Opini

Prahara di Benua Afrika (53)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

KEDATANGAN rombongan insan perfilman Mesir ke Lagos mendapat sambutan meriah. Pada malam kedatangan rombongan itu, Dubes Mesir menyelenggarakan jamuan makan malam. Jamuan itu dihadiri sejumlah besar wartawan, diplomat, dan pejabat di Nigeria. Dalal Shawqylah yang menjadi primadona jamuan malam itu. Keesokan harinya, media massa Nigeria menampilkan foto Dalal Shawqy dan Midhat Sabri yang tampil bagaikan bintang film. Media massa itu juga menampilkan beberapa artikel tentang perkembangan seni dan film di Mesir. Selain itu, media massa tersebut juga memuat foto-foto beberapa adegan film Perempuan di Sarang Singa yang diambil oleh Souad El Hakim.

Selama beberapa hari, kedatangan rombongan insan perfilman Mesir itu menjadi bahan perbincangan khalayak ramai di Lagos. Perbincangan itu kian marak ketika Menteri Dalam Negeri Nigeria mengerahkan sejumlah besar polisi untuk menjaga pengambilan film yang dilakukan rombongan itu di pelabuhan, hotel, jalan, dan tempat-tempat lain yang terasa aneh bagi insan perfilman seperti halnya Azouz Gaber.
Berdasarkan perubahan yang dilakukan oleh penulis skenario film itu di Kairo, pengambilan film itu memerlukan tambahan empat pemain figuran lagi. Diharapkan, empat orang itu adalah para seniman yang acap mangkal di Kafe “Ba’rah” yang terletak di Tawfik Str. dan di dekat Medan Tawfikiah yang terletak di pusat kota Kairo. Ketika Dalal membaca perubahan yang ada pada skenario, ia menyampaikan problem tiadanya seniman-seniman seperti yang diinginkan dalam skenario itu di Nigeria. Untuk memainkan peran-peran tersebut.

Midhat Sabri menjawab, dengan gayanya yang meyakinkan, bahwa ia telah meminta kepada Souad El Hakim supaya membaca perubahan itu ketika berada di Lagos. Juga, ia meminta asistennya itu mengirimkan pesan ke Kairo supaya mengirim empat seniman dalam waktu secepat mungkin. Meski jawaban Midhat tampak meyakinkan, namun diakui ada suatu titik kelemahan pada rancangan yang digelar dengan cepat oleh Taher Rasmi: kedatangan keempat seniman, sehari selepas kedatangan rombongan insan perfilman Mesir, merupakan hal yang membangkitkan kecurigaan.

Apalagi hal itu ditopang dengan tindakan Souad El Hakim yang meminta empat seniman itu, tanpa mengonsultasikannya dengan sang sutradara, benar-benar merupakan hal yang tidak biasa. Di samping itu, timbul pertanyaan: siapakah semestinya yang mengirim pesan itu. Padahal, produser pelaksana-yaitu Azouz Gaber-hadir bersama rombongan di Nigeria dan kantornya di Kairo tak menerima permintaan apapun

Lebih jauh, ternyata, empat orang seniman yang tiba itu adalah para anggota Angkatan Bersenjata Mesir. Sejatinya, mereka mendapat tugas untuk meluncurkan roket-roket ke arah Rig “K”. Yang sedang berada di lautan lepas. Sebelum berangkat, mereka mendapat kursus kilat tentang akting dari beberapa dosen Sekolah Tinggi Drama dan Sinematografi Kairo. Sebelumnya, para dosen itu diberitahu, empat orang itu akan memainkan peran-peran tertentu dalam sebuah film yang diproduksi dan diperankan para anggota Angkatan Bersenjata Mesir. Atas dasar hal itu, Taher berpendapat, para pemain figuran tersebut harus orang-orang yang dikenal. Tidak hanya oleh para anggota rombongan itu. Tapi, juga oleh khalayak ramai. Ini karena mereka kerap tampil di film. Sehingga, wajah mereka dikenal khalayak. Malah, akrab bagi mereka.

Azouz Gaber sendiri merasa heran ketika empat pemain figuran itu tiba. Sebenarnya, ia acuh saja ketika hal itu tidak dikonsultasikan dengannya. Keheranannya lebih banyak dipicu oleh begitu cepatnya kedatangan mereka dan ketidaktahuannya tentang jati diri mereka. Kemudian, ketika ia bertanya kepada mereka masing-masing tentang film-film yang pernah menampilkan mereka dan para produser yang memroduksi film-film itu, mereka dengan lancar menjawab pertanyaan itu. Sebab, ketika masih di Kairo, mereka telah mendapat pengarahan. Tentang hal itu semua.

