Opini

Prahara di Benua Afrika (49)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

KETIKA Dalal Shawqy mulai meniti kembali kehidupan barunya, ia telah berusia 24 tahun. Saat itu, ayahnya telah berpulang dua tahun sebelumnya. Sedangkan suaminya pindah kerja pada proyek yang menangani pembangunan Dam Aswan. Untuk pertama kalinya, dalam kehidupannya, ia benar-benar menghirup kebebasan. Pada hari-hari itu aneka ragam cinta mewarnai hidupnya. Dari para aktor, pengusaha, penulis, sastrawan, wartawan, maupun seniman. Namun, ia tak pernah merasakan perasaan yang selalu ia rindukan dan nantikan, suatu perasaan yang mampu menggelorakan seluruh gejolak diri dan jiwanya. Betapa selama bermalam-malam ia merenungkan Hazem, mantan suami pertamanya, dan hari-hari yang mereka lalui berdua.

Apakah perasaan itu merupakan cinta romantis atau nasib yang malang? Ternyata, dua tahun setelah hidup menyendiri, Dalal mendapatkan, Hazem masih mewarnai kalbunya. Namun, suatu saat ketika ia mendapat undangan untuk melakukan wisata bersama sejumlah seniman dan seniwati ke Dam Aswan, ia sangat tertarik untuk melihat sebuah dam yang merupakan hasil cucuran darah negerinya. Ia sangat mendambakan, di sana ia akan bertemu Hazem.

Dalal mengakui, betapa ia sangat menantikan dan merindukan pertemuan itu. Juga, betapa ia kerap melamunkan dan membayangkan pertemuan indah itu. Ia yakin Hazem masih mencintainya. Benar-benar mencintainya. Jika tidak, apa artinya semua hal yang membuat ia terikat dengan pria yang ia cintai itu. Ia memang benar-benar berkeinginan kembali kepadanya. Dan, meninggalkan mimpi-mimpinya.

Ketika tiba di Dam Aswan, Dalal pun mencari Hazem. Pencarian itu memang sesuai yang ia harapkan. Tapi, ternyata mantan suaminya kini tak sendiri lagi. Ia kini telah didampingi seorang cewek cantik berambut pirang. Seorang insinyur geologi yang sedang memburu harta karun di Bumi Mesir.

Dalal pun kembali dari wisata itu dengan hati yang perih dan hancur. Begitu ia dipinang seseorang yang kemudian menjadi suami keduanya, ia pun menerima pinangan itu. Bukan karena ia mencintai pria itu. Juga, bukan karena ia ingin melarikan diri dari kenangan pahit ketika melakukan wisata ke Dam Aswan. Tapi, karena ia merasa telah putus asa hidup. Tanpa suami. Sayang, perkawinan itu hanya berlangsung beberapa bulan. Meski dalam pandangan khalayak berlangsung dua tahun. Selama itu mereka berdua telah berupaya keras supaya semangat hidup Dalal membara kembali.

Pada suatu malam, ketika Dalal dalam pelukan sang suami, artis itu menangis. Ia mengeluhkan hatinya yang tertutup. Ia merasa hambar terhadap segala sesuatu. Membenci dunia perfilman. Membenci seni. Membenci kehidupan. Dan, hampir membenci semua anak manusia. Sejatinya, ia telah berupaya memberikan kewajiban sebagai istri kepada suaminya. Tapi, sang suami menolaknya. Sebab, sejak semula yang diharapkan adalah “hati”nya.

Dalal memang tak mau menutupi realitas yang ia hadapi. Sang suami menerima realitas itu dengan berdiam diri. Seribu bahasa tak terucapkan. Kemudian, pada suatu dini hari ketika ia membuka kedua matanya, ia mendapatkan segala sesuatu menjadi tak bermakna. Meski berkedudukan sebagai istri seorang pria, namun hatinya senantiasa merindukan seorang pria lain yang tak jelas. Sang suami pun, dengan tulus, menawarkan cerai kepadanya. Tapi, ia mengatakan kepada sang suami bahwa ia memerlukan kehadirannya dan mengharapnya tetap mendampinginya. Sang suami sepakat.

