Opini

Prahara di Benua Afrika (2)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai Jumat (21/2/2020) Senayanpost.com memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

—oooaRuooo—

AMIN Houweidi adalah salah seorang anggota Perwira Bebas ketika terjadi Revolusi 23 Juli 1952. Sejak remaja ia telah terkenal di antara teman-temannya sebagai seorang anak muda yang penuh semangat, idealis, dan kutu buku. Juga, pengagum berat Gamal Abdel Nasser.

Tugas di dunia intelijen bukanlah hal yang baru bagi Amin Houweidi. Sebab, sebelum memangku jabatan tertinggi, di badan intelijen negerinya, sejak lama iatelah bergabung dengan badan intelijen itu. Kemudian, ia meninggalkan badan intelijen itu untuk menduduki berbagai jabatan yang pernah iaduduki. Antara lain sebagai Menteri Penerangan dan-setelah Perang 5 Juni 1967-Menteri Peperangan, di samping sebagai Koordinator Badan Intelijen Mesir selama beberapa tahun.

Oleh karena itu ketika Houweidi kembali ke Badan Intelijen Mesir sebagai direktur, hubungan antara dirinya dan para petugas di badan rahasia itu berjalan mulus. Bagaikan hubungan antara anggota-anggota sebuah tim yang kompak. Setiap anggotanya dapat memahami apa yang dikehendaki anggota-anggota lainnya. Tanpa banyak tanya atau kata.Mereka mengenal baik Houweidi. Ia pun mengenal baik pula mereka. Malah, sebagian di antara mereka adalah sahabat-sahabatnya. Sejak bertahun-tahun dalam membangun badan rahasia itu.

Menit demi menit berjalan lambat. Namun, akhirnya, Direktur Badan Intelijen Mesir itu mendengar ketukan pelan di pintu. Begitu Houweidi membuka pintu ruang kerjanya, Taher Rasmi segera memasuki ruang kerjanya.

Sosok Taher Rasmi sendiri tinggi dan ramping. Bagaikan pohon palem yang menengarai desa tempat kelahirannya. Meski ia merokok tanpa henti, apalagi ketika ia sedang menangani suatu masalah, namun tubuhnya tetap nampak atletis. Penampilan perwira Badan Intelijen Mesir itu tampak serasi. Suaranya pelan. Dan, senyuman senantiasa tersungging di kedua bibirnya, setiap kali bertemu dengan setiap orang yang ia temui.

“Apa kabar, Taher,” ucap Houweidi. Menyambut kedatangan Taher Rasmi.
“Baik, Pak! Berdasarkan informasi yang saya terima, rig itu kini berada di Port Alfred. Selanjutnya, rig itu menuju Saint Simon di Kanada Utara. Kecepatan geraknya waktu ini seperti sebelumnya. Kini, rig itu sedang menuju lautan bebas!”
“Kapan informasi ini diterima?”
“Hari ini, pukul sepuluh pagi!”
“Yakinkah engkau dengan informasi itu, Taher?”

Taher Rasmi pun tersenyum. Ia tahu, begitulah sikap direktur yang satu ini dalam bertukar pikiran. Dari mana ia bisa merasa yakin, kecuali lewat telegram atau surat yang sampai kepadanya selepas mengarungi jarak ribuan mil. Ia pun memandangi telegram yang sandi-sandinya telah berhasil ia pecahkan. Beberapa menit yang lalu. Jawabnya, “Sesuai dengan perintah yang diberikan kepada Maurice, ia mengikuti gerak rig itu. Menit demi menit. Sampai rig itu bertolak menuju lautan!”

Amin Houweidi, dengan wajah yang tampak berseri, lalu melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya seraya bertanya, “Apa yang akan kau lakukan kini?”
“Saya akan mendahuluinya!”
“Ya, kau harus mendahuluinya, Taher! Kau harus mendahuluinya!” ucap Direktur Badan Intelijen Mesir itu seraya mengarahkan pandangannya ke telpon di depannya yang berwarna khusus itu. Ia lantasmengangkat gagang telpon.
“Apakah bapak akan berbicara dengan Presiden?” tanya Taher.
“Tentu! Tentu!”
“Kita tinggal memiliki waktu separuh malam!”
“Beliau yang menginginkan demikian!”
“Bila demikian, saya permisi!”
“KiranyaTuhan menyertaimu, Taher! KiranyaTuhan menyertai kalian semua!”

Begitu Taher Rasmi meninggalkan ruang itu, suasana sepi pun kembalimenyergap ruang kerja Direktur Badan Intelijen Mesir. Sementara itu, gagang telpon masih menggantung di tangan Amin Houweidi. Tampak pikirannya menerawang jauh. Seakan, ia sedang tenggelam dalam lautan pikiran. Tanpa batas.

Amin Houweidi jelas mengerti makna telegram yang baru diterima sekitar setengah jam yang lalu. Telegram itu hanya mempunyai satu makna: seluruh upaya politik dan diplomatik yang dilakukan Mesir sejak sekitar tiga bulan sebelumnya nyaris gagal. Sia-sia. Sementara gerakan yang akan dilakukan sejak saat ini harus begitu cepat dan tim yang menangangi masalah itu harus berlomba dengan waktu. Yang tak kalah