Opini

Prahara di Benua Afrika (35)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir versus Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020), Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

MESKI Pasha tahu Nadem sedang menuju Dakar, pada dini hari itu ia tetap mengirim pesan kepada Taher Rasmi. Sebab, tidak boleh tidak Taher harus mengetahui segala informasi yang telah ia dapatkan. Karena itu, begitu Taher menerima pesan itu, ia pun meminta Ezzat untuk membacakan pesan itu. Isi pesan Pasha itu:

“Saya telah memeriksa lokasi rig itu berada. Saya juga telah bertemu secara pribadi dengan Cupido Partini. Ia memberikan kesempatan kepada saya untuk berbincang-bincang dengannya sekitar sepuluh menit. Ketika saya menanyakan tentang sebuah kapal tunda Belgia, dengan nama “Allenby”, yang bertolak dari pelabuhan Antwerpen sekitar sepuluh hari yang lalu, ia menjawab bahwa kapal itu telah memasuki perairan dalam Pelabuhan Dakar. Tapi, kapal itu tidak merapat di dermaga. Kapal itu berada di pelabuhan selama tujuh jam tiga puluh enam menit. Selanjutnya, kapal itu bertolak menuju Abidjan, setelah mengisi bahan bakar, makanan, dan minuman. Itulah yang saya ketahui. Tapi, saya merasa sangat ragu!”

Begitu Ezzat rampung membaca pesan itu, Taher mendongakkan kepalanya seraya bertanya kepada sejawatnya, “Tidak ada kabar tentang Liz dan Norman?”

Jika rancangan operasi itu bergulir cepat menuju titik akhir, hal itu tak berarti para perwira Badan Intelijen Mesir itu lupa memikirkan orang-orang yang kini hidup dalam keadaan bahaya. Meski dalam suasana sibuk dan tegang, mereka tetap melindungi dan menyelamatkan orang-orang itu.

Tanpa banyak memutar otak, Taher dan Ezzat segera tahu, terminal berikutnya bagi Rig “K” adalah Abidjan, Pantai Gading. Jika para pakar pelayaran telah menyatakan bahwa merupakan hal yang sulit bagi sebuah kapal tunda untuk menarik rig itu dari Danau Eire di Kanada Selatan menuju Laut Merah, jelas kapal itu harus diganti. Kini, perhitungan dua perwira Badan Intelijen Mesir itu benar-benar mengena sasaran.

Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, Taher dan Ezzat telah mendapatkan informasi yang diperlukan tentang kapal tunda “Allenby”. Dari buku petunjuk tentang kapal-kapal yang berada di atas meja Taher. Lima jam kemudian, mereka berdua menerima pesan dari Antwerpen, Belgia sebagai jawaban atas telegram yang mereka kirimkan, yang membenarkan “Allenby” benar-benar sedang menuju Abidjan. Namun, tak seorang pun tahu, tugas apa yang akan dilaksanakan di sana. Apapun halnya, kapal tunda tersebut disewa dari sebuah perusahaan Inggris, MidBar Co. Akhir telegram itu berbunyi, “Saya mendengar dari serikat pelaut di sini bahwa para awak kapal tunda “Allenby” diseleksi secara ketat dan dengan cara khusus. Di sini tersebar isu, seorang milyarder Arab yang menyewa kapal itu.”

Taher dan Ezzat pun saling berpandangan. Keduanya pun tersenyum. Penuh makna. Kehadiran Pasha di Dakar memang telah berhasil menyingkapkan suatu rahasia yang sangat menarik. Informasi yang ia dapatkan menguatkan, Rig “K” akan mendapat pengawalan sangat ketat sejak dari Abidjan. Dan, Israel menebarkan isu, seorang milyarder Arablah yang menyewa kapal itu. Untuk menjauhkan perhatian dari kapal itu. Atas dasar semua hal itu, Taher segera mengambil keputusan: tidak boleh tidak Rig “K” harus dihancurkan di Dakar dan sebelum tiba di Abidjan. Berapa pun harga yang harus dibayar!

Esok hari ketika Taher mengambil keputusan adalah hari kedua Idul Adha. Saat itu, semua kantor pemerintahan di Senegal masih tutup. Kecuali beberapa perusahaan besar yang mengharuskan sejumlah karyawannya tetap masuk kantor.

Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas siang, Salem Abu Foudah, pengusaha asal Suriah, sedang bersiap-siap meninggalkan kantornya di Dakar. Di kantor itu sendiri masih ada beberapa karyawan yang sedang asyik berbincang-bincang. Siang itu ia bermaksud pergi ke bandara. Untuk menjemput Suleiman Abdel Bar Mahmoud, seorang insinyur, yang datang untuk mengecek beberapa peralatan pabriknya yang telah beberapa minggu mengalami kerusakan.

Selepas merampungkan pekerjaannya bersama para karyawannya, Salem Abu Foudah lantas melangkahkan kedua kakinya menuju lift. Diikuti sopirnya. Begitu pintu lift terbuka, ia berucap kepada si sopir yang asli Senegal, “Siang ini saya akan pergi ke bandara. Sendirian. Kau hari ini pulang saja langsung ke rumah. Untuk menikmati liburan bersama anak-anakmu! Untuk itu, berikan kepadaku kunci mobil kita!”

Ketika dalam perjalanan menuju bandara, pikiran Salem mengembara ke mana-mana. Ia percaya sepenuhnya kepada orang-orang Mesir. Kepercayaan itu tumbuh dari kebersamaannya dengan mereka dalam berbagai peristiwa. Meski demikian, hari itu ia sangat gelisah sekali. Apakah yang diharapkan teman-teman sejawatnya itu dari Dakar?

Dakar, ibu kota Senegal, bukan kota besar. Sehingga, tak mudah bagi seseorang untuk menutupi sesuatu yang terjadi di kota itu. Karena itu, bagi seseorang yang telah melewatkan sebagian besar umurnya di kota itu, meski tetap sebagai warga negara asing, tentu mencium adanya suatu gerakan aneh dan terselubung sejak dua minggu terakhir.

Salem Abu Foudah tiba di Dakar ketika baru berusia sepuluh tahun. Ayahnya, Shoukri Afandi Abu Foudah, datang dari Suriah ke Senegal-kala itu menjadi protektorat Perancis-untuk menjadi aparatur sipil negara. Karena ia seorang Muslim yang taat, juga karena 80% warga Senegal juga Muslim, tak aneh jika ia disegani warga negeri itu. Dalam setiap pembicaraan yang ia kemukakan, ia senantiasa menekankan pesan Rasulullah Saw. bahwa, “Agama adalah muamalah”. Dan, hal itu merupakan fondasi yang penting bagi kehidupan Muslim.

Di samping itu, Shoukri Afandi acap mengemukakan, seorang Muslim tak akan berdusta, tak mencuri, tak menerima suap, dan tak memakan harta orang kaya atau miskin dan juga harta anak yatim. Seorang Muslim yang benar adalah orang yang mengetahui nilai zakat bagi orang-orang Muslim yang miskin.

Salem tumbuh dewasa dengan meyakini segala apa yang dikemukakan oleh sang ayah. Namun, hari-hari mengajarkan banyak hal kepadanya. Khususnya selepas sang ayah berpulang ketika ia berusia 17 tahun. Pelajaran pertama yang ia dapatkan adalah “pendatang” adalah orang asing. Di setiap tempat yang didatangi. Perasaan rindu Tanah Air tetap terasakan bagaikan penyakit kronis. Juga, ia merasakan, Tanah Air merupakan “takdir”. Bagaikan ayah dan ibu. Tiada daya upaya bagi manusia dalam kaitannya dengan kedua hal tersebut. Ia selalu merasa, meski ia tumbuh besar di Senegal, ia adalah warga negara kedua.

Selepas sang ayah berpulang, Salem menekuni berbagai pekerjaan. Untuk menghidupi dirinya sendiri. Berkat ketekunannya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup banyak. Dengan berbekal uang tersebut, ia kembali ke tempat kelahiran sang ayah di Suriah, Kota Aleppo. Ternyata, di sana ia mendapatkan dirinya lebih asing ketimbang sebelumnya. Ia tertimpa kegelisahan seperti yang menimpa seseorang yang mengunjungi tanah yang ia cintai, tapi tidak ia kenal. Segala sesuatu tampak asing baginya dan ia merasa asing di tanah airnya sendiri. Karena itu, ia memutuskan kembali lagi ke Senegal.

