Opini

Prahara di Benua Afrika (55)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

BEGITU berada di ruang kerja Atase Penerangan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Abidjan, Luna Bayern segera membincangkan dengan sang atase segala hal yang ia perlukan untuk melakukan investigasi yang akan ia lakukan. Tiba-tiba, seorang cewek berpenampilan aneh masuk ke dalam ruangan itu. Semula, cewek itu hendak mengatakan sesuatu kepada sang atase. Tapi, begitu ia melihat Luna Bayern ada di dalam ruangan, cewek itu tak jadi melanjutkan ucapannya.

Melihat cewek itu, sang atase menyambutnya dengan penuh semangat. Sang atase pun mengenalkan kepada Luna, bahwa cewek itu seorang wartawan Maroko dan bernama Leila Masood. Wartawan Maroko itu datang ke Abidjan juga dalam rangka meliput kedatangan para astronaut AS. Bagi Luna, tindakan wartawan itu yang langsung memasuki ruangan sang atase, dengan melangkahi sekretaris, merupakan hal yang aneh. Dan, langkah surutnya ketika mau mengatakan sesuatu, lebih aneh lagi.
Sejenak kemudian Luna dan Leila terlibat dalam perbincangan kering. Dari perbincangan itu Luna tahu, Leila juga menginap di Hotel “La Foire”. Entah mengapa, mendengar hal itu, hati Luna tiba-tiba merasa resah. Beberapa menit kemudian ia tahu, cewek itu tak akan meninggalkan ruang kerja sang atase sebelum ia berlalu. Ia pun berpamitan. Sebelum melewati pintu ruang kerja sang atase, ia melirik cewek itu. Entah kenapa, tiba-tiba ia merasa muak dan mual sekali melihat wartawan Maroko itu.

Di tengah perjalanan menuju Hotel “La Foire”, Luna Bayern bertanya dalam hati: bagaimanakah mungkin seorang wartawan Arab dengan mudah dapat memasuki ruang kerja seorang atase di Kedutaan Besar AS dengan gaya yang demikian. Lebih jauh, jika diandaikan Maroko memiliki hubungan yang erat dengan AS, bagaimana bisa seorang wartawan Arab menginap di sebuah hotel milik Israel. Sekalipun andaikan negaranya bersikap akrab terhadap orang-orang Yahudi.

Ketika melihat sebuah telpon umum, Luna Bayern menghentikan langkah-langkahnya. Ia saat itu merasa sangat ketakutan. Ia ingin menghubungi salah seorang anak buah Taher Rasmi. Yang kerap menghubunginya. Ketika ia diberitahu bahwa orang itu sedang pergi, ketakutannya pun kian membara. Lalu, ketika ia bertanya kapan orang itu balik, ia mendapat jawaban bahwa seorang sahabat orang itu dalam waktu tak lama lagi akan menghubunginya.

Itulah saat yang tak pernah dilupakan oleh Luna Bayern. Ketika ia mengembalikan gagang telpon ke tempatnya, ia merasa seakan berdiri di jalan raya. Tanpa busana. Sebab, sejak ia tiba di Abidjan dan berhubungan dengan anak buah Taher Rasmi itu, ia merasa aman. Ia merasa, ada seseorang yang melindunginya dan berdiri di belakangnya. Karena itu, ia pun bekerja dengan penuh semangat dan berani. Tapi, kini…

Ketika Luna Bayern menapakkan kedua kakinya di Hotel “La Foire”, seakan ada suatu beban berat yang menghalangi ia bergerak. Ia pun menjatuhkan dirinya ke atas sebuah kursi terdekat. Tiba-tiba ia merasa ada seseorang sedang mengamati dirinya. Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia melihat pria yang menabraknya tadi, ketika ia hendak meninggalkan hotel, sedang duduk menghadap ke arahnya dan memandanginya. Dengan sorot pandangan mata yang tajam. Ia tahu, nama pria itu adalah Ismet Carci. Sedangkan nama cewek yang menyertainya adalah Liliane. Ia tahu nama pria itu bukan karena pria itu memperkenalkan dirinya kepadanya. Tapi, karena kelakuan pria itu diketahui semua orang. Yang ada di hotel itu.

Luna Bayern segera berdiri dan menuju restoran guna menghindari pandangan pria menyebalkan itu. Meski ia tak bernafsu makan, tapi ia lantas memesan makanan malam ringan. Selain itu, ia juga memesan satu sloki anggur. Dengan harapan dapat meredam gelegak keresahan dalam dadanya. Seraya menunggu makanan yang ia pesan dan meredam ketakutannya, ia membaca lembar demi lembar catatan yang ia bawa.

