Opini

Prahara di Benua Afrika (38)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

SAAT itu, Khalifa Gaudat, atau Muhammed Oeidat, seorang warga Jordania, sedang naik pesawat terbang yang menuju Maroko. Waktu saat itu mendekati tengah malam. Ia menjinjing hand-bag berisi beberapa baju pribadinya. Ia yakin, perjalanannya tak akan berhenti kecuali di Dakar, Senegal.

Khalifa Gaudat sendiri tak tahu sama sekali ia akan pergi ke mana, kecuali selepas berada di Cairo International Airport. Ia masuk bandara lewat pintu samping. Lalu, ia menuju salah satu ruangan karyawan bandara. Di situ, ia menerima paspor dengan nama baru. Anehnya, paspor itu telah kerap dipakai. Karyawan yang menyerahkan paspor itu mengatakan kepadanya, ia akan naik pesawat yang akan menuju Rabat. Pesawat itu akan tiba di kota itu sekitar pukul setengah empat pagi.

Lebih jauh karyawan itu mengatakan kepadanya, di Bandara Rabat, Gaudat akan dijemput seorang petugas imigrasi Maroko. bernama Bousaber. Petugas itulah yang mempersiapkan perjalanannya selanjutnya dengan naik pesawat yang menuju Dakar. Pesawat itu akan tiba di ibu kota Senegal tepat pukul enam pagi waktu Senegal. Ia dipesan bahwa dalam seluruh tahap perjalanan, bagaimana pun keadaannya, tak melakukan tindakan apa pun. Kecuali menunggu seseorang yang akan mendatanginya. Sebab, ia akan mendapatkan segala sesuatunya telah siap menyambutnya.

Kapten Khalifa Gaudat memang termasuk anggota pilihan pasukan katak Mesir. Bukan hanya sekali itu saja ia menerima tugas yang berat itu. Karena itu, ketika ia melangkahkan kedua kakinya menuju tangga pesawat, yang terpikir olehnya hanyalah makanan yang akan dihidangkan. Cukupkah? Bolehkah ia meminta makanan tambahan.

Ketika makan itu disajikan, dalam beberapa menit telah masuk ke dalam perut Gaudat. Kejutan baginya, tiba-tiba pramugari mengambil talam kecil yang telah kosong, yang berada di hadapannya, dan menggantinya dengan talam baru yang masih penuh dengan makanan. Seraya menyerahkan makanan itu, sang pramugari membisikinya, “Jika Anda memerlukan makanan lagi, katakan kepada saya. Tak usah malu-malu!”
Khalifa Gaudat dengan lahap segera menyantap hidangan kedua itu. Kemudian, seusai makan, ia pun menyandarkan kepalanya ke kursi. Tidur!

Kala itu, kondisi yang ada kian rumit bagi Nadem dan Gaudat. Nadem saat itu sedang berada di basement sebuah villa yang terletak di sebuah kawasan elite di Dakar. Sedangkan Gaudat sedang menikmati perjalanannya di angkasa. Nadem saat itu sedang bersama Pasha. Mereka sibuk menyiapkan tempat itu sebagai pangkalan pasukan katak yang akan datang hari itu. Seluruh perlengkapan, termasuk badik, telah dikeluarkan dari persembunyian.
“Menurutku, badik-badik itu tak perlu dibawa!” ucap Pasha.
“Saya tidak bisa menurunkan mereka untuk melaksanakan tugas tanpa senjata. Masing-masing, ketika menghadapi rintangan saat melaksanakan tugas itu, harus bertindak cepat!” jawab Nadem.
Kini, segala sesuatunya telah siap. Tapi, perbincangan di antara dua perwira Badan Intelijen Mesir itu terus bergulir. Pasha sepenuhnya tahu, kata akhir ada di tangan Nadem. Karena itu, dengan senang hati ia membantu mengambilkan foto-foto yang diinginkan Nadem.

Sejam sebelumnya Pasha melihat dari dekat Rig “K” untuk ketiga kalinya. Kali ini ia yakin, orang-orang Israel sedang santai. Ia juga berpendapat, rancangan yang digelar, hingga saat itu, telah sesuai dengan target dan tiadanya reaksi terhadap penculikan Liz dan Norman sesuai dengan harapan. Kini, orang-orang Israel lebih tenang. Sore hari itu para pengawal mengizinkan warga Senegal mendekati kapal tunda “Allenby”. Untuk menjual barang-barang yang mereka tawarkan.

Setengah jam sebelumnya mereka menerima kabar bahwa Liz dan Norman-meski kedua anak muda itu belum menerima pesan Taher agar menyerah dan acuh-bertindak seakan keduanya telah menerima pesan itu. Keduanya tidak menunjukkan perlawanan apa pun ketika diculik. Malah, keduanya tampak kebingungan dan menyerah kepada Sarah Goldstein dan David Levinger yang menculik mereka berdua.

Ketika Nadem dan Pasha sedang asyik berbincang-bincang, Ebrahim Sayyed Fargallah datang menyampaikan berita seperti menurut perkiraan Pasha. Ebrahim menyatakan, Sarah Goldstein terlihat sedang berada di sebuah villa mewah dan megah. Ia sedang menikmati makan malam sendirian. Ia tampak-tidak seperti biasanya-begitu tenang. Ini tampak dari empat sloki anggur Perancis yang ia nikmati benar-benar ketika santap malam itu.

Mendengar berita itu, Nadem berseru, “Ayo cepat!”
“Ke mana?”
“Aku ingin melihat rig itu, Shawkat!”
“Untuk kedua kalinya?” ucap Pasha seraya tertawa tergelak dan bersiap-siap menemani Nadem.