Salem Abu Foudah akhirnya mengambil keputusan untuk migrasi kembali. Kali ini bukan ke suatu negeri tertentu. Tapi, menuju “dunia uang”. Perjalanannya menuju dunia uang terjadi ketika ia berusia 18 tahun. Segera, ia akrab dengan dunia perantauan, ketika ia tahu uang bagaikan perantau. Tanpa kewarganegaraan, sedangkan tempat kelahirannya adalah seluruh kawasan dunia. Karena itu, jika uang menjadi milik Anda, maka Anda akan menjadi warga dunia. Semua pintu pun terbuka untuk Anda dan semua negara menyambut Anda.

Beberapa tahun kemudian Salem Abu Foudah telah menjadi seorang miliarder. Ia berhasil mendaki dari bawah hingga ke puncak sebelum berusia 25 tahun. Senjatanya adalah “motto” yang ia tempelkan di kantornya. Sejak kantor itu hanya berupa sebuah meja kecil, di sebuah kios sederhana di salah satu sudut Dakar, hingga menjadi sebuah kantor termegah di Dakar. Motto itu adalah “Agama adalah muamalah”.

Kemudian, pada pertengahan dasawarsa 1969-an, seorang Konsul Mesir di Dakar menyelenggarakan jamuan makan malam di gedung konsulat. Untuk memeringati Revolusi 23 Juli. Sejumlah undangan dari berbagai negara, selain para pejabat Senegal, hadir dalam jamuan itu. Salem Abu Foudah termasuk yang hadir dalam jamuan itu. Dalam jamuan malam itu terjadi perbincangan mengenai Revolusi 23 Juli antara konsul Mesir dengan beberapa tamu. Termasuk Salem Abu Foudah. Perbincangan itu sarat dengan keramahtamahan. Di tengah-tengah perbincangan itu, tiba-tiba Salem, dengan suara yang terdengar oleh semua undangan, bertanya, “Bapak Konsul! Tahukah Anda tindakan terburuk apakah yang pernah dilakukan oleh Presiden Gamal Abdel Nasser?”

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi dan mencekam. Sang konsul pun tersenyum sinis. Ia menyadari, benih-benih krisis siap menyergapnya. Peristiwa lepasnya Suriah dari Mesir belum lagi dilupakan orang. Lalu, ia pun berpaling ke arah Salem seraya berucap, “Setahu saya, Presiden Gamal Abdel Nasser tidak pernah melakukan tindakan tercela!”
“Tindakan terburuk yang dilakukan oleh Presiden Gamal Abdel Nasser adalah beliau telah membangkitkan perasaan bersaudara yang pedih. Dalam relung hati saya!” sahut Salem. Dengan tekanan suara yang mantap.
Konsul Mesir segera memahami apa yang diinginkan oleh pengusaha yang cerdik itu. Maka, sahut sang konsul, “Perasaan bersaudara bukan kata-kata, Tuan Salem!”

Perbincangan malam itu berhenti hingga ke batas itu. Selepas itu, konsul Mesir tak pernah menghubunginya lagi. Hubungan selanjutnya di antara mereka baru terjadi tiga bulan kemudian. Saat itu ada seorang anak muda Mesir datang ke Dakar dengan membawa sepucuk surat dari Presiden Gamal Abdel Nasser kepada Salem Abu Foudah. Dalam surat itu, antara lain, Presiden Gamal Abdel Nasser menyatakan, jika sang presiden telah membangkitkan perasaan bersaudara yang pedih dalam relung hatinya, maka perasaan itu akan kian pedih jika ia tak berupaya menyuburkan dan memelihara perasaan itu.

Anak muda tersebut datang untuk berbincang-bincang. Tanpa merasakan beban apa pun Salem mengatakan, dengan dialek Suriahnya yang medok, bahwa ia sejak lama telah siap menyuburkan perasaan bersaudaranya. Dengan segala sesuatu yang ia miliki. Juga, dengan apa yang dapat ia lakukan. Tapi, dengan satu syarat!

Mendengar jawaban yang demikian itu, derai tawa anak muda itu memenuhi ruangan. Lalu, ucap anak muda itu, “Presiden Gamal Abdel Nasser juga mengajukan satu syarat!”
“Apa syarat itu?” tanya Salem Abu Foudah. Penuh rasa ingin tahu.
“Janganlah Anda melakukan suatu tindakan, bagaimanapun remehnya, yang menentang Senegal!”
Tawa Salem pun berderai mendengar ucapan anak muda itu. Sebab, syarat itu pulalah yang akan ia ajukan.

(Bersambung)

BACA JUGA:

Prahara di Benua Afrika (34)

Prahara di Benua Afrika (33)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close