Sementara itu Dalal, meski sedang mengalami krisis psikis berat, hanya tersenyum dalam hati. Ia tahu, empat orang itu bukanlah orang-orang perfilman. Tapi, mereka adalah orang-orang yang akan memainkan suatu peran. Dalam tugas yang dibebankan kepada mereka. Karena itu, ia dengan senang hati membantu mereka. Sekuasa yang ia lakukan. Menurut orang-orang yang menonton film itu, ketika ditayangkan, Dalal benar-benar tampil bagus. Juga, ia berhasil menyempurnakan akting yang diajarkan oleh para dosen Sekolah Tinggi Drama dan Sinematografi kepada empat pemain figuran itu.

Hari kedua kedatangan rombongan insan perfilman Mesir di Lagos merupakan hari yang berat. Midhat Sabri memerintahkan supaya shooting di ibukota Nigeria harus selesai hari itu. Sebab, esok hari rombongan itu harus bertolak menuju Port Hartcourt. Sebuah kota pantai yang terletak di ujung selatan negeri itu.

Para anggota rombongan itu pun bertanya-tanya tentang Port Hartcourt. Dengan penuh semangat warga setempat menyerahkan peta Nigeria dan menerangkan tentang kota itu. Mereka juga menerangkan tentang keadaan di seputar kota itu. Menurut informasi yang mereka sampaikan, kota itu dikelilingi rawa-rawa. Dan, di kawasan itu banyak terdapat buaya dan hewan-hewan laut lainnya
.
Hari itu kamera rombongan insan perfilman Mesir itu harus bekerja keras. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Dari jalan protokol di tengah-tengah Kota Lagos, lalu menuju pelabuhan, lobby sebuah hotel ternama di kota itu, dan beberapa perkampungan. Kemudian, sebelum senja temaram, dilakukan pengambilan adegan antara Dalal dan salah seorang pemain figuran yang mendapat sambutan meriah dari warga setempat. Dan, ketika malam tiba, berita kehadiran insan-insan perfilman Mesir itu telah menyebar ke seluruh penjuru Lagos.

Seusai kerja selama seharian, rombongan itu kemudian kembali ke hotel. Kecuali Midhat Sabri yang pergi menemui seorang pejabat Nigeria. Dalam pertemuan itu, Midhat Sabri disertai seorang diplomat dari Kedutaan Besar Mesir di Lagos. Dalam pertemuan itu Midhat Sabri meminta izin untuk melakukan shooting di Port Hartcourt. Khususnya di pemukiman para nelayan. Yang bertebaran di tengah-tengah rawa-rawa muara Sungai Niger.

Sebenarnya, pejabat Nigeria itu merasa heran, kenapa Port Hartcourt yang dipilih. Sebab, tidak jauh dari Lagos dan di sepanjang pantai juga banyak terdapat pemukiman para nelayan. Tapi, kenapa justru yang dipilih adalah sebuah pelabuhan yang jauh dari Lagos? Mendapat pertanyaan yang demikian itu, Midhat Sabri menjelaskan, kisah film itu diangkat dari sebuah novel Perancis tentang tarzan perempuan. Dan, peristiwa-peristiwa dalam kisah itu berlangsung di seputar hutan Nigeria, Lagos, dan kawasan rawa-rawa yang terdapat banyak buaya.

Ketika Midhat Sabri mengemukakan beberapa nama desa dan tempat di sekitar Port Harcourt, seperti yang ia baca dalam novel itu, pejabat itu bisa memahami maksud pengambilan film itu di sana. Malah, pejabat itu tak hanya memberikan izin saja. Tapi, ia juga memberikan dorongan. Kemudian, ketika diplomat yang menyertai Midhat Sabri mengemukakan kepada pejabat itu bahwa dubes Mesir secara pribadi telah meminta izin kepada penguasa di Port Hartcout, khususnya pejabat pelabuhan, supaya rombongan insan perfilman Mesir itu diperkenankan berada di kota itu sekitar seminggu atau dua minggu, pejabat itu kian bersemangat. Malah, ia lalu menelpon ke berbagai pihak yang diharapkan dapat membantu kelancaran shooting film yang akan dilakukan oleh rombongan itu. Rencananya, mereka akan meninggalkan Lagos dua atau tiga hari mendatang.