Kini, Nadem Hashem dan Mahmoud Shawkat telah berada tidak jauh dari “Rig K”. “Kau datang ke sini untuk main film, Nadem?” bisik Pasha kepada Nadem.
“Kau menyindirku?”
“Loh, apa yang kita lakukan kini tak akan terjadi kecuali dalam film!”

Memang, apa yang sedang mereka lakukan kini benar-benar merupakan ide gila-gilaan. Sebab, kedekatan mereka berdua dengan Rig “K” jelas mengundang bahaya. Kini, mereka sedang duduk dalam sebuah perahu milik nelayan yang mereka sewa sejam beberapa franc Perancis. Tubuh mereka berdua dilabur warna hitam dan mereka mengenakan pakaian setempat yang biasa dikenakan para buruh pelabuhan. Sehingga, mereka tampak seperti dua orang Senegal yang sedang mencari sesuap nasi. Meski malam telah melewati penggal keduanya.

Sebelum itu Pasha, alias Shawkat, telah mengambil foto Rig “K”. Tapi, kini, ia kembali mengambil foto rig itu. Meski Nadem menyatakan kepadanya bahwa foto yang ia ambil tak akan jelas, Pasha tetap mengambil foto rig itu. Saat itu sendiri Nadem sedang memelajari seluruh lingkungan di situ, posisi rig, dan segala apa yang ada di sekitar atau di atas rig. Gambaran yang diperoleh Nadem tentang Rig “K” kini benar-benar sesuai dengan imajinasinya yang telah terpancang dalam benaknya beberapa minggu sebelum itu.

Sejam selepas itu, di tempat lain, para karyawan hotel yang diinapi Ismet Carci saling berbisik-busik, melihat pengusaha Turki itu datang ke hotel dengan langkah-langkah gontai. Bagaikan orang yang usai menenggak minuman keras terlalu banyak. Sementara dari mulutnya tercium bau minuman keras yang menyengat. Ketika ia meminta kunci kamarnya, karyawan hotel mengatakan kepadanya dengan sopan bahwa Nona Liliane ada di dalam kamar. Mendengar ucapan itu, tampak Ismet Carci merasa tak senang. Lalu, dengan langkah-langkah berat dan gontai, ia menuju lift dan lenyap.

Pada saat yang sama Nadem sedang berupaya tidur. Tapi, matanya tidak mau terpejam. Ia pun menyalakan lampu dan membuka lebar kedua matanya. Kemudian, ia berpikir keras untuk merancang apa yang akan ia lakukan. Sebagai persiapan untuk menyambut kedatangan Khalifa Gaudat yang akan tiba paling lama dua jam lagi. Saat itu, Nadem telah mengambil keputusan akan melaksanakan peledakan Rig “K”.

Kemudian, ketika waktu menunjukkan pukul tujuh lima menit pagi, Nadem dan Khalifah Gaudat, yang telah tiba di Dakar satu jam sebelum itu, menyelinap ke dalam kapal nelayan yang miring. Kedua orang itu merayap sampai ke atas kapal itu. Ketika berada di tempat yang tepat, Nadem memberikan isyarat tanpa kata ke arah Rig “K”. Lalu, keheningan menyergap mereka berdua. Selanjutnya Nadem, dengan suara lirih tapi jelas, menerangkan segala sesuatu tentang kawasan itu kepada Gaudat. Tak lupa ia juga menyampaikan seluruh informasi yang didapatkan Pasha dan Ebrahim. Juga, sebagian informasi berharga yang didapatkan dari para sukarelawan. Baik dengan secara sukarela maupun dibayar.

Sekali lagi kesunyian sejenak menyergap dua perwira badan intelijen itu. Lalu, dengan tenang Gaudat melukar jaketnya dan membuka kancing bajunya. Sesaat kemudian, ia mengambil kotoran dari dasar perahu dan melaburkannya pada bajunya. Kemudian, setelah merobek celananya dan mencopot kedua sepatunya, ia meminta kepada Nadem untuk merobek bagian belakang bajunya. Dengan senang hati Nadem merobeknya.

Beberapa saat kemudian Gaudat meninggalkan perahu dan menuju dermaga. Rambutnya kusut masai dan jalannya timpang. Seperti halnya para pengemis lainnya yang berkeliaran di kawasan itu. Setiap langkah ia menghitung sudut pandang ke arah Rig “K”. Hingga ketika ia sampai ke sudut yang ia harapkan, di situ ia mendapatkan sebuah perahu tua. Ia pun berjongkok di atas tanah dan pura-pura sedang membuang hajat. Dalam posisi yang demikian itu, ia dapat menyaksikan seluruh tampilan rig itu.

Ketika Khalifa Gaudat kembali ke perahu semula, ia mengatakan kepada Nadem bahwa ia benar-benar mengenali perilaku para awak kapal yang menarik Rig “K” itu. Mereka selalu membawa kaca mata pembesar yang mampu melihat kawasan di seputar dalam radius yang luas. Dan, segala sesuatu, bagaimana pun remehnya, cukup membuat mereka bergerak cepat.

Tanpa bicara sepatah kata pun Nadem dan Gaudat kemudian kembali ke mobil. Saat itu Nadem sendiri belum mengemukakan kepada Gaudat tentang rencananya untuk segera meledakkan Rig “K”. Sebab, sebelum ia menyatakan rancangan itu kepada Gaudat, ia ingin mendengar pendapat sejawatnya itu.
“Rancangan itu akan kau laksanakan kapan?” tanya Gaudat. Tiba-tiba.
“Besok pagi. Sebelum matahari terbit!” jawab Nadem. Seraya menarik napas panjang dan tersenyum.
“Kiranya Allah memberkahi!”
Demikianlah, Nadem pun mengambil keputusan untuk menghancurkan Rig “K”!

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (37)

Prahara di Benua Afrika (36)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close