Ketika Luna Bayern melihat ke depan, ia melihat pandangan tajam yang memuakkan dari pengusaha Turki tetap memburunya. Ismet Carci ternyata telah pindah ke meja makan di depannya. Senyum serigala yang kelaparan tampak tersungging di mulut pria itu. Luna pun gemetar dan berharap andaikan ia bisa berteriak keras. Juga, ia berharap mampu melangkahkan kaki ke arah pengusaha Turki itu dan menampar mukanya. Sekuat mungkin.

Luna Bayern pun kembali melarikan diri sebelum makanan yang ia pesan disajikan. Begitu ia memasuki kamarnya, ia mendapatkan seseorang yang telah memasuki kamarnya dan mengobrak-obriknya dengan sangat cermat. Semula, ia tak menyadari segala sesuatu di kamar itu telah beralih dari tempatnya. Ia baru menyadari hal itu ketika kedua matanya terarah pada peralatan kecantikannya. Ia merasa, ada tangan seorang perempuan lain telah memegang peralatan itu. Tapi, saat itu ia tak menyadari bahwa perempuan itu adalah Leila Masood.

Luna Bayern pun berdiri di tengah-tengah kamar bagaikan tahanan. Andai anak buah Taher Rasmi tak pergi, jelas ia akan menemui orang itu. Tapi, ke manakah kini ia harus pergi? Ia pun melangkahkan kembali ke arah dari mana ia datang. Ketika pintu lift terbuka, ia pun segera memasukinya dengan napas berat. Begitu pintu lift terbuka kembali, betapa terkejut Luna ketika ia mendapatkan Ismet Carci berada di hadapannya. Iapun memandangi pria itu dengan kedua mata yang membara. Marah. Ketika ia mau mengatakan sesuatu kepada pria tak tahu diri itu, tiba-tiba pria ia berkata dengan suara sangat lirih, “Nona Bayern!”

Luna Bayern hampir berteriak dan memperingatkan pria itu supaya tidak memburunya, ketika pria itu berkata lebih jauh, “Nona! Dengarkanlah baik-baik!”
Luna Bayern tak tahu kenapa ia tidak jadi menampar pria itu. Sehingga, kelakuan pria itu berubah menjadi skandal yang menjadi perbincangan para tamu hotel.
“Saya sahabatnya Zackerie!” ucap pria itu lebih lanjut. Lirih.
Tiba-tiba amarah Luna Bayern yang membarapun luruh. Sekejap mata. Dan, pria itu berkata lagi, “Nona! Marahlah dan jangan tampakkan kegembiraan Anda!”

Kini, Luna Bayern mau mengikuti perintah pria itu. Tanpa inisiatif sama sekali.
“Zackerie segera tiba. Anda tak perlu resah!”
Hampir saja air mata kegembiraan menetes deras dari kedua mata Luna Bayern.
“Nona! Kini, tamparlah aku. Tamparlah sekeras mungkin!”
Beberapa menit yang lalu, betapa Luna Bayern berharap dapat menampar pria itu.
“Nona! Tamparlah aku seakan Anda sedang sangat marah kepadaku!”

Kata-kata itu perintah. Maka, ia pun melaksanakan perintah itu. Suara tamparan itu terdengar di lobby hotel. Yang penuh dengan anak manusia. Semua orang pun berpaling ke arah suara itu. Tapi, sejenak kemudian, hanya kesenyapan yang terdengar.
“Kini, berlalulah Anda seraya memaki-maki!”
Luna Bayern pun melangkahkan kedua kakinya seraya memaki-maki pria itu. Tapi, kini, kegembiraan yang sangatlah yang sedang bergelora dalam dadanya. Dan, api kerinduan pun mulai menyeruak memasuki relung hatinya. Menantikan datangnya hari esok.

Sore hari itu sebuah pesan dikirimkan dari Abidjan menuju Kairo. Pesan itu sampai ke tangan Taher Rasmi pukul tiga dini hari. Dalam pesan itu Pasha mengatakan, Sarah Goldstein telah muncul di Hotel “La Foire”. Sebagai seorang wartawan Maroko bernama Leila Masood. Sedangkan David Levinger belum lagi menampakkan batang hidungnya. Menurut Pasha, lebih lanjut, David Levinger sedang menyembunyikan diri di Kedutaan Besar Israel di Abidjan. Bukan di hotel lain. Dan, ia telah menyampaikan pesan kepada Luna Bayern dan mendapatkan tamparan keras sebagai imbalannya. Tentang Rig “K”, hingga saat itu, belum ada berita sama sekali.

Sementara itu, beribu-ribu mil dari Abidjan, Dalal Shawqy sedang melewati pintu hotel di Lagos menuju mobil Dubes Mesir di Nigeria. Mobil itu sejak beberapa saat telah menantinya. Semua anggota rombongan insan perfilman Mesir tahu, istri sang dubes mengundangnya untuk menikmati santap malam. Saat itu artis Mesir itu mengenakan busana berwarna lembut. Ketika memasuki mobil, ia tampak ceria dan bahagia.