Pada hari-hari itulah Farid Zihny, seorang perwira Badan Intelijen Mesir, hadir dalam kehidupannya. Ia pertama kali bertemu dengan pria itu di rumah seorang sahabatnya, yang juga seorang aktris. Menurut sahabatnya, pria itu seorang pengusaha. Entah bagaimana pasalnya, dalam pertemuan itu kemudian ia mendapatkan dirinya menyendiri bersama pria itu. Di balkon rumah sang teman.
“Farid! Bulbul mengatakan kepadaku, kau ini seorang pengusaha!” tanya Dalal. Seraya menikmati pemandangan Kairo di malam hari.
“Benar!”
“Kau bergerak di bidang apa?”
“Bidang intelijen!”

Dalal bagaikan tersengat seribu lebah mendengar jawaban itu. Ia mengira Farid bercanda. Tapi, wajah pria itu menunjukkan, apa yang ia katakan memang benar adanya. Sejenak, ia pun memandangi wajah pria yang berdiri di sampingnya. Melihat hal itu, Farid pun bertanya kepadanya, “Apa yang aneh dengan kata-kata yang kuucapkan?”
“Aku benar-benar membenci orang-orang yang bergerak di bidang itu!”
“Kenapa?”
“Aku takut kepada mereka!”
“Masak sampai begitu?”
“Aku tak suka berdiri bersamamu. Sendirian!”

Dalal pun meninggalkan pria itu. Beberapa saat kemudian ia berpamitan, dengan alasan kepalanya tiba-tiba pusing. Berat. Tapi, ketika tengah malam belum lewat, ketakutan seakan menyergap seluruh tubuhnya. Kemudian ia menyadari, ia adalah manusia yang kasar. Tak tahu diri dan tak memiliki perasaan sama sekali. Pada saat yang sama ia merasa, Farid Zihny adalah seorang pria yang santun dan pendiam.
Dalal pun segera meninggalkan tempat tidu,r dengan pelan, agar tidak membuat suaminya terbangun. Lalu, ia pun menelpon Bulbul yang belum lagi menuju ke tempat tidur, “Bulbul! Siapa nama pria tadi yang bersamaku?”
“Farid Zihny, maksud kau?” ucap Bulbul. Meledek.
“Nomer telpon rumahnya berapa?”
“Sudahlah, kau tak usah repot-repot!”
“Bul! Kau tak mengerti!”
“Aku mengerti!”
“Bulbul! Sebab, aku…”
“Kau tak perlu menjelaskan keperluan apa pun kepadaku. Sebab, aku sendiri tak tahu nomer telpon, alamat rumah, atau apa pun mengenai dirinya!” sergah Bulbul.
“Jadi, bagaimana caranya aku dapat berhubungan dengannya?”
“Dialah yang akan menghubungimu!”
Malam itu, Dalal nyaris tak dapat memejamkan kedua matanya.

Ketika pagi menampakkan senyumnya, telpon berdering. Dalal, dalam keadaan setengah tidur, mengangkat gagang telpon dan mendengar suara Farid Zihny yang ia nantikan, “Dalal! Aku mendengar kau menanyakan aku?”
“Aku ingin meminta maaf kepadamu!”
“Aku pun ingin menjelaskan kepadamu, Dalal!”

Siang hari, selama sekitar lima jam, Dalal bertemu dengan Farid Zihny. Setiap kali Dalal menjelaskan atau menanyakan tentang sesuatu, perwira badan intelijen itu mendengarkannya dengan penuh perhatian atau menjawabnya dengan rinci. Ucap Farid Zihny kemudian, “Dalal! Orang-orang tak tahu apa sesungguhnya pekerjaan kami! Tapi, sulit bagiku untuk menceritakannya. Aku harap engkau mengerti!”
Dalal pun memahami apa yang dikatakan oleh Farid Zihny. Dengan hal itu, ia malah kian mengagumi pria itu. Tanya Dalal, “Apakah kau bukan orang baik-baik?”
“Karena itulah semalam kukatakan kepadamu, siapakah aku ini sebenarnya. Tiada seorang pun dalam pertemuan semalam, sampai pun Bulbul, yang tahu siapa aku ini!”
“Kalau begitu, kenapa kau mengatakan jati dirimu kepadaku?”
“Sebab, negara memerlukanmu!”
“Negara memerlukan aku?”

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (48)

Prahara di Benua Afrika (47)

KOMENTAR
Show More
Back to top button
Close
Close