Karena perjalanan antara Lagos-Port Hartcourt, dengan naik kereta api, memerlukan waktu yang lama dan melelahkan, rombongan itu kemudian menyewa sebuah bus dan dua buah limousin. Salah satu mobil yang terakhir itu disediakan untuk Dalal Shawqy dan Midhat Sabri. Selain itu diputuskan, limousin yang kedua akan berangkat dini hari berikut dengan membawa tiga crew film yang tidak dikenal siapa jati diri mereka. Mereka berangkat dengan membawa surat yang ditujukan kepada penguasa Port Hartcourt. Surat itu berisi permohonan izin bagi rombongan itu untuk melakukan shooting film di sana.

Segera, berita kedatangan rombongan insan perfilman ke Port Hartcourt tersebut tersebar ke seluruh warga kota kecil itu. Mereka sebenarnya juga merasa heran, mengapa kota mereka tiba-tiba menarik minat orang-orang asing.

Pada jam tujuh delapan menit pagi, sebuah pesawat terbang “Air-France” mendarat di Lagos International Airport. Di antara para penumpang pesawat itu terdapat tiga diplomat Mesir yang mendapatkan suatu tugas yang harus diselesaikan di Kedutaan Besar Mesir di Lagos. Anehnya, hanya dua di antara mereka memang benar-benar diplomat. Malah, kedua diplomat itu juga dikenal di ibu kota Nigeria itu. Mereka, dari bandara, langsung menuju gedung kedubes yang jendela-jendelanya tetap menyala. Hingga sepanjang malam.

Kehadiran orang-orang Mesir tersebut, baik di Lagos maupun Port Hartcourt, segera menjadi perbincangan di Nigeria. Itulah yang dikehendaki oleh Taher Rasmi. Yang kini sedang menantikan hasil.

Hari itu, ketika Dalal Shawqy kembali ke hotel, ia merasa penat dan capek sekali. Sebab, begitu turun dari mobil khusus yang ia naiki, ia mendapat sambutan yang sangat meriah dari para pengagumnya. Mereka mengitarinya. Untuk meminta tanda tangan atau berfoto bersamanya. Dalal melayani sambutan itu dengan sikap yang ramah dan tawa yang renyah. Malah, ia mengajak para pengagumnya itu berbincang dengan bahasa Perancis yang fasih. Sehingga, kekaguman mereka terhadap kepribadian artis itupun kian melambung. Padahal, di balik senyum dan tawanya yang renyah, saat itu hati Dalal sebenarnya sedang tercabik-cabik. Dan, ia berharap segera dapat beristirahat dan menyendiri untuk bernapas lega. Malah, untuk menangis. Sepuas-puasnya.

Akhirnya, selepas menutup pintu, Dalalpun masuk ke dalam kamar. Lalu, iapun membenamkan dirinya di sebuah kursi empuk dan merenungkan peristiwa yang ia alami. Ia bertanya pada dirinya: apakah ia benar-benar sedang jatuh cinta, sehingga membuatnya begitu menaruh perhatian pada setiap kata yang diucapkan oleh Midhat Sabri. Atau, apakah ia sedang lupa diri, sehingga ia membiarkan dirinya memburu pria itu. Ke manapun ia pergi. Padahal, pria itu sedang asyik menekuni pekerjaannya. Yang ia ketahui adalah ia senantiasa ingin berbincang-bincang dengan pria yang satu itu. Perbincangan mengenai apa saja. Yang penting, ia dapat mengatakan sesuatu dan pria itu mau mengatakan sesuatu. Ternyata, upayanya sia-sia belaka. Malah, suatu saat ketika ia berupaya mengajak Midhat berbicara dengan bahasa yang sangat sopan, pria itu berpaling kepadanya seraya berkata lirih, “Maaf, bisa menunda perbincangan kita setelah pengambilan film ini, Nyonya?”

Midhat Sabri memang tak salah. Juga, pria itu tak mengatakan sesuatu yang melecehkan atau menjengkelkan. Pria itu tak melakukannya. Namun, ia merasa seakan mendapat tamparan keras. Sehingga, seluruh alam mendengar. Akibatnya, tubuhnya pun menggigil. Marah.

