Opini

Prahara di Benua Afrika (48)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

SEMUA orang yang melihat Dalal Shawqy, pada saat shooting film Perempuan di Sarang Singa, di hutan Nigeria, sepakat mengenai hal yang sama: Dalal kali ini bukan Dalal yang telah mereka kenal atau ketahui sebelumnya. Menurut Azouz Gaber, tak seorang pun tahu sejak kapan perubahan aneh itu mulai terjadi. Sebab, pada hari-hari pertama kedatangan rombongan itu, semua orang terlihat begitu bersemangat dan bergairah. Mungkin, suasana bebas di hutan, kendati terik matahari menghajar keras, membuat mereka merasa hangat. Sehingga, mereka merasa terlebur dalam suasana yang sangat akrab.

Midhat Sabri, sang sutradara, sendiri begitu sabar dan santun. Sehingga, membuat orang-orang lain yang hadir merasa segan. Sementara Souad El Hakim, asisten sutradara yang sebelumnya namanya tak pernah dikenal, bak dinamo yang tak pernah berhenti bergerak. Malah, perempuan yang satu itu tak pernah mengeluhkan beratnya perjalanan dengan naik jeep. Bersama Gaber dari lokasi pengambilan film menuju Kota Oyo yang tak jauh dari Lagos. Untuk membeli film atau keperluan para crew film, meski manajer produksi ada.

Azouz Gaber benar-benar memercayai Souad El Hakim. Sebab, perempuan itu benar-benar memahami apa yang ia inginkan. Namun, manakala ia teringat hari-hari itu, ia tak pernah melupakan sederet perilaku aneh yang dilakukan perempuan cekatan yang satu itu. Perempuan itu tampak begitu mengenal setiap lekuk bumi di sekitar Lagos. Juga, ia tahu dari mana ia harus membeli segala keperluan rombongan insan film dan seluruh jalan serta gang yang perlu dilewati. Ketika Gaber, suatu saat, bertanya kepadanya apakah ia sebelumnya pernah mengunjungi Lagos, perempuan itu hanya tersenyum kecil seraya bertanya, “Kapan saya pernah datang ke sini. Kenapa?”

Sementara itu Dalal Shawqy, meski masih tetap bersemangat dan kedua matanya tetap memancarkan pendar keriangan, tampak mulai menjadi “anak manis”. Ia tak tampak suka memrotes lagi. Seperti sebelumnya. Hingga pun ketika berada di depan kamera, artis itu kini penuh pengertian. Mudah diajak kerja sama. Juga, memahami seluruh apa yang terjadi dan dikehendaki oleh sang sutradara.

Dalam pertemuan yang dilakukan rombongan film itu pun Dalal menampakkan sikap yang lain daripada biasanya. Kini, ia senantiasa menaruh perhatian terhadap perbincangan yang sedang berjalan. Ternyata, hasil perbincangan itu sendiri kemudian mendorong Midhat Sabri melakukan beberapa perubahan terhadap skenario.

Sikap Midhat yang terbuka dan pintar membawakan diri membuat Dalal kian mengagumi pria itu. Kekagumannya terhadap sang sutradara itu kian melambung, ketika ia tahu Midhat tak mau melakukan perubahan itu sendiri. Tapi, sebelum melakukan perubahan, ia mengirim berita kepada penulis skenario dan meminta pendapatnya. Jika perubahan itu diterima, barulah Midhat melakukan perubahan.
Melihat sikap Midhat yang demikian itu, Dalal Shawqy bertanya, “Kenapa kau begitu menghargai profesimu, Midhat?”
“Menghargai profesiku, bagaimana?”

Hari-hari pun bergulir dan shooting film Perempuan di Sarang Singa pun berjalan lancar. Dan, ketika Azouz Gaber menampakkan kegelisahannya, karena terlambatnya jawaban perubahan skenario dari Kairo, Midhat seraya tersenyum berkata kepadanya, “Azouz! Keterlambatan ini berarti penulis skenario mau menerima perubahan-perubahan itu. Dan, kita harus membayar harga apa yang kita minta darinya. Ia kan bukan mesin ketik. Tapi, ia seorang seniman yang berkreasi!”
“Bagus! Tapi, kau tentu tahu, andaikan perubahan itu tidak datang tepat waktunya, berapa biaya sehari yang harus dikeluarkan di sini?”
“Kau juga tentu tahu, jika kita yang melakukan perubahan dan ternyata hasilnya jelek, kita akan merugi seberapa banyak?”

