Opini

Prahara di Benua Afrika (56)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

FARID ZIHNY menyadari, masih banyak tugas penting dan lebih penting yang harus diselesaikan Soraya. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada sejawatnya itu dan tetap berada di ruangan seraya merenungkan persoalan yang kini sedang ia hadapi dari berbagai segi. Sebelumnya, ia diminta tak menghubungi Dalal Shawqy, kecuali bila ia memandangnya perlu. Akhirnya, ia mendapatkan dirinya di hadapan jalan yang hanya satu. Ia pun mengangkat gagang telpon dan minta disambungkan dengan Dalal.

Dengan perasaan sayang dan kasihan, Farid Zihny berkata kepada Dalal, “Ada apa, Dalal. Apa yang terjadi?”
“Aku tak tahu, Farid! Aku tak tahu!” jawab Dalal. Seraya mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.

Farid tahu sejauh mana kebanggaan Dalal terhadap harga dirinya. Karena itu, ia pun mendasarkan diri pada harga diri itu. Maka, ia pun mengambil dua cangkir kopi Mesir tanpa gula seraya bercerita tentang hutan dan binatang buas.
“Farid! Aku ingin mengemukakan kepadamu satu pertanyaan. Kuharap, kau mau menjawabnya!” ucap Dalal tiba-tiba. Langsung ke inti persoalan.
“Tanyakanlah, Dalal!”
“Siapa sejatinya Midhat Sabri itu?”
“Midhat Sabri adalah Midhat Sabri!” jawab Farid. Tegar.
“Farid!” ucap Dalal memperingatkannya.
“Hanya itulah yang dapat kukatakan!” jawab Farid. Dengan suara lirih.

Bagi Dalal, jawaban itu cukup. Itulah Dalal. Maka, ia pun tidak meneruskan pertanyaannya. Farid pun tidak memberikan jawaban lebih jauh lagi. Dalal diam karena tahu, Farid tidak mengatakan sesuatu kecuali apa yang perlu ia katakan. Dan, tiada jalan bagi selain itu. Sedangkan Farid diam, karena ia mendapatkan diam sebagai jalan keluar persoalan yang sedang ia hadapi kini.

Bagaikan orang yang merasa putus asa, Dalal berdiri dari tempat duduk. Lantas, dengan langkah-langkah gontai ia menuju jendela yang menjulur di atas satu jalan di Lagos. Kini ia menyadari, Farid tak ingin memperpanjang perbincangan tentang masalah itu, meski ia mengetahui sepenuhnya masalah itu. Ia pun mengambil keputusan untuk menanggung beban itu. Sendirian. Ya, sendirian. Lalu, ia memandangi Farid seraya bertanya, “Kenapa kau datang ke sini?!”
“Ada tugas yang harus kutangani!”
“Kenapa kau meminta aku datang ke sini?”
“Supaya aku merasa yakin tentang keadaan dirimu!”

Ketika melihat kedua mata artis itu memancarkan gelegak kemarahan, Farid melanjutkan ucapannya bak meminta maaf, “Karena aku ingin menyampaikan suatu permintaan kepadamu!”
“Apa itu?”
“Ada kemungkinan kalian akan naik sebuah kapal Mesir yang sedang bertambat di Pelabuhan Lagos. Nama kapal itu adalah “July Star”. Kapal itu akan berangkat dan dilengkapi dengan segala keperluan yang kau perlukan. Yang diminta darimu tak lebih dari melupakannya setelah kau turun dari kapal itu!”

Selepas mendengar ucapan Farid Zihny tersebut, Dalal pun menjulurkan tangannya ke arah tas tangannya. Mau berlalu. Melihat hal itu, Farid pun mendekatinya dengan sikap penuh kasih sayang, “Dalal! Kenapa kau tak bertanya tentang Rig “K”?”
“Apa jika aku menanyakannya kepadamu, kau akan memberikan jawaban kepadaku?” ucap Dalal seraya mendongakkan kepalanya. Sinis.
“Dalal!” seru Farid. Agak membentak.
“Bagaimana kabar rig itu?” tanya Dalal. Meredam suasana.
“Rig itu melarikan diri. Dari kita di Dakar!”

Dalal seakan merasa mendapat tamparan keras ketika mendengar jawaban Farid itu. Ia tampak mendongakkan kepalanya. Sedangkan kedua matanya memancarkan kemarahan yang membara. Betapa gembira Farid melihat sikap Dalal itu. Itulah Dalal yang akhirnya telah kembali lagi kepadanya.
“Melarikan diri bagaimana?”
“Tidak penting bagaimana rig itu melarikan diri. Yang penting adalah rig itu tak boleh melarikan diri lagi!”
“Bagaimana caranya?”
“Kembalilah kau menjadi Dalal Shawqy yang aku kenal. Dan, laksanakanlah sebaik-baiknya apa yang dibebankan di atas pundakmu. Itu saja!”

