Opini

Prahara di Benua Afrika (44)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

ISTANA Pierre Francois merupakan sebuah istana yang dikitari kebun yang sangat luas. Sepanjang malam, istana dan sekitarnya dijaga sejumlah satuan pengaman. Lengkap dengan sejumlah anjing lacak galak.

Meski Ali “telah melakukan sesuatu”, namun malam itu pada mulanya terasa sangat menegangkan bagi Elizabeth Steel dan Norman Williams. Sebab, pesan Ali tak sampai kepada mereka berdua, kecuali sejam setelah mereka tiba di istana. Ketika pesan itu mereka terima, kondisi mereka benar-benar loyo. Sehingga, pembawa pesan itu merasa kasihan kepada mereka.

Sarah Goldstein dan David Levinger hanya sebentar berada di istana Pierre Francois. Sebelum mereka pergi, mereka menginterogasi Liz dan Norman habis-habisan. Sarah memulai interogasi itu setelah rombongan itu memasuki ruang tamu istana dan membawa kedua anak muda Inggris itu ke dalam sebuah ruangan kuno. Yang tak pernah muncul kecuali dalam film-film sejarah.

Ketika mereka tiba, di pintu gerbang istana mereka disambut oleh sejumlah pelayan. Sedangkan Pierre Francois sendiri mendapat sambutan paling hangat dari seekor anjing bull-dog besar yang seakan siap menerkam orang yang tak diharapkan. Sejak saat itu, Liz dan Norman tak pernah melihat Pierre Francois tanpa ditemani anjing itu.

Ruangan di mana Liz dan Norman disekap benar-benar menakutkan. Dinding-dindingnya penuh dengan aneka ragam senjata, kabel, rantai, peralatan berburu, dan kepala-kepala binatang buas. Di samping itu, di ruangan itu juga tersimpan berbagai peralatan kejam yang biasa dipakai oleh orang-orang Eropa untuk memburu para budak.

Begitu rombongan memasuki ruangan itu, Pierre Francois lalu memilih tempat di salah satu sudut. Ia memilih sebuah kursi yang tampak paling ia senangi. Di sampingnya, duduk anjing kesayangannya. Tiba-tiba Sarah Goldstein berkata, “Kami tahu, kalian adalah anggota IRA!”
“Bagaimana bisa demikian?” tanya Liz. Sengit.
“Sebab, dewasa ini IRA sedang bersimpati dengan bangsa Arab!”
“Memang demikian!”
“Bila demikian, kalian jelas anti-Semitisme!”
“Itu tak benar!”

Interogasi itu berlangsung selama satu jam penuh. Dalam interogasi itu, Sarah Goldstein dengan secara terang-terangan menyatakan, ia adalah warga Isarel. Jelas, hal ini bukan merupakan sikap tolol. Tapi, malah, merupakan semacam kecerdikan. Yang diperhitungkan dengan cermat. Karena itu, bila Liz dan Norman bekerja sama dengan bangsa Arab-suatu hal yang diyakini Sarah-maka saat itu merupakan kesempatan emas baginya. Untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang Mesir, Israel tidak pernah lengah dan selalu siap untuk maju ke medan pertempuran. Bagaimanapun kerasnya. Sedangkan bila kedua anak muda Inggris itu tidak bekerja sama dengan bangsa Arab, maka pesan itu juga merupakan peringatan terhadap anak-anak muda yang menaruh simpati terhadap masalah Arab. Sebab, simpati itu menjadi ganjalan yang paling menjengkelkan bagi Israel. Di seluruh penjuru dunia.

Interogasi keras yang berlangsung satu jam penuh itu membuktikan, Liz layak menjadi pemeran utama kelas satu. Sebab, ia mampu menjawab dengan baik segala pertanyaan yang diajukan Sarah. Sedangkan Norman lebih banyak diam. Malah, ia mampu membalikkan persoalan yang sederhana menjadi persoalan kemanusiaan. Juga, ia dengan terang-terangan menyatakan, Israel merupakan ancaman bagi negara-negara di sekitarnya dan menduduki tanah mereka.

