Opini

Prahara di Benua Afrika (4)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020) lalu, Senayanpost.com akan memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashiryy wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

WAKTU telah larut malam kala Amin Houweidi meninggalkan ruang kerjanya di Badan Intelijen Mesir. Ia membawa sejumlah berkas data, yang iamasukkan ke dalam tas berwarna hitam. Berkas itu hendak ia sampaikan kepada Presiden Mesir. Antara lain stopmap berwarna muda. Stopmap ini berisi segala informasi yang mungkin diminta presiden tentang “Operasi Rig”. Perjalanan antara gedung Badan Intelijen Mesir di Jembatan El Qobba dan tempat kediaman Gamal Abdel Nasser di Manshiet ElBakry, pada saat tengah malam demikian itu, tak lebih dari beberapa menit.

Selepas meninggalkan Gedung Badan Intelijen Mesir, Houweidi segera menuju sedan mercedes yang telah lama menantinya. Angin dingin pun menghajar mukanya, sementara ia duduk di dalam mobil itu. Meski ia mengenakan mantel hitam tebal, namun sergapan musim dingin tetap menusuk seluruh tubuhnya. Ia merasa flu berat akan menimpanya. Karena itu, ia memutuskan untuk melawannya. Dengan segala obat yang ada. Kini, bukan saatnya untuk jatuh sakit!

Begitu mobil itu melintasi pintu gerbang, dua penjaga segera memberikan penghormatan kepada sang direktur. Ia membalas penghormatan itu. Dengan cara yang membuatorang yang tak pernah lupa bahwa iaadalah seorang tentara. Begitu mobil itu membelok ke kanan dan lenyap di kekelaman malam, jalan yang menuju Medan Istana El Qobba, salah seorang penjaga memasuki sebuah ruangan yang hangat. Ia lantas mencatat di sebuah buku besar bahwa mobil direktur meninggalkan Gedung Badan Intelijen Mesir. Pada pukul dua belas malam sepuluh menit!

Selepas melintasi beberapa ratus meter jalan yang gelap, mobil itu membelok ke kiri ke arah Medan El Qobba yang tampak-karena hampir tanpa penerangan dan sepi- kumuh. Segera, Amin Houweidi terkenang dengan berbagai peristiwa di lapangan sebelum perang, dengan lampu-lampu yang berpendar, manusia, mobil yang lalu lalang, dan denyut kehidupan padanya. Juga, dalam benaknya segera timbul kenangan perih tentang kekalahan perang melawan Israel, berbagai peristiwa yang terjadi sebelumnya dan setelahnya serta sederet penyebabnya.

Semua itu membersit dalam benaknya. Dengan cara berpikir sebagai seseorang yang banyak tahu tentang masalah-masalah itu ketimbangorang lain. Dengan kedudukannya sebagai seorang perwira Badan Intelijen Mesir, apalagi kini dalam kedudukannya sebagai direktur badan itu, ia memang selalu berada dalam pentas di seputar puncak kekuasaan. Sehingga, ia selalu melihat realitas dan mendengarnya secara tuntas.

Ketika mobil itu melintasi jembatan kecil yang berada di atas jalur metro Mesir Baru di kawasan itu, sopir memperlambat kecepatannya dan bersiap-siap untuk membelok ke kiri. Houweidi pun menjulurkan tangannya ke arah tasnya. Selanjutnya, mobil itu melaju lurus dengan cepat ke arah tempat kediaman Presiden Gamal Abdel Nasser yang tampak dari kejauhan.

Setiap orang yang pernah bertemu dengan Nasser, kala itu. tentu menyatakan, presiden-berbeda dengan yang tampak ketika sedang di hadapan khalayak ramai atau sedang berpidato-sedang sakit dan kecapekan. Namun, mereka seiring pendapat, semangat presiden masih membara. Ini tampak dari pancaran kedua matanya. Yang masih berpendar-pendar.

