Opini

Prahara di Benua Afrika (36)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

KETIKA Nadem Hashem mendarat di Bandara Dakar, ia mengenakan kaca mata hitam. Ia berada di bandara hanya sekitar 20 menit. Sebab, kehadiran Salem Abu Foudah di bandara, untuk menjemputnya, cukup membukakan semua pintu bagi Nadem. Karena itu, pemeriksaan di bagian imigrasi dan bea cukai hanya memakan beberapa menit saja. Segera, ia membawa dua kopor tanpa diperiksa menuju sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Salem Abu Foudah sendiri.

Ketika mobil itu melaju dari bandara menuju hotel, Nadem pun bertanya kepada Salem, “Ada berita baru, Salem?”
“Gejala demam, Nadem! Sebenarnya aku juga ingin tahu, demam apa sebenarnya yang sedang melanda Dakar sejak dua minggu terakhir ini.”
Kemudian, begitu mobil Salem Abu Foudah berhenti di depan hotel, beberapa bell-boy segera berdatangan. Untuk mengangkut kedua kopor yang ada di dalam mobil itu. Salem kemudian menyilakan tamunya masuk ke dalam hotel dengan mendapat sambutan yang hangat dari para karyawan hotel. Saat itu, Suleiman Abdel Bar Mahmoud masih mengenakan kaca mata hitam. Yang ia pakai sejak meninggalkan pesawat.

Salem berada di situ hingga seluruh urusan mereka selesai. Selepas semua urusan mereka rampung, Salem dengan penuh semangat menjabat tangan teknisi seniornya dan meninggalkannya dengan janji akan menemuinya pada malam hari. Untuk bersantap malam di restoran hotel. Begitu Salem berlalu, Suleiman Abdel Mahmoud segera melangkahkan kedua kakinya menuju kamarnya. Mendahului kedua kopornya.

Segala sesuatunya tampak sangat wajar. Tapi, sebenarnya, Suleiman Abdel Mahmoud yang sedang menuju kamarnya di hotel itu bukanlah Nadem Hashem. Kedua kopor yang dibawa para bell-boy pun juga bukan kopor perwira Badan Intelijen Mesir tersebut. Ternyata, Suleiman Abdel Mahmoud, yang diantar Salem Abu Foudah, adalah orang yang dicari Nadem Hashem ketika berada di dalam pesawat. Yaitu orang yang memiliki wajah yang mirip dengannya dan mengenakan pakaian serupa. Sedangkan dua kopor yang merupakan duplikat kedua kopor Nadem dan penuh dengan pakaian dan buku-buku teknik mesin telah tiba di Dakar 48 jam sebelumnya.

Sementara Nadem Hashem sendiri saat itu sedang duduk dengan santai. Dalam sebuah mobil yang sedang melaju menuju salah satu sudut Dakar. Itulah mobil ketiga yang membawa Nadem sejak ia turun dari mobilnya Salem. Di sampingnya seorang anak muda yang sedang asyik mengendarai mobil itu. Anak muda tersebut tak berkata sepatah kata pun. Suhu udara dan derajat kelembaban saat itu sedang melambung tinggi. Tak aneh jika Nadem segera mencopot jas dan dasinya. Kemudian, ia lipat lengan bajunya dan membuka kancing krah bajunya.

Begitu mobil itu sampai ke gerbang kawasan yang dituju, mobil itu pun menepi dan berhenti. Anak muda itupun keluar dari mobil dan membuka kap mesin serta memeriksa mesinnya. Sebenarnya, ia tidak memeriksa mesin. Tapi, ia sedang mencermati jalan di belakangnya dan di sekitarnya. Dengan pandangan elang yang tak pernah melalaikan sesuatu pun. Jalan itu lengang dan sepi. Jalan itu menuju kawasan yang sebagian besar warganya adalah orang-orang Perancis dan Lebanon. Mereka merupakan para pendatang terbesar di Senegal. Sedangkan sebagian besar gedung-gedungnya adalah gedung-gedung kedutaan besar dan konsulat serta rumah mewah kelompok elite negeri itu.

Setelah anak muda itu merasa kawasan itu aman, ia pun menutup kembali kap mesin dan masuk ke dalam mobil. Segera, mobil itu bergerak kembali dengan kecepatan yang tak terlalu tinggi dan berhenti di sebuah vila kecil. Kemudian, selepas mencermati lingkungan di sekitar vila, anak muda itu dan Nadem turun dari mobil. Begitu mereka sampai di depan pintu vila, anak itu lantas menekan bel. Ketika pintu vila terbuka, Nadem segera masuk ke dalam dan disambut Pasha yang telah menunggu di dalam beberapa saat sebelumnya.

Begitu Nadem bertemu dengan Pasha, tiada lagi bagi mereka berdua waktu untuk bersantai. Segera, kedua perwira Badan Intelijen Mesir itu bertindak. Pasha, dengan begitu cermat dan teliti, menjelaskan kepada Nadem segala informasi yang berhasil ia himpun. Di samping Pasha adalah Ebrahim Sayyed Fargallah, seorang warga Mesir yang telah meninggalkan Mesir dengan menaiki pesawat “Swiss Air” dari Jenewa menuju Dakar. Untuk bekerja sebagai guru bahasa Arab.

Begitu Pasha rampung berbicara, Ebrahim kemudian menjelaskan kepada Nadem seluruh informasi tentang trotoar, perusahaan pelayaran, biro perjalanan, para pelaut, dan buruh pelabuhan. Ketika Ebrahim rampung berbicara, Nadem bertanya, “Bagaimana kabar Liz dan Norman?”
“Diculik Prof. d’Estain!” jawab Pasha. Sambil tersenyum.
“Ia ditemani seorang perempuan…” ucap Ibrahim menimpali.
“Tentu ia adalah Sarah Goldstein!” potong Nadem.
Sejenak ruangan itu senyap. Tapi, mereka segera kembali bekerja.

