Opini

Prahara di Benua Afrika (45)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

LEPASNYA Rig “K”, dari tangan para anggota pasukan katak Mesir, menimbulkan beban psikis yang tak ringan bagi mereka. Kenyataan ini memang harus diakui. Reaksi itu begitu berat bagi mereka. Khususnya, mereka nyaris merampungkan “Operasi Rig”. Namun, ketika rig itu lepas dan bergegas menuju lautan lepas, Nadem sendiri-meski merasa jengkel dan marah karena dalam beberapa detik upayanya berantakan karena sebab-sebab yang tak jelas-entah mengapa merasa sangat bahagia. Dan, pada saat yang sama, ia merasa bingung. Karena itu, ia pun menarik napas panjang. Lega!

Dalam alam yang kasat mata ini, kadang seseorang memiliki indra keenam dan intuisi. Tapi, realitas tetap merupakan “tuan” seluruh sikap. Juga, seluruh penilaian terhadap sikap. Realitas saja. Bukan lain-lainnya.

Sejak kedatangan Nadem di Dakar dan pengamatannya langsung terhadap Rig “K” serta tempat rig itu bertambat, di samping pemilihannya terhadap tempat bertolak di kapal nelayan miring di tempat yang agak terpencil, ada sesuatu perasaan yang menghambatnya. Untuk merampungkan operasi. Sesuatu yang aneh dan kabur itu selalu memburunya. Sehingga, menimbulkan kegusaran. Sebab, sesuatu itu lepas dari realitas. Karena itu, ia tetap menyiapkan diri untuk menghancurkan Rig “K”.

Mungkin penafsiran terhadap perasaan itu adalah lokasi rig “K” yang dekat dengan sekoci-sekoci Perancis. Sekoci-sekoci itu dilengkapi dengan torpedo dan kemungkinan-walau satu dari sejuta-tertimpanya salah satu sekoci itu akibat penghancuran Rig “K”. Tentu, hal itu akan berakibat buruk bagi Mesir. Mungkin juga sikap keras kepala orang-orang Isarel yang berlebihan. Suatu sikap yang gampang dihadapi dengan kekerasan, andai tiadanya keputusan yang diambil di Kairo yang tak dapat diubah Nadem.

Sikap keras orang-orang Israel tampak gamblang dalam cara pengamanan di atas dan sekitar Rig “K”. Juga, keberadaan mereka di kota untuk mencari setiap orang yang berwajah Mesir. Hal itu di samping pengawasan ketat mereka terhadap Liz dan Norman yang tidak mendekati pelabuhan dan tidak melihat rig itu sejak kedatangan mereka di Dakar. Sikap keras kepala itu mencapai puncaknya pada penculikan pasangan muda Inggris itu. Tanpa alasan yang jelas. Meski alasan itu disembunyikan. Mungkin, penyebab timbulnya perasaan aneh itu adalah salah satu unsur-unsur tersebut. Tapi, juga bisa seluruh unsur itu.

Namun, yang penting, ketika Nadem melihat Rig “K” melenggang tenang di depan kedua matanya, meski ia merasa frustrasi, batinnya merasa lega sekali. Kelegaan itu, tak pelak lagi, menopangnya untuk meruntutkan kembali pemikirannya dan bertindak dengan sangat cermat. Sehingga, membuat hari itu sarat dengan kesibukan luar biasa. Untuk membuat rancangan gerakan, melaksanakannya, dan mengontrolnya. Saat demi saat. Ternyata, semua itu berjalan lancar. Dan, gampang!

Sementara di gedung Badan Intelijen Mesir, di Kairo, betapa kerap Taher Rasmi, tanpa sadar, mengucapkan, “petaka menciptakan kejeniusan”. Bagi orang yang mengikuti gaya kerja perwira badan intelijen itu, tentu, akan menemukan sesuatu yang aneh. Yaitu, ia akan dalam kondisi terbaiknya ketika sedang terimpit petaka.

Saat itu Taher Rasmi merasa sangat heran pada orang-orang yang bekerja bersamanya dengan kebeningan pikiran yang ia nikmati, kala di tengah-tengah pusaran pelbagai peristiwa dan kejadian. Dalam kondisi yang demikian, kadang ia membalik sepenuhnya kartu-kartu permainan yang ada. Sehingga, dari situ, timbul rancangan baru. Tak aneh jika kini ia, yang sedang bekerja bersama Ezzat, merasakan perasaan sangat nikmat saat membalikkan kartu permainan sekali lagi dengan orang-orang Israel. Malah, memberikan pelajaran kepada mereka dalam kaitannya dengan dinas rahasia.

Setelah lepasnya Rig “K” dan gagalnya rancangan pertama, baik apakah karena suatu kebetulan yang terjadi, kelemahan yang terlupakan, atau kecerdikan lawan, maka yang menjadi perhatian terbesarnya kini adalah menghimpun sebanyak mungkin rinci peristiwa itu. Sehingga, keseluruhan gambaran peristiwa itu dapat terbayangkan olehnya. Karena itu, hal pertama yang diakukan oleh Taher adalah mengirim pesan kepada Nadem Hashem supaya ia bertindak cepat: “membersihkan” lokasi peristiwa itu. Dan, secepattnya kembali ke Kairo!