Lewat interogasi itu tampak Sarah Goldstein sampai pada jalan buntu. Sehingga, ia kesulitan untuk mengambil keputusan. Padahal, hal itu harus dilakukan. Kemudian, ia pun bertatap pandangan dengan David Levinger. Yang berada di pojok ruangan dan asyik merokok. Beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandangannya ke arah Pierre Francois. Yang tak henti-hentinya menenggak minuman keras seraya membelai anjingnya. Melihat Sarah memandanginya, Pierre Francois hanya mengangkat kedua pundaknya. Seakan ia berkata, “Terserah kau!”

Mendapat masukan demikian, akhirnya Sarah Goldstein sampai pada keputusan. Ia pun berpaling ke arah Liz dan Norman seraya berkata, “Kalian akan menjadi tamu Tuan Pierre Francois. Selama sehari atau dua hari. Ada dua hal yang perlu saya tekankan. Pertama, rumah ini mendapat penjagaan yang sangat ketat. Sehingga, tak seorangpun mampu menerobosnya. Kedua, andaikan kalian berpikiran akan melaporkan hal ini ke pihak berwajib atau menimbulkan suatu kesulitan kepada Tuan Francois, atau menuturkan apa yang terjadi di sini, kalian jangan berharap bakal melihat negeri kalian lagi!”
Selanjutnya, Sarah Goldstein berpaling ke arah Pierre Francois seraya berkata, “Saya serahkan kedua anak muda ini kepada Anda. Anda tentu tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya!”

Sarah Goldstein dan David Levinger kemudian meninggalkan ruangan itu. Diiringi Pierre Francois dan anjingnya hingga ke pintu gerbang istana. Itulah satu-satunya kesempatan untuk sampainya pesan Ali kepada Liz dan Norman.

Jika ketika diinterogasi Liz menunjukkan keberaniannya yang luar biasa, kini kedua matanya memancarkan perasaan takut yang sangat saat ia berpaling ke arah Norman. Pada saat itulah seorang pelayan masuk ke dalam ruangan. Untuk mengambil gelas-gelas yang berisi minuman yang disajikan kepada semua orang yang ada di ruangan itu sebelum itu. Betapa gemetar hati Liz melihat si pelayan. Tapi, apa yang terjadi setelah itu baginya-dan Norman-tampak bagaikan mimpi.

Si pelayan lantas berjalan menuju ke arah meja yang berada di tengah-tengah ruangan. Untuk mengambil gelas-gelas yang telah kosong. Langkah-langkahnya tampak ringan dan cekatan, menunjukkan ia telah lama menekuni pekerjaan itu. Tiba-tiba dengan suara pelan tertahan dan dalam bahasa Inggris patah-patah, ia berkata, “Kalian tak perlu resah!”
Liz dan Norman pun dengan penuh semangat berpaling ke arah si pelayan yang sedang melaksanakan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, si pelayan berkata lagi, “Ali ada di istana ini. Bersama kita. Ia menyampaikan salam kepada kalian berdua!”

Betapa bahagia Liz mendengar ucapan itu. Ketika ia mau mengucapkan sesuatu, si pelayan memberi isyarat dengan pandangan memperingatkan. Meski demikian, si pelayan tetap tersenyum. Lalu, seraya berdiri di hadapan Liz dan Norman, si pelayan berkata dengan suara yang jelas, “Apakah minuman kalian perlu ditambah lagi?”
“Ya, silakan!” ucap Liz penuh semangat. Dengan harapan agar si pelayan tetap menyertai mereka berdua lebih lama lagi.
Si pelayanpun dengan cekatan menuangkan minuman ke gelas Liz dan Norman, seraya berkata lirih, “Saya harap kalian berdua tak risau lagi!”

