Opini

Prahara di Benua Afrika (39)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

BEGITU siang menampakkan dirinya dan mentari dengan gagahnya mulai meniti langit biru, hari itu Dakar menyaksikan suatu gerakan yang tidak biasa. Beberapa buruh pelabuhan menuturkan tentang ketegangan yang terjadi di sekitar Rig “K” dan kapal tunda “Jakob van Heemskerck”. Malah, beberapa buruh setempat tertawa tergelak-gelak ketika mereka menceritakan seorang perempuan galak yang tak henti-hentinya memberikan perintah.

Perbaikan kerusakan yang menimpa kapal itu, ketika mengarungi lautan setelah meninggalkan Kepulauan Azores dan dihajar badai, dilakukan siang malam. Perbaikan ini dilakukan sejak kedatangan kapal tunda dan rig itu. Namun, beberapa orang yang mengetahui persoalan yang terjadi dan mampu memantau gerakan yang terjadi di Dakar saat itu menyatakan, ketegangan itu baru timbul secara jelas kecuali setelah tibanya dua orang anak muda di Bandara Dakar. Yang satu seorang anak muda asal Maroko dan yang satunya seorang anak muda Palestina. Kedua anak muda itu karyawan sebuah perusahaan pelayaran Maroko. Begitu meninggalkan bandara, kedua anak muda itu segera menuju ke kantor perwakilan perusahaan mereka.

Dua jam kemudian datang seorang anak muda Mesir, naik sebuah pesawat terbang yang datang dari Roma. Anak muda ini datang ke Dakar untuk menemui salah seorang menteri, pada hari itu juga, untuk membahas kemungkinan pembukaan jalur baru pesawat-pesawat terbang sebuah perusahaan penerbangan Mesir. Anak muda itu utusan dari perusahaan itu. Kemudian, dengan pesawat terbang ketiga, datang seorang anak muda Lebanon, bernama Mazen El Shidyaq. Hal yang pertama-tama ia lakukan begitu sampai di Dakar adalah berbicara lewat telpon, dari bandara, meminta kepada kerabatnya bernama Khalil El Mar‘i, untuk menemuinya dengan naik taksi.

Pada hari itu sendiri Ismet Carci, pengusaha Turki, bangun dari tidurnya terlambat. Begitu bangun, ia memesan makan pagi dan minta diantar ke kamar. Ketika pelayan datang mengantarkan makan pagi, ia masih berbaring di tempat tidur, karena kepalanya sedang pening berat.

Liliane pun mengambilkan segelas susu dan dua butir aspirin. Perempuan Perancis itu, dengan logat Parisnya yang kental, menyalahkan Carci karena terlalu banyak menenggak minuman keras. Sehingga, keduanya hampir bertengkar. Semua itu didengar si pelayan yang sedang menyiapkan makan pagi. Ketika si pelayan mau keluar kamar, ia mendengar Carci meminta teman perempuannya untuk meminta operator supaya tak menerima telpon yang ditujukan kepadanya.
“Hari ini aku ingin beristirahat penuh!”

Dengan tersenyum si pelayan meninggalkan kamar itu. Begitu si pelayan berlalu, Pasha segera meloncat dari tempat tidur. Sedangkan Liliane segera menuju pintu dan menguncinya dengan selot. Begitu rampung mengunci pintu, Liliane lalu membantu Pasha mengenakan pakaian yang aneh. Ketika kedua orang itu dalam keadaan demikian, tiba-tiba telpon berdering. Sejenak, suasana di kamar itu tegang dan hening. Liliane saat itu belum meminta operator untuk tidak menerima telpon yang ditujukan ke kamar itu. Ucap Pasha, “Layla! Terima telpon itu dan katakan bahwa aku sedang sakit!”