Kini, sebagian gambaran telah terhimpun. Yang tersisa adalah bagian terpenting. Nadem sajalah yang dapat melengkapi dengan cermat bagian terakhir itu. Taher sendiri mengetahui rinci peristiwa yang menimpa Liz dan Norman sebelum 24 jam lewat. Ia menerima sebuah kaset rekaman suara pasangan muda itu. Kaset itu keluar dari Dakar bersama seorang penumpang pesawat “Air-Africa” yang menuju Paris. Anehnya, begitu tiba di Orly Airport, pembawa kaset segera melepaskan diri dari tugasnya. Hal itu ia lakukan dengan membuang kaset itu. Ke tempat sampah di bandara.

Beberapa saat selepas kaset itu “beristirahat” di tempat sampah, seorang perempuan petugas layanan kebersihan, dari Afrika, datang membersihkan tempat sampah itu. Tak lama kemudian, kaset itu telah berada di dalam tas tangan besar milik seorang ibu. Yang hari itu hendak meninggalkan Paris menuju Kairo. Seperti halnya orang-orang Mesir lainnya yang selalu mencintai sesuatu secara berlebihan, tas ibu yang tampak lugu itu penuh dengan kaset-kaset beberapa penyanyi Perancis yang saat itu belum dikenal di Dunia Arab. Ibu itu naik sebuah pesawat “Egypt Air”.

Sebelum pesawat itu bertolak, pemeriksaan rutin dilakukan petugas keamanan bandara. Tapi, mereka tidak menyadari, di antara penumpang pesawat itu membawa “bahan yang sangat berharga” bagi Badan Intelijen Mesir. Begitu menerima “kiriman” itu, Taher dan Ezzat lalu mendengarkan kaset itu dua kali. Mereka berhenti pada beberapa titik penting dan masing-masing memberikan pendapatnya. Di antara hal penting yang menarik perhatian mereka adalah ucapan Sarah Goldstein, di istana Pierre Francois, sebelum meninggalkan Liz dan Norman, “Kalian akan menjadi tamu Tuan Francois selama sehari atau dua hari!”

Kalimat itu menunjukkan, hingga beberapa jam menjelang keberangkatan Rig “K”, Sarah Goldstein pun tak tahu kapan tepatnya rig itu bakal bertolak. Itulah realitas pertama yang dipegang oleh Taher. Selanjutnya, Taher membaca sepucuk surat tulisan tangan dan tanpa sandi dari Dakar-menurut pengirimnya karena waktu yang terbatas. Sehingga, ia akhirnya mendapat hukuman berat karena keteledorannya itu-yang menceritakan secara rinci apa yang terjadi sejak Sarah Goldstein dan David Levinger meninggalkan istana Pierre Francois dan “lenyap” dari Dakar. Secara misterius. Seakan keduanya menguap!

Tak lama kemudian diketahui, Sarah Goldstein dan David Levinger meninggalkan istana Pierre Francois tepat pukul 22.23, 18 Februari 1970. Mereka berdua duduk di kursi belakang mobil mewah yang dikendarai oleh salah seorang pembantu Ali. Sepanjang perjalanan mereka lebih banyak berdiam diri. Perbincangan di antara mereka hanya selintas. Itu pun dalam bahasa yang tidak dimengerti si sopir. Tampaknya, mereka berbincang dalam bahasa Ibrani.

Setengah jam sebelum mereka berdua tiba di Pelabuhan Dakar, para buruh bekerja di rig sejak masuk pelabuhan diminta bersiap-siap. Mereka melihat kesibukan yang luar biasa di atas rig. Lalu, muncul sebuah mobil berwarna kelabu yang dikendarai oleh seorang pria yang menuju langsung ke rig. Ia disertai direktur perusahaan yang melakukan perbaikan atas kerusakan yang menimpa kapal tunda “Jakob van Heemskerck”. Kedua orang itu lalu berbincang-bincang sejenak dengan beberapa petugas di rig. Selanjutnya, mereka menuju ke kapal tunda “Jakob van Heemskerck” dan berbincang-bincang dengan boss teknisi yang menangani perbaikan kapal itu. Orang terakhir itu tampak kuyu dan capek sekali.

Dari kapal tunda, kedua orang itu kemudian kembali lagi ke rig. Di atas rig, mereka berdua tampak terlibat dalam perbincangan sengit. Tapi, dengan suara pelan. Tampak, mereka berdua sedang menanti kedatangan seseorang. Ketika Sarah dan David tiba, mereka semua lalu masuk ke dalam kabin tertutup. Mereka lalu melakukan pertemuan yang tidak dihadiri kapten kapal tunda “Jakob van Heemskerck”. Sang kapten, saat itu, sedang asyik menenggak minuman keras, di samping tak henti-hentinya mengumbar makian kepada orang-orang yang sedang melakukan pertemuan.

Sekitar satu jam kemudian pertemuan itu rampung. Segera, di kapal itu terjadi kesibukan untuk bersiap-siap lepas jangkar. Bersamaan dengan datangnya sang fajar. Sedangkan Sarah Goldstein dan David Levinger, segera meninggalkan rig bersama pemilik mobil berwarna kelabu. Menuju suatu tempat yang tidak diketahui. Seakan menguap di udara!

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (44)

Prahara di Benua Afrika (43)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close