Opini

Prahara di Benua Afrika (57)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

LEPASNYA Rig “K” dari Dakar membuat Tim “Operasi Rig” semakin bersemangat untuk memburu rig itu. Apapun kendala yang bakal mereka hadapi.

Para anggota pasukan katak yang terlibat dalam operasi itu, sejak mereka kembali dari Dakar, telah kembali ke pangkalan rahasia mereka. di atas Bukit Mokattam. Mereka berada di “tempat pengasingan” itu seraya menunggu Nadem Hashem, setiap malam, mengajak berbincang-bincang dengan mereka tentang berbagai persoalan yang terjadi di berbagai penjuru dunia. Dalam perbincangan itu, tak seorang pun di antara mereka menyebut atau bertanya tentang Rig “K”. Mereka tahu, apa tugas yang dibebankan di atas pundak mereka. Tapi, mereka belum tahu di manakah mereka bakal diperintahkan untuk me”mangsa” rig itu.

Ada satu hal baru yang melengkapi kehidupan mereka sehari-hari kini, selain olah raga yang selalu mereka lakukan setiap hari. Hal yang satu itu adalah mereka kini berbincang-bincang dengan nama-nama sandi yang telah mereka hapal di luar kepala, sejak sebelum keberangkatan mereka ke Dakar. Mereka satu sama lain saling memanggil dengan nama-nama baru tersebut. Juga, mereka kini menjadi lebih lancar dalam membincangkan kehidupan baru mereka. Malah, ada sebagian di antara mereka kini benar-benar telah terbiasa dengan dialek bahasa negara baru yang kemungkinan akan mereka tuju.

Ketika hari ketiga Maret 1970 tiba, Nadem Hashem tak muncul seperti hari-hari sebelumnya. Mereka pun merasa, saat yang mereka nantikan telah dekat. Pada malam harinya, si anak muda yang rajin beribadah melewatkan malam itu dengan shalat dan membaca Al-Quran. Hingga menjelang dini hari. Ketika saat shalat Subuh tiba, anak muda itu berdiri di ruang tengah villa dan melantunkan azan dengan suara pelan tertahan. Ketika ia menyerukan bahwa “salat lebih baik daripada tidur”, semua orang yang ada di villa itu telah bangun dan berwudhu. Beberapa saat kemudian, mereka telah berbaris di belakangnya: melaksanakan shalat sementara hati mereka khusyuk menghadap Sang Maha Pencipta.

Pada saat yang sama, Nadem Hashem sedang berpamitan dengan dua sejawatnya. Pamitan kali beda dan gaya pamitannya juga beda. Di samping dua kopor yang berisi pakaian pasukan katak dan perlengkapan mereka, ada dua handbag lain. Yang satu dijinjing oleh Nadem dan satunya lagi ia panggul. Masing-masing tas berisi bahan peledak yang memiliki daya ledak sangat tinggi. Bahan peledak itu tersembunyi di balik sejumlah buku. Kopor-kopor dan tas-tas itu diangkut ke sebuah taksi yang telah menunggu di halaman belakang gedung Badan Intelijen Mesir. Ketika waktu menunjukkan pukul lima pagi, Nadem telah rampung menikmati kopi Perancis yang disajikan Ezzat. Maka, ia pun berdiri dan menjabat tangan dua sejawatnya.

Nadem pertama-tama menjabat tangan Ezzat. Kemudian, ketika ia mengalihkan tubuhnya ke arah Taher, sejawatnya itu meneliti terakhir kali baju, celana, dasi, dan sepatu yang ia kenakan. Tawa Nadem pun berderai-derai melihat “ulah” sejawatnya yang satu itu. “Ulah” Taher baru berakhir, selepas Nadem memperlihatkan kedua kaos kaki yang ia kenakan. Sebelum melangkahkan kedua kakinya ke luar ruangan, Nadem memeluk dua sejawatnya itu. Mereka berdua, yang mengetahui risiko dan bahaya yang dihadapi oleh Nadem, tak berkata sepatah kata pun dan ganti memeluk erat Nadem.

