Opini

Prahara di Benua Afrika (5)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020) lalu, Senayanpost.com akan memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

KINI, mereka sedang menanti-selama beberapa hari-kedatangan sejumlah foto rig itu. Yang diambil di Kanada. Diharapkan, foto-foto itu akan memperjelas banyak hal. Juga, melempangkan jalan sebagian langkah yang telah dirancang. Namun, semua itu belum cukup. Di samping itu, sejumlah pakar teknik perkapalan dan pelayaran juga sedang mencurahkan seluruh kemampuan teknis mereka untuk menyukseskan operasi tersebut. Mereka kini sedang mengkaji seluruh kemungkinan yang ada. Baik mengenai besar rig maupun perjalanannya.

Mengenai besar rig dan kemungkinan penghancurannya, tiada yang dapat dilakukan para perwira Badan Intelijen Mesir kecuali hanya membayangkan atau mengkaji rig serupa. Problem yang mereka hadapi kini adalah rig itu dibuat khusus untuk mengebor minyak di kawasan-kawasan pantai Kanada. Selain itu, rig itu dibuat khusus untuk perusahaan tertentu. Sehingga, mungkin saja ada persamaan dalam rancangan globalnya. Namun, karena kondisi-kondisi yang tak mereka ketahui, ada perbedaan dalam rancangannya. Meski demikian mereka telah membuat langkah-langkah. Untuk mengatasi kendala-kendala itu.

Sementara mengenai perjalanan rig itu, para perwira Badan Intelijen Mesir tidak begitu peduli apakah rig itu akan berhenti atau tidak di Kepulauan Azores. Yang lebih menjadi perhatian utama mereka adalah faktor waktu dan perhitungan sampainya rig itu. Di salah satu pelabuhan Afrika Barat.

Andaikan rig itu berhenti di Kepulauan Azores, yang berada di bawah kekuasaan Portugal, tentu tidak gampang bagi para agen Badan Intelijen Mesir untuk melancarkan operasi di sana. Sebab, kepulauan itu terdiri dari pulau-pulau kecil. Yang paling besar adalah Pulau San Miguel, dengan pelabuhannya bernama Punta Delgada. Jumlah warga kepulauan itu tidak banyak. Sehingga, orang-orang asing yang datang ke kepulauan itu gampang dikenali. Apalagi, di kepulauan itu tak banyak wisatawan mancanegara.

Di luar itu, menurut pakar pelayaran, ada tiga pemberhentian yang akan disinggahi rig itu. Atau paling sedikitnya dua pemberhentian. Ketiga pemberhentian tersebut adalah Dakar di Senegal, Abidjan di Pantai Gading, dan Lagos di Nigeria. Kini, para agen Badan Intelijen Mesir sedang bersiap-siap untuk menyambut rig itu. Di tiga pemberhentian itu.

Problem utama yang dihadapi para agen Badan Intelijen Mesir adalah mereka akan beroperasi di negeri orang. Memang, mereka memiliki berbagai sarana yang menjadi landasan rancangan mereka. Namun, kenyataan tidak dapat diabaikan sama sekali. Sebab, kenyataan adalah esensi setiap rancangan dan yang membatasi corak-coraknya. Jelas, hal itu menuntut mereka untuk bekerja keras.

Selepas menyampaikan informasi panjang tersebut, Direktur Badan Intelijen Mesir itu sejenak berhenti berbicara. Seraya memandangi Presiden Mesir yang sedang mendengarkan laporannya. Ruangan itu pun segera disergap kesunyian.

Usai memberikan laporan demikian, Amin Houweidi menekankan bahwa dengan menjelaskan semua permasalahan yang ada, ia telah memberikan kepada presiden gambaran sebenarnya dari kenyataan yang mereka hadapi. Juga, ia menekankan, rancangan yang telah digelar bukan saja sulit pelaksanaannya. Malah, bukan tak mungkin rig itu mampu lepas dari jangkauan mereka!

Seperti diketahui Presiden Nasser adalah seorang pendengar yang baik. Tak mengherankan pula bila ia mendengarkan laporan Direktur Badan Intelijen Mesir itu dengan penuh perhatian. Usai mendengar laporan itu, Presiden Nasser lantas menguraikan kepada Amin Houweidi tentang berbagai aspek politik problem tersebut. Menurut pandangannya.

Menurut Presiden Nasser, dari aspek politik problem tersebut begitu komplek. Padahal, Mesir sendiri sedang menghadapi sederet problem yang tak kalah rumit. Persoalannya akan lebih pelik lagi andaikan Mesir terlibat lagi dalam suatu problem yang melibatkan negara-negara yang diperlukan dukungannya atau perlu diperbaiki hubungan dengannya. Persoalan yang lebih penting lagi adalah hendaklah tidak seorang pun menyadari atau mengetahui-dengan bukti apa pun, sekali pun remeh-bahwa Mesirlah yang melancarkan operasi itu.

“Mereka tentu akan tahu!” ucap Presiden Nasser lebih jauh menjelaskan. “Malah, mereka akan yakin, kitalah yang menghancurkan rig itu. Namun, asumsi adalah satu hal.

Sedangkan adanya bukti atas kejadian yang ada adalah hal yang lain. Israel tentu tahu, kita tidak akan membiarkan kedatangan rig itu. Karena itu, Israel tentu akan melakukan pengawalan dan penjagaan yang sangat ketat terhadap rig itu. Hal ini semua memerlukan upaya keras orang-orang kita. Malah, mungkin kita memerlukan mukjizat pada masa di mana mukjizat telah sirna dan tinggal kemampuan anak manusia belaka. Namun, inilah jalan satu-satunya bagi Mesir!”

Sejenak kedua orang itu berdiam diri. Lalu, Presiden Nasser meneruskan ucapannya, sementara kedua matanya tampak berbinar-binar, “Amin! Seluruh dunia, bukan hanya Israel saja, tahu bahwa kita telah mengalami kekalahan. Namun, Mesir pantang menyerah! Seluruh dunia harus tahu hal itu. Hal itu sangat penting sekali bagi kita. Pada periode ini!”

Sejatinya Amin Houweidi, yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikemukakan Presiden Nasser, tahu bahwa tokoh yang berada di hadapannya kini sedang sakit dan sakitnya berat. Namun, berita sakitnya Presiden Nasser dirahasiakan. Para dokter telah mencegah presiden bekerja keras. Namun, kini, ketika waktu telah menunjukkan jam satu malam lebih, tokoh itu malah asyik bekerja di ruang kerjanya, berdiskusi, dan membuat analisis.

Ketika saat untuk berpamitan tiba, Presiden Nasser menjabat tangan Amin Houweidi dan berucap, “Apa yang dapat saya katakan adalah kehormatan negeri ini berada di tangan kalian!”

Selepas memberikan jawaban yang membuat sang presiden puas, Amin Houweidi lantas menjabat tangan presiden dan melangkahkan kakinya untuk berlalu. Namun, begitu langkahnya hampir mendekati pintu, Presiden Nasser memanggilnya.

“Ada apa, Bapak Presiden!” tanya Amin Houweidi yang melihat tokoh itu berada di tengah ruangan, sedangkan kepalanya menjulur ke depan bagaikan anak panah ketika berucap, “Katakanlah kepada anak buahmu, kehormatan negeri ini berada di tangan mereka!”

Itulah ucapan satu-satunya yang kemudian dikemukakan Direktur Badan Intelijen Mesir kepada Taher Rasmi!

(Bersambung)

BACA JUGA: 

Prahara di Benua Afrika (4)

Prahara di Benua Afrika (3)

KOMENTAR
Tag
Show More

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close