Sekitar sebulan sebelumnya-Januari 1970-Presiden Nasser melakukan sejumlah kunjungan kenegaraan ke beberapa negara Arab. Selama di Rabat, presiden menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi kelima. Sedangkan di Tripoli, Libya, presiden mengadakan pertemuan dengan Presiden Muammar Gaddafi dan Presiden Ja‘far Noumeiri. Selanjutnya, presiden melanjutkan kunjungannya ke Sudan.

Ketika itu, serentetan peristiwa yang cepat dan berdarah sedang membasahi kawasan itu. Sebulan sebelumnya diumumkan pembentukan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina). Sementara itu pertempuran sengit, antara Mesir dan Israel, tak pernah berhenti sama sekali. Semua itu berlangsung sangat cepat, keras, dan beruntun.

Perbincangan antara Presiden Nasser dan Amin Houweidi pertama-tama berkisar mengenai banyak hal. Sedangkan masalah rig hanyalah merupakan bagian dari bola membara dari berbagai peristiwa yang ada. Meski perbincangan di antara keduanya menuju ke satu titik, yaitu perlu dihancurkannya rig itu sebelum memasuki Selat Bab-el-Mandeb, namun Presiden Nasser menyatakan bahwa Mesir akan berupaya sekuat mungkin melakukan berbagai upaya diplomatik. Untuk membuat Israel membatalkan maksudnya.

Presiden Nasser kemudian memperbincangkan tentang konferensi pers yang diadakan Haim Bar-Lev sebelum melakukan serangan terhadap Shadwan dan bagaimana jenderal Israel itu menyatakan bahwa tujuan serangan itu adalah untuk melemahkan semangat orang-orang Mesir. Sejenak kemudian Nasser berhenti berbicara. Lalu, ia berucap, “Amin! Inilah yang mereka inginkan! Mereka ingin melemahkan mental kita. Mereka ingin mengatakan kepada seluruh dunia bahwa mereka tetap bertahan di Sinai. Juga, kawasan itu tetap menjadi milik mereka!”

Amin Houweidi kemudian mengemukakan informasi tentang rig yang disewa Israel kepadaPresiden Nasser. Menurut informasi itu, rig itu telah meninggalkan perairan Kanada dan sedang mengarungi lautan bebas. Menurut Direktur Badan Intelijen Mesir itu, ada empat rancangan yang siap dilaksanakan untuk menghancurkannya. Atau paling sedikitnya untuk merusakkannya. Sehingga, rig itu tidak dapat dioperasikan kembali. Rancangan yang keempat, atau terakhir, akan diserahkan kepada Angkatan Bersenjata Mesir, bila ketiga rancangan sebelumnya mengalami kegagalan. Menurut rancangan terakhir ini, rig itu akan ditembak. Dengan pesawat tempur.

Selanjutnya, menurut informasi itu, hingga kini tidak diketahui rig itu menuju ke mana. Juga, kapan akan berhenti untuk mengisi bahan bakar, minuman, dan makanan. Dengan memperhitungkan kecepatan kapal tunda “Jakob van Heemskerck” yang menarik rig itu, kemungkinan rig itu akan tiba di Afrika Barat sekitar dua minggu kemudian. Namun, di pertengahan jalan, mungkin saja rig itu melintasi Kepulauan Azores. Yang berada di bawah kekuasaan Portugal.

Di samping itu, ada sejumlah kemungkinan obyektif lain. Namun, dalam kenyataannya para agen Badan Intelijen Mesir bekerja dalam medan yang setengah gelap dan sarat dengan berbagai kemungkinan. Apalagi kondisi itu sendiri sangat pelik. Sebab, rancangan-rancangan yang disiapkan itu ditujukan terhadap rig yang tak diketahui kecuali di atas kertas belaka. Tak seorang pun di antara mereka pernah melihat rig itu. Meski dari kejauhan.

(Bersambung)

BACA JUGA: 

Prahara di Benua Afrika (3)

Prahara di Benua Afrika (2)

Prahara di Benua Afrika (1)

 

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close