Lantas, Dalal pun menarik diri, mendekati Azouz Gaber. Ia berupaya mengajak berbincang pria itu. Tapi, ketika Azouz mengatakan sesuatu kepadanya, ia tak mendengarnya. Karena itu, dari relung hatinya menggelegak suatu perasaan sangat dilecehkan, karena suatu sebab yang tak ia ketahui. Ia pun melawan, bekerja, dan berakting dengan bagus, karena menantikan saat menyendiri. Sendiri. Dan, ketika melangkahkan kedua kakinya memasuki hotel, ia serasa ingin menangis. Sepuas-puasnya.

Kini, Dalal duduk sendiri dalam kamar. Anehnya, ketika ia mencari air mata yang diharapkan dapat menetes deras, ternyata yang ia dapatkan hanyalah kebakaran. Yang seakan melumat habis alis-alisnya. Iapun melukar pakaian yang ia kenakan dan bersiap-siap menikmati mandi air dingin. Betapa ia ingin segera memadamkan api yang serasa membakar seluruh tubuhnya. Ketika kedua kakinya mau melangkahkan menuju kamar mandi, tiba-tiba kedua kaki itu berhenti. Tanpa sebab. Ia merasa, seakan bara api yang membakar tubuhnya kian membubung tinggi. Maka, ia pun menyalakan kipas angin besar yang tergantung di atap. Pusaran angin yang berasal dari kipas itu bersatu menjadi satu dengan desiran hawa dingin dari AC. Sehingga, membentuk pusaran angin yang menyelubungi tubuhnya yang tanpa busana.

Tiba-tiba gelombang kesedihan yang dalam menyergap diri Dalal. Sedih bukan karena ia jatuh cinta kepada Midhat Sabri. Juga, bukan karena ia tahu bahwa tiada harapan bagi cintanya. Tapi, ia sedih karena perasaan lemah yang menggelayuti dirinya sejak bertemu dengan pria itu. Sehingga, ia hanya bersikap pasrah belaka. Kemudian, ketika ia teringat kata-kata yang diucapkan pria itu, tiba-tiba kesedihannya sirna dan amarahnya menggelegak kencang. Ia pun berteriak keras dalam kamar yang mengurungnya, “Kau pikir dirimu siapa. Aku ini adalah Dalal Shawqy!”

Kini, ketika berdiri tepat di tengah-tengah kamar, gelegak pikiran seakan memerintahkan Dalal untuk bertanya, siapakah sejatinya Dalal Shawqy kini. Lantas, tiba-tiba ia berteriak tertahan, “Aku tahu kini! Aku tahu kini!”
Selepas mengenakan pakaian kembali, Dalal lalu duduk di tepi tempat tidur. Ketika dirinya mulai tenang kembali, tiba-tiba telpon berdering. Dengan ogahan-ogahan ia mengangkat gagang telpon. Lalu, ucapnya dalam bahasa Perancis yang fasih, “Hallo!”
“Apa kabar, Dalal?”
Mendengar suara itu, Dalal tercenung. Kaget dan gembira. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, tertahan di tenggorokan.
“Dalal! Apa kabar?”
“Farid?” ucap Dalal dengan suara tertahan. Seakan tak percaya.
“Ya!”
“Farid! Kau menelpon dari mana?”
“Dari Kedutaan Besar Mesir di Lagos!”

Ketika hati menggelegak gembira bagaikan badai, tetes air mata pun tak terbendung lagi. Membasahi kedua pipi Dalal. Seakan, ia sedang menantikan isyarat permulaan yang kabur. Ia berupaya berbicara. Tapi, ia khawatir kondisi psikisnya yang sedang galau diketahui sahabatnya yang tiba-tiba muncul itu. Ketika lama tidak mendengar jawaban dari Dalal, Farid pun berseru, “Dalal!”

Betapa suara itu bagaikan belaian lembut di kepala Dalal. Betapa ia ingin mengucapkan kata-kata. Sepuas-puasnya. Tapi, yang terucapkan hanyalah kata “Farid”, disertai tetes air mata yang kian tak terbendung lagi. Meski demikian, ia masih mendengar suara Farid yang resah, “Dalal! Kenapa kau?”
Tahulah semua orang kini bahwa Dalal kalah. Dan, ia tak kuat lagi menahan beban itu. Maka, dengan terbata-bata ia pun berkata kepada Farid, “Farid! Ke sinilah kau! Sungguh, ke sinilah kau!”

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (52)

Prahara di Benua Afrika (51)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close