Sejam sebelum itu Taher menerima sebuah teleks yang menyatakan bahwa Rig “K” telah meninggalkan perairan dalam di luar Pelabuhan Abidjan. Rig itu kini tambat di pelabuhan di dermaga sama yang menjadi tempat tambat kapal tunda “Allenby” setelah melepaskan diri dari kapal tunda “Jakob van Heemskerck”.

Sejak Nadem mengetahui isi teleks itu, dan membincangkan dengan Taher segala kemungkinan yang bakal terjadi, ia pun mencermati peta kecil yang dimiliki oleh Badan Intelijen Mesir tentang Pelabuhan Abidjan, Pantai Gading.

Sementara itu, pada hari-hari menjelang kedatangan para astronaut Amerika Serikat di Abidjan, tampak sangat gamblang ibu kota Pantai Gading itu sepi sama sekali dari kegiatan yang beraroma Mesir. Di kota itu tak terdapat warga Mesir, selain para diplomat Mesir dan keluarganya serta beberapa pekerja di perusahaan Mesir di sana. Mereka dapat dikenali dari nama dan sosok mereka. Gejala yang ada menunjukkan, mereka melewati hari-hari mereka seperti biasanya. Tanpa ada “suasana” baru lain yang memengaruhi kehidupan mereka.

Sejak Luna Bayern bertemu dengan Ismet Carci di lobi Hotel “La Foire”, yang saat itu akan diresmikan untuk menyambut kedatangan para astronaut Amerika Serikat, ia melewati hari-harinya sebagai seorang wartawan murni. Sebab, pada malam harinya, ia menerima sebuah pesan yang meminta ia untuk melupakan sepenuhnya Rig “K” dan mengarahkan perhatiannya pada tugas jurnalistiknya di Pantai Gading. Karena itu Luna, selepas pertemuan itu, merasa terlepas dari beban yang sangat berat.

Kebahagiaan Luna Bayern kian melambung ketika tahu Zackery akan datang. Meski dua hari telah berlalu dan Zackery belum datang, namun ia tetap menanti kedatangan pria itu. Dengan perasaan rindu yang sangat. Meski demikian, ia tak pernah melupakan gerakan mencurigakan wartawan Maroko, Leila Masood, yang setiap kali bertemu dengannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan biasa. Tapi, Luna merasa, di balik pertanyaan-pertanyaan itu terkandung bisa yang sangat mematikan.

Pada malam berikutnya, malam menjelang kedatangan para astronaut, suasana di hotel riuh sekali. Ketika bersantap malam, Luna Bayern tak terlalu bernafsu dan ingin segera beristirahat. Sehingga, hari esok ia berharap dapat bekerja penuh. Dengan tubuh segar.

Ketika Luna Bayern melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya, membuka pintu, dan menyalakan lampu, tiba-tiba sebuah tangan kuat membungkam mulutnya dan hidungnya dari belakang. Pintu kamar pun tiba-tiba tertutup. Ia berupaya memberontak. Tapi, kemudian ia merasa mengenali dan akrab dengan pemilik tangan itu. Ketika ia membalikkan tubuh, ternyata Zackerylah orang itu.

Luna Bayern, karena sangat gembira, nyaris berteriak. Tapi, begitu ia mau membuka mulutnya, segera Zackery membungkamnya kuat-kuat. Sehingga, ia nyaris tak dapat bernapas. Dan, di depan kedua matanya, tangan Zackery yang lain mengangkat secarik kertas dengan tulisan, “Jangan berbicara sepatah kata pun. Kamar ini dipasangi alat penyadap!”

Saat itulah Luna Bayern baru menyadari, kenapa anak buah Taher tak menghubunginya. Lantas, selepas keterkejutan Luna sirna, Zackery pun melepaskan tangannya dari mulut wartawan Belanda itu dan memeluknya erat-erat. Dan, malam itu, Luna mendapatkan hadiah. Atas jasa-jasa yang telah ia lakukan.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (56)

Prahara di Benua Afrika (55)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close