Sementara itu Suleiman Abdel Mahmoud melewatkan hari itu, sepanjang hari, di antara alat-alat di pabrik. Sepanjang hari itu ia sibuk meneliti dan menyiapkan pekerjaan berat yang harus dimulai pada hari berikut. Sepanjang hari itu para karyawan dan manajer pabrik itu melihatnya sibuk bekerja. Begitu sore tiba, ia diantarkan ke hotel dengan naik mobil perusahaan. Sore itu ia ingin mandi air hangat. Selepas menyantap makan malam di kamarnya, ia lalu menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Kini, saat yang paling menegangkan itu kian dekat. Setiap menit, malah setiap detik, semakin mempersempit jarak antara para pelaksana “Operasi Rig” dan tugas yang dibebankan di atas pundak mereka. Ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, villa yang mereka tempati tampak telah bergairah dengan kesibukan mereka. Tapi, tanpa terdengar suara keributan. Jika salah seorang di antara mereka berbicara, orang itu berbicara dengan suara pelan. Hampir tidak kedengaran.

Karena villa itu tidak memiliki jendela yang menghadap ke jalan, penerangan di dalamnya hanya remang-remang. Para anggota pasukan katak, atau anak-anak muda Palestina, Maroko, Mesir, dan Lebanon yang tiba di Dakar pada hari sebelumnya, berdiri di seputar meja kecil. Yang berada di tengah-tengah ruangan. Mereka menggelar sejumlah peta.

Segera, Nadem dan Gaudat menyampaikan segala informasi yang diperlukan para anggota pasukan katak itu. Mereka diberi tugas membawa alat peledak dan meletakkannya di bagian tertentu dari bawah rig. Beberapa saat kemudian Nadem mengambil sebuah peta teknis, yang ia hapal di luar kepala ketika di Mesir dan ia gambar kembali ketika telah tiba di Dakar. Peta itu memaparkan tentang struktur bawah rig. Nadem kemudian menjelaskannya kepada mereka. Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan rinci keterangan yang disampaikan Nadem. Seusai memberikan penjelasan, Nadem bertanya kepada mereka, “Masih ada yang perlu ditanyakan?”

Sejenak keheningan menyergap mereka. Tak seorang pun mengajukan pertanyaan. Melihat hal itu, Nadem melihat jam tangannya. Ternyata, hanya tersisa waktu lima menit untuk mulai bergerak. Lalu, dengan suara berat tapi pelan, Nadem berkata, “Rig ini dibeli Israel untuk mempermalukan kita!”

Kembali keheningan menyergap mereka. Yang terdengar hanya degup napas orang-orang yang hadir di situ. Keheningan tiba-tiba terpecahkan oleh suara Nadem kembali, “Sampai pun andaikan Israel membelinya karena untuk mengebor minyak, minyak itu milik kita. Minyak itu tersimpan di bumi kita!”

Ketika Nadem berpaling ke arah sang letnan, ia melihat butir-butir air mata menetes pelan dan membasahi kedua pipi perwira muda itu. Melihat hal itu, tiba-tiba ia merasa bahwa tenggorokannya seakan tersekat. Lalu, ucapnya parau, “Aku tahu, kalian tidak memerlukan kata-kata tadi.”

Nadem memaksa dirinya berhenti berbicara. Gelegak perasaannya hampir tak terbendung lagi. Inilah saat yang paling ia nantikan sejak tiga bulan silam. Kini, rig itu hanya selemparan batu dari tangan. Apalagi segala sesuatunya tampak benar-benar telah siap. Sehingga, ia nyaris tak percaya. Lalu, dengan sekuat tenaga, ia berupaya meredam gelegak perasaannya. Dengan rokok yang ia sedot dalam-dalam. Setelah berhasil menguasai perasaannya, ia berkata lirih, “Aku tahu kalian tidak memerlukan kata-kata tadi. Tapi, aku harus mengatakannya!”
“Hidup Mesir!” ucap sang letnan. Dengan suara tak kalah lirih.
Inilah yang berada di luar kemampuan Nadem untuk menanggungnya. Maka ia pun menjawabnya, “Hidup Mesir!”

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (38)

Prahara di Benua Afrika (37)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close