Ketika mobil itu tiba di gedung Kedutaan Mesir di Lagos, mobil itu lalu menuju ke tempat kediaman dubes Mesir. Setelah turun dari mobil, Dalal Shawqy lalu diantar seorang petugas menuju lobby. Setelah melintasi lobby, mereka berdua lalu memasuki sebuah koridor panjang yang menuju tangga yang tak terlalu tinggi. Setelah mereka berdua menaiki tangga, mereka berada di depan sebuah pintu yang tertutup. Usai mengetuk pintu dan menyilakan Dalal masuk ke dalam ruangan, petugas itu lalu berlalu. Ternyata, begitu Dalal masuk ke dalam ruangan, Farid Zihny telah menanti di dalam.

Begitu melihat Farid Zihny, Dalal pun berdiri mematung di tempat. Kemudian, ketika pintu di belakangnya ditutup, ia berupaya menahan lelehan air matanya. Yang terasa sangat sulit ia bendung. Dan, begitu Farid menjulurkan tangannya, ia pun segera menjatuhkan diri ke dada pria itu dan menangis. Sepuas-puasnya!

Dalal pun menangis sepuas-puasnya. Bagaikan orang yang belum pernah menangis sama sekali. Farid hanya berdiam diri. Bungkam seribu kata. Ia biarkan artis yang berada di dekapannya mengeluarkan segala hal yang menggelegak dalam dadanya.

Ternyata, Farid Zihny adalah salah satu diplomat di antara tiga diplomat Mesir yang tiba di Lagos sehari sebelum itu. Ia, sebelum bertemu dengan Dalal, telah tahu segala sesuatu sejak kedatangan rombongan insan perfilman Mesir ke Nigeria hingga saat ia bertemu Dalal kini. Meski Farid Zihny seorang perwira badan intelijen yang profesional, dan meski ia bersahabat akrab dengan Dalal dan mengagumi kepribadian artis itu, namun ia tak dapat menyembunyikan keheranannya yang sangat ketika ia mendengarkan cerita Souad El Hakim tentang artis itu.

Sebelum itu Souad El-Hakim telah datang ke gedung Kedutaan Besar Mesir di Lagos. Naik mobil jeep yang digunakan oleh rombongan insan perfilman Mesir. Asisten sutradara film Perempuan di Sarang Singa itu memasuki gedung kedutaan dengan mengenakan busana sederhana, celana jins, dan sepatu berhak tipis. Seperti biasanya ia membawa berkas khusus film itu atau berbagai keperluan rombongan. Tapi, begitu Souad memasuki ruang kerja petugas kedutaan yang menyambutnya, petugas itu segera menutup pintu ruang kerja itu. Lalu, ia mengajak Souad memasuki pintu samping di ujung ruangan itu dan menuju ke sebuah ruangan samping. Ternyata, di dalam ruangan itu Farid Zihny, yang baru datang sekitar satu jam sebelumnya, telah menunggu.

Begitu melihat Souad El Hakim memasuki ruangan tersebut, Farid berdiri menyambutnya dengan hangat, “Apa kabar, Soraya?”
Ternyata, Soraya Goumat yang menyertai rombongan insan perfilman Mesir dengan nama Souad El Hakim itu adalah seorang perwira Badan Intelijen Mesir dengan kemampuan khusus. Cewek yang satu ini memiliki kemampuan mengamati yang sangat luar biasa. Sehingga, sulit bagi sesuatu yang berada di sekitarnya lepas dari pengamatannya.

Beberapa tahun sebelum itu, karena kondisi khusus, Soraya memasuki Sekolah Tinggi Drama dan Sinematografi Kairo. Dengan nama Souad El Hakim. Di sekolah tinggi itu Souad, alias Soraya, dikenal sebagai seorang mahasiswi yang biasa-biasa saja dan lulus dengan nilai baik. Dan, begitu ia merampungkan pendidikannya, ia tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Konon, saat itu ia menjadi seorang ibu tangga yang bahagia.

Farid pun mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Soraya dengan penuh perhatian dan perasaan heran. Begitu Soraya rampung bercerita, ia pun bertanya kepada sejawatnya itu dengan perasaan kasihan kepada Dalal, “Kau yakin, Soraya?”
“Terserah kau, Farid!” sergah Soraya. Seraya memberengut.
“Bukankah ini aneh?” tanya Farid. Seraya berdiri dari kursi.
“Apa yang aneh, Farid?” jawab Soraya. Melengking.
“Dalal jatuh cinta?”
“Bukankah ia juga manusia?”
“Benar! Tapi…”

Farid Zihny tak melanjutkan ucapannya, ketika melihat pandangan Soraya yang begitu bersemangat mendukung insan sejenisnya.
“Farid! Kini aku harus pergi!” ucap Soraya. Seraya melihat jam tangannya.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (54)

Prahara di Benua Afrika (53)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close