Ternyata, Dalal kemudian tampil sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Farid Zihny. Meski mengalami sederet derita, namun dalam hari-hari berikutnya ia tampak sangat ceria dan tampil gemilang. Sehingga orang-orang-termasuk para anggota rombongan perfilman Mesir-mengira, ia benar-benar sedang jatuh cinta. Dan, tak lama lagi ia menikah dengan Midhat Sabri. Tapi, tak seorang pun tahu, betapa saat itu keperihan dan kesedihan yang sangat sedang menghajar relung terdalam hati Dalal. Perih dan pedih sekali!

Kemudian, ketika bulan Februari bergulir terus dan lewat, dan hari pertama dan kedua bulan Maret berlalu, jejak Rig “K” belum juga terketemukan. Taher Rasmi merasa, ada sesuatu yang masih tersembunyi dalam masalah tersebut. Sebab, sepuluh hari telah berlalu sejak keberangkatan rig itu dari Dakar. Tapi, sekali pun rig itu tak pernah memasuki satu pelabuhan pun di antara sederet pelabuhan yang penuh dengan mata-mata. Yang tanpa mengenal lelah mengamati apa yang sedang terjadi. Baik kecil maupun besar.

Namun, tidak masuk di akal jika rig itu terus berlayar tanpa henti di lautan lepas hingga melewati Port Hartcourt, Nigeria Selatan. Sebab, kemampuan kapal tunda “Jakob van Heemskerck” dan bahan bakarnya tak cukup untuk menempuh jarak sejauh itu. Sementara itu berbagai sumber berita dari Abidjan mengatakan, Sarah Goldstein bertindak sangat galak dan David Levinger tetap belum menampakkan batang hidungnya. Sedangkan berita yang dikirimkan oleh Pasha menyatakan, ia telah meneliti Pelabuhan Abidjan. Menurut ia, hanya ada tiga titik saja yang layak menjadi tempat melompat ke atas Rig “K”, andaikan ia masuk ke dalam pelabuhan dengan penjagaan dan pengawasan yang ada. Salah satu titik itu merupakan titik ideal untuk melakukan operasi. Dan, bahan peledak dalam keadaan aman.

Sebuah pesan lain yang masuk menyatakan, Pasha telah berhasil menghubungi Luna Bayern dan kapal tunda “Allenby” tak jadi bertolak seperti diberitahukan sebelumnya. Menerima pesan itu, Taher pun berkata kepada Ezzat, “Ezzat! Rig “K” seratus persen akan memasuki Pelabuhan Abidjan!”
Meski masa tempuh Rig “K” telah lewat sejak empat hari yang lalu, namun Taher tidak membincangkannya dengan dua sejawatnya, Ezzat dan Nadem. Sikap diam kedua sejawatnya itu membuatnya berpikiran, masalah itu sepenuhnya diserahkan di atas pundaknya. Ia sajalah kini yang menjadi pengambil keputusan. Betapa telah lama ia berdiam diri dan tampak ia saat itu sedang berpikir keras. Memang, saat itu ia sedang dalam perjalanan untuk mengambil suatu keputusan penting.
“Menurut perkiraanmu, kapan kau akan berangkat, Nadem!”
“Sekarang! Tapi, pergi ke mana?”
“Abidjan!”

Sebelum menerima jawaban, Taher berpaling ke arah Ezzat seraya berkata, “Para anggota pasukan katak berangkat lusa! Dan kau, berangkat besok, Nadem!”
Nadem diam saja. Tak memberikan komentar. Maka Taher pun, seraya kembali ke tempat duduknya, berucap, “Tapi, kali ini bawalah juga dinamit!”
“Dinamit telah tiba di Abidjan sejak lama!”
“Kali ini berangkatlah dengan enam orang. Bukan empat orang!”
Taher mengatakan demikian karena ia tahu, permainan kecerdasan atau perang otak pada saat itu telah sampai pada puncak yang memerlukan kepastian. Dengan demikian, roda pun mulai berputar keras dan kencang.

Lantas, pada pukul satu dini hari 3 Maret 1970 sebuah pesan sampai di meja Taher Rasmi. Pesan yang berasal dari pengusaha Turki, Ismet Carci, mengatakan:
“Sore hari saya bersama Liliane melakukan wisata laut. Selepas membayar uang sewa kepada pemilik speed-boat, kami meninggalkan pelabuhan menuju lautan lepas, setelah menikmati beberapa minuman yang lezat cita rasanya. Sekitar 20 mil dari pantai, saya melihat Rig “K” dan kapal tunda “Jakob van Heemskerck” sedang tambat di tengah lautan. Pemilik speed-boat itu mengatakan, rig itu telah bertambat di lokasi itu sejak 28 Februari. Mungkin sedang menunggu perintah baru.”

Betapa gembira hati tiga perwira Badan Intelijen Mesir itu menerima pesan itu. Jelas, yang paling gembira adalah Taher. Ia sangat puas sekali. Ia telah berhasil menggiring Rig “K” menuju Abidjan. Dan, kali ini, rig itu jangan berharap lepas lagi dari cengkeramannya!

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (55)

Prahara di Benua Afrika (54)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close