Demikianlah seluruh anggota rombongan insan perfilman itu merasakan, mereka datang jauh-jauh dari Mesir ke Nigeria tidak untuk melakukan pengambilan film di luar ruang untuk sebuah film Mesir. Tapi, mereka merasakan, mereka beralih dari dunia ke dunia yang lain. Dan, orang yang paling terpengaruh oleh suasana yang diwarnai dengan sikap menghormat yang ditebarkan oleh Midhat Sabri adalah Dalal Shawqy.

Saat itu, tak seorang pun tahu apa yang sedang bergejolak dalam benak Dalal Shawqy pada hari-hari itu. Sebagian orang berkeyakinan, artis itu sedang jatuh cinta. Sedangkan Azouz Gaber dengan secara tak sengaja acap “menangkap basah” kedua mata Dalal seakan selalu mengikuti gerak Midhat Sabri. Ke mana pun sang sutradara melangkahkan kaki. Namun, tak seorang pun pernah melihat Dalal menyendiri, duduk, atau pergi bersama Midhat. Jika Dalal duduk di sini, sementara Midhat duduk di sebelah sana. Jelas, hal yang demikian itu menimbulkan tanda tanya. Bagi orang-orang yang mengamati perubahan perilaku “sang primadona”. Karena itu, mereka pun bertanya-tanya: apakah sejatinya yang sedang terjadi?

Tak seorang pun tahu sebenarnya Dalal saat itu, meski tampak ceria dan bergairah, seperti halnya saat-saat ia muncul menjadi pemeran utama sebuah film yang terkenal di Mesir pada dasawarsa limapuluhan dan mendapat sambutan hangat dari para kritikus film, sedang mengalami krisis psikis. Keras.
Dugaan mereka bahwa Dalal sedang jatuh cinta kepada Midhat memang tak salah. Tapi, Dalal sendiri merasakan dirinya bagaikan orang gila. Karena itu, ia kerap bertanya pada dirinya sendiri: apakah sebenarnya yang sedang menimpa dirinya? Yang ia rasakan kini bukanlah cinta yang pernah ia kenal sebelumnya. Tapi, semacam gelora perasaan bahagia luar biasa. Laksana perasaan yang timbul ketika seseorang bersembahyang di mihrab yang belum pernah tersentuh kedua kakinya sebelumnya.

Ketika pertama kali menikah, Dalal sendiri masih remaja. Ketika ayahnya menikahkannya dengan seorang insinyur, usianya baru 18 tahun. Pada tahun-tahun pertama perkawinannya, ia selalu merayakan hari ulang tahun suaminya dan dirinya pada hari yang sama. Usia suami pertama Dalal hanya terpaut tiga tahun dengan usia dirinya. Bersama suaminya yang bekerja sebagai teknisi di sebuah proyek besar, yang digelar oleh pemerintah hasil Revolusi 23 Juli, ia meniti bahtera kehidupannya dengan “kisah cinta”. Seperti yang ia tampilkan dalam film-film pertamanya. “Kisah romantis naif.” Demikian ia kerap menyebutnya.

Ketika Dalal hendak melangkahkan kedua kakinya di dunia perfilman, suaminya tak terlalu terkejut. Sebab, akting memang adalah hobi istrinya, cintanya, dan angan-angannya sejak lama. Meski demikian, ketika ia benar-benar mau memasuki dunia itu, barulah sang suami tersentak. Karena tak terpikirkan sebelumnya bahwa istrinya akan benar-benar akan menggeluti dunia yang sarat dengan pendar cahaya.

Benih-benih percekcokan pun menyeruak dan marak di antara suami-istri itu, ketika seorang sutradara menawari Dalal untuk memainkan sebuah peran dalam sebuah film. Penampilan sang sutradara yang begitu meyakinkan, membuat ia segera menerima tawaran itu. Malah, ia tak menyembunyikan kegembiraannya terhadap tawaran itu. Sebab, itulah yang ia cita-citakan sejak lama. Sebaliknya, sang suami menolak keras tawaran itu. Kemudian, karena akhirnya tiada titik temu di antara suami-istri itu, mereka pun berpisah.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (47)

Prahara di Benua Afrika (46)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close