Opini

Prahara di Benua Afrika (46)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

BUKAN merupakan kebiasaan Taher Rasmi memandang remeh lawan atau kecerdikan mereka. Tak aneh jika ia merasa kecewa dan jengkel-selama menjadi perwira Badan Intelijen Mesir-terhadap media massa Mesir yang suka meremehkan Israel. Selama berlangsungnya perang dingin antara Israel dan Dunia Arab. Sebaliknya, ia berpandangan bahwa sikap memandang lawan sedikit lebih unggul memicu pikiran menjadi kreatif dan merengkuh kemenangan.

Oleh karena itu kini tampak gamblang bagi Taher, Sarah Goldstein dan David Levinger meninggalkan Dakar tidak dengan naik kapal tunda “Jakob van Heemskerck”. Juga, mereka berdua tidak naik pesawat terbang. Tampaknya, mereka mempertimbangkan-meski tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan kehadiran orang-orang Mesir-kemungkinan adanya orang-orang Mesir. Karena itu, mereka memanfaatkan -ini harus diakui-kesibukan orang-orang Mesir dengan “kepergian” Rig “K” dan penculikan Liz dan Norman. Mereka berdua pun berhasil lolos.

Kesimpulan itu didapatkan Taher Rasmi pada malam di mana gelombang dingin di Kairo agak mereda. Sehingga suhu agak meningkat. Ia pun mematikan heater dan membuka jendela-jendela ruangan. Yang berada di atas sebuah taman kecil. Kesimpulan tersebut adalah orang-orang Israel merasa yakin, orang-orang Mesir hadir di ibu kota Senegal itu. Meski hanya untuk memantau dan mengamati.

Jika perbincangan dan diskusi yang dilakukan Taher dengan Ezzat telah mengantarkan pada kesimpulan bahwa pelabuhan yang paling tepat akan dimasuki Rig “K” adalah Pelabuhan Abidjan, Pantai Gading, kini bagaimana halnya jika orang-orang Israel berupaya memikirkan posisi orang-orang Mesir. Seperti halnya dirinya yang selalu memikirkan posisi mereka. Andai mereka melakukannya, niscaya merekapun sampai pada kesimpulan serupa. Jika demikian, bukankah mereka akan berpikir tak akan membawa masuk rig itu ke Abidjan dan memilih pelabuhan lain?

Hal itu suatu kemungkinan. Yaitu kemungkinan yang menjadikan pelabuhan berikut yang akan dimasuki Rig “K” adalah Pelabuhan Lagos, Nigeria.
“Ini juga mungkin. Tapi, bagaimana kalau rig itu memasuki Pelabuhan Abidjan?” tanya Ezzat.
“Tentu Luna Bayern dalam keadaan bahaya!” jawab Taher.

Keraguan Taher dapat dimengerti. Di Abidjan, Luna Bayern, si wartawan Belanda, telah berhasil melakukan banyak hal. Antara lain, ia berhasil menjalin hubungan yang erat dengan para diplomat di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Malah, ia mendapat undangan makan malam dari Atase Penerangan negara adikuasa itu. Sang atase ini masih muda usia. Tapi, ia tampak sangat cerdas.

Begitu usai bersantap malam, sang atase pun merasa puas bahwa Luna Bayern adalah seorang wartawan jempolan. Karena itu, sang atase menyatakan kesiapannya untuk membantu Luna menemui para astronaut Amerika Serikat. Lebih jauh sang atase juga berjanji, akan mempersiapkan pertemuan mereka dengan seorang tokoh suku di Pantai Gading.

Selain itu, Luna Bayern juga berhasil menjalin hubungan yang erat dengan seorang pejabat tinggi di Pantai Gading. Pada hari ia menerima undangan minum teh dari Kepala Pelabuhan Abidjan, ia mengirim sebuah pesan yang menyatakan bahwa kapal tunda Belgia, “Allenby”, akan memasuki Pelabuhan Abidjan esok hari. Yang menarik adalah untuk kapal itu telah disiapkan dermaga khusus dan saat itu dermaga itu-meski terselubung-telah mendapat penjagaan yang sangat ketat. Apakah persiapan itu ada kaitannya dengan Rig “K”? Ataukah hal itu semacam kamuflase. Untuk mengalihkan pandangan orang-orang Mesir dari pelabuhan yang sebenarnya dituju?
Jika Sarah Goldstein menaruh kecurigaan atas kehadiran Fernando Paldeira di Kepulauan Azores, dan David Levinger menaruh kecurigaan terhadap Liz dan Norman, malah sampai menculik keduanya, apakah yang mungkin dilakukan kedua perwira Mossad itu terhadap Luna Bayern. Yang telah menelusuri seluruh penjuru Abidjan?

