika Barat. Sehingga orang itu, khususnya di Abidjan, dikenal banyak orang.
Dengan demikian, ketika senja hari itu tiba, Nadem telah bersatu kembali dengan kedua kopor dan kedua tasnya. Di sebuah rumah yang aman (safe house). Kali ini, lokasi rumah itu dipilih di jantung kawasan bisnis Kota Abidjan. Yang sedang riuh menyambut kedatangan para astronaut AS.

Di Nigeria, rombongan insan perfilman Mesir benar-benar bertolak ke Port Hartcourt. Beberapa adegan diambil di kampung nelayan yang ada di sekitar kota itu. Tapi, tampak beberapa anggota rombongan itu kerap mengunjungi pelabuhan dan berbincang-bincang dengan para petugas dan pekerja di situ. Memang, mereka suka menjalin hubungan yang erat dan akrab dengan warga Nigeria. Namun, saat itu, Dalal Shawqy tampak lebih banyak menyendiri. Ada yang mengatakan, artis itu kini lebih suka menyendiri karena kecapekan kerja. Khususnya, selama hari-hari pengambilan film di ibukota Nigeria, Lagos.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (57)

Prahara di Benua Afrika (56)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close