Bagi Nadem, gambaran yang ia dapatkan tentang Rig “K” tak begitu menggembirakan. Sebab, jalan menuju rig itu sarat dengan sederet bahaya. Malah, tindakan untuk menghancurkan rig itu-andaikan pasukan katak Mesir, yang saat itu telah berkumpul bersamanya di seputar meja makan, berhasil mencapainya-pun tak lebih ringan bahayanya.
“Sekoci-sekoci torpedo Perancis begitu dekat sekali dengan rig itu!” ucap Mahmoud Shawkat. Penuh semangat.
“Orang-orang Perancis bermain-main dengan mereka, Pasha!” ucap Nadem lirih.
“Jarak antara titik berangkat hingga ke rig jauh sekali!” ucap Ebrahim Sayyed Fargallah menambahkan.
Meski jarak itu jauh, namun Pasha dan Ebrahim seiring pendapat, operasi mungkin sekali dilakukan. Tapi, tak mudah. Sementara itu pendapat Nadem mengambang. Meski demikian, ia tetap memercayai dua sejawatnya itu.
“Kapan aku bisa masuk ke pelabuhan, Ebrahim?” tanya Nadem.
“Sekarang juga bisa, jika kau mau!”
“Baiklah, kita berangkat jika begitu!”

Ketika mereka hendak berdiri, tiba-tiba telpon berdering. Seorang anak muda dari dalam ruangan segera mengangkat gagang telpon. Segera, terjadi perbincangan dalam bahasa Perancis antara anak muda itu dan orang yang menelpon di seberang. Sambil berbincang, anak muda itu mencatat pesan-pesan yang ia terima. Begitu perbincangan itu usai, anak muda itu menyerahkan catatan itu kepada Nadem. Dan, begitu membaca pesan dalam catatan itu, Nadem pun bertanya kepada Pasha, “Bagaimana ceritanya tentang kapal tunda “Allenby” ini?”

Pasha lalu menuturkan secara panjang lebar segala hal yang ia ketahui tentang kapal tunda tersebut. Usai mendengar penjelasan Pasha, Nadem bergumam, “Taher meminta kita untuk melakukan serangan di sini. Berapa pun harga yang harus kita bayar!”

Ternyata, tidak sulit untuk memasuki Pelabuhan Dakar. Begitu Nadem turun dari mobil yang dikendarai oleh salah seorang karyawan perusahaan milik Salem Abu Foudah, mobil itu tanpa kesulitan apapun masuk ke dalam pelabuhan. Lalu, mobil itu meluncur menuju trotoar sepi yang menjadi tempat berlabuh berbagai kapal dan motor boat lama yang telah dimakan usia. Tujuan kunjungan yang dikemukakan adalah untuk melihat salah satu kapal penangkap ikan. Kapal itu telah mogok sejak beberapa bulan dan memerlukan perbaikan. Perusahaan Salem Abu Foudah bermaksud membeli kapal itu.

Segera, Nadem naik ke atas atap miring kapal kecil itu. Kemudian, ia pusatkan pandangannya ke arah jauh. Di kejauhan tampak olehnya Rig “K” dengan keempat tiangnya yang tinggi menjulang. Jarak antara kapal itu-yang disepakati akan menjadi titik bertolak pasukan katak-dan rig sekitar 80 yard. Jarak itu merupakan garis lurus. Sedangkan jalan yang menuju Rig “K” terhalang oleh trotoar, kapal, motorboat, dan perahu.

Melihat hal itu, Nadem tak dapat memberikan kata akhir sebelum meminta pendapat pasukan katak. Ia ingat, Khalifa Gaudat-komandan pasukan itu-baru akan tiba hari esok pukul enam pagi. Maka, ia pun berpaling ke arah pengantarnya seraya berucap, “Aku perlu meneliti kapal ini lagi!”
“Silakan!”
“Berapa lama dari bandara ke sini?”
“Setengah jam!”
“Saya kira, peninjauan kita kali ini cukup. Besok kita ke sini kembali. Sekitar pukul tujuh pagi!”

Ketika Nadem meninggalkan kapal ikan itu, ia tampak bingung. Pandangannya terarah ke sana ke mari. Lokasi yang dipilih memang cukup ideal bagi pelabuhan, keamanan, dan alur keluar dan masuk. Tapi, barangkali tidak demikian menurut pendapat pasukan katak. Dapat dibayangkan apa yang disingkapkan Taher, dalam kaitannya dengan kapal tunda “Allenby”. Sehingga, memaksa ia mengirim telegram.
Pasha berhasil melihat rig itu dari dekat. Juga, berhasil menentukan dengan tepat posisi-posisi keamanan di atas dan di sekitar kapal tunda itu. Apa yang dikemukakan oleh Pasha tepat sekali dengan informasi yang dikirimkan Fernando Paldeira. Jelas, Israel tak mengubah sama sekali sistem keamanan kapal tunda dan Rig “K” itu.

Andaikan pasukan katak berhasil melintasi jalan panjang itu, dalam kegelapan dan di bawah permukaan air, tentu mereka akan berhasil mencapai rig itu. Jika peledakan rig itu dilakukan di bawah permukaan air, tentu ledakan itu tak akan mengenai sekoci-sekoci torpedo Perancis. Hanya rig itu saja yang akan meledak. Lagi pula, di antara sekoci-sekoci dan rig itu terbentang trotoar yang luasnya lebih dari 50 meter. Jadi, peledakan itu akan berhasil. Tapi, tiada keputusan sebelum Khalifa Gaudat datang.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (35)

Prahara di Benua Afrika (34)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close