Berdasarkan hal itu diputuskan: memberikan pengawalan ketat terhadap Luna Bayern. Yang mungkin melindunginya dari dekat, saat itu, adalah Zakaria atau Zackerie yang saat itu sedang berada di Kairo. Karena itu, Taher meminta “Zackerie” untuk bertolak ke Abidjan. Sesegera mungkin!

Ketika itu, malam telah larut dan menjelang tengah malam. Saat itu, angin sedang menghajar kuat ruangan Taher Rasmi. Lewat jendela. Sehingga, membuat Taher, yang sedang memandangi taman kecil di bawah jendela, menggigil. Kedinginan. Tiba-tiba, ia bertanya kepada Ezzat Bilal, “Bagaimana kabar Dalal Shawqy?”
Ezzat, yang sedang melangkahkan kakinya menuju tempat membuat kopi, menjawab, “Pembuatan film berjalan lancar!”
“Bagaimana halnya dengan roket-roket itu?”
“Telah dinaikkan di atas Kapal “July Star”. Sejak kapal itu memasuki Lagos!”
“Sekoci-sekoci?”
“Telah dikirimkan setelah 30 jam tibanya kapal itu!”
“Kapal itu akan berada di Lagos hingga kapan?”
“Selama empat hari!”

Ketika melihat Taher tak bertanya lagi, Ezzat berpaling kepadanya. Taher memang tahu, teman sejawatnya yang satu itu mengetahui jawaban segala apa yang ia tanyakan. Segala sesuatu tampaknya tersimpan rapi. Dalam benaknya. Tapi, pada saat itu sendiri, ketika rancangan baru bakal menjelang lahir, ia berupaya berpikir keras.

Tiba-tiba Taher berpaling ke arah Ezzat seraya berkata, “Di hadapan kita ada dua skenario!”
Melihat tiada reaksi dari Ezzat, Taher pun meneruskan ucapannya, “Skenario pertama adalah mereka akan memasuki Abidjan!”
“Skenario kedua?”
“Mereka berpikir dengan cara berpikir kita. Karena itu, mereka mengambil keputusan tidak akan memasuki Abidjan!”
“Baik! Jika demikian, apa yang akan kita lakukan?”
“Inilah persoalannya!”
“Abidjan telah berubah menjadi benteng!”
“Namun, laporan-laporan pendahuluan menyatakan, pelaksanaan operasi di sana mempunyai kemungkinan berhasil bagus!”
Ketika Ezzat hendak berbicara, untuk memberikan komentar, Taher memotongnya, “Lebih baik ketimbang di Dakar! Juga, lebih baik ketimbang dilaksanakan di Lagos!”

Sejenak keheningan menyergap mereka. Tampak, Taher sedang dalam proses mengambil keputusan. Gelegak pikiran di benaknya mulai mereda. Sehingga, membentuk suatu “tubuh sempurna”, bernama “rancangan”. Ucapnya kemudian, “Kita akan mengirim rombongan itu ke Lagos. Karena itu, mereka harus segera bersiap-siap. Untuk melaksanakan rancangan ketiga!”

Jalan berpikir itu benar-benar aneh. Sebab, jika Abidjan merupakan tempat terbaik untuk melaksanakan “Operasi Rig” bagi orang-orang Mesir, juga bagi orang-orang Israel, maka dalam “perlombaan” itu bakal terjadi “permainan” yang unik. Itulah permainan yang paling digemari Taher. Malah, kadang-kadang ia buru. Jika demikian, kenapa ia menyiapkan rancangan ketiga? Apa rahasia di balik rancangan itu?

Mungkin, bagi Ezzat, rahasia itu gampang ditebak. Tapi, ia memilih berdiam diri. Tidak memberi komentar. Apapun.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (45)

Prahara di Benua Afrika (44)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close