Kemudian karena tiada lagi yang perlu dikatakan, si pelayan pun berlalu. Tapi, beberapa menit kemudian, ia muncul kembali. Kali ini ia bersama Pierre Francois. Begitu melihat Liz dan Norman, pemilik istana itupun berucap, “Sebenarnya saya ingin bersantap makan malam bersama kalian berdua. Tapi, hal ini tampaknya tidak mungkin. Karena itu, Husseinlah yang akan menyajikan hidangan ke kamar kalian. Saya harap, kalian dengan senang hati mau menikmati malam yang tenang. Malam ini!”
Usai berucap demikian, Pierre Francois lalu memerintahkan sesuatu kepada si pelayan. Si pelayan pun, dengan penuh hormat, memberi hormat kepada Liz dan Norman seraya berkata, “Tuan dan Nyonya, silakan ikut saya!”

Liz dan Norman pun segera melangkahkan kaki. Mengikuti jejak dan langkah si pelayan.

Malam itu Liz dan Norman benar-benar menikmati malam yang tenang damai. Mereka tidak banyak bertutur kata, karena terlalu capek. Mereka heran dan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Semua peristiwa yang baru dan sedang mereka hadapi tampak aneh. Mereka mengatakan demikian dengan sengaja, selepas Hussein memperingatkan mereka berdua sebelum meninggalkan keduanya. Dengan kata lain, pembicaraan mereka disadap.

Esok harinya, Hussein muncul kembali. Untuk menyajikan kopi. Mereka tidak saling bertegur sapa, kecuali hanya saling menyampaikan ucapan selamat pagi. Begitu Liz dan Norman menikmati sajian kopi, Hussein pun memberitahu keduanya bahwa sang majikan sedang menunggu mereka berdua. Mereka, dengan penuh keheranan, segera mengikuti langkah-langkah Hussein. Langkah-langkah mereka berakhir di ruang tamu istana. Di situ, Pierre Francois, bersama anjingnya, sudah menanti mereka.

“Saya harus meminta maaf kepada kalian berdua!” ucap Pierre Francois seraya tersenyum. “Sebab, mungkin saya tak dapat menyertai kalian ke St. Louis. Hari ini ada sejumlah pekerjaan yang harus saya selesaikan!”
“Tuan Francois! Tentu Anda tahu, sebenarnya kami tak ingin pergi ke St. Louis!” jawab Norman.
“Jika demikian, kalian akan diantarkan sopir kami ke Dakar!” ujar lebih lanjut pria Perancis itu datar. “Tapi, saya yakin, saya tidak perlu menekankan kembali apa yang diperingatkan Nyonya Hofman kemarin!”
“Saya harap Anda tak perlu khawatir!” jawab Liz.
“Bagus!” ucap Pierre Francois puas. “Saya adalah warga terhormat negeri ini. Karena itu, saya harus memelihara kehormatan itu!”
Pierre Francois kemudian berpaling ke arah pintu istana seraya memanggil seseorang, “Ali!”

Si sopir pun segera ke dalam ruangan dengan mengenakan pakaian resmi. Si sopir yang mengembalikan Liz dan Norman ke Dakar tak lain adalah Ali pribadi. Sepanjang perjalanan menuju Dakar, ketiga orang itu tampak kerap tertawa. Gembira!

Selepas kejadian itu, Taher Rasmi kemudian mengirim pesan kepada Ali di Dakar supaya memberikan cuti kepada Elizabeth Steel dan Norman Williams selama dua minggu. Di tempat mana pun, di berbagai penjuru dunia, sebagai ucapan terima kasih. Jawaban kedua anak muda tersebut adalah dalam kondisi yang demikian itu wajar jika mereka berdua merasa ketakutan. Karena itu, mereka lebih suka memilih kembali ke tanah air mereka. Kebetulan hari berikutnya ada sebuah kapal Inggris yang sedang siap bertolak. Menuju Liverpool.
Kebetulan pula masih ada tempat bagi kedua anak muda Inggris itu. Namun, kali ini mereka tak lagi di atas dek. Tapi, dalam kabin. Dan, perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan mereka!

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (43)

Prahara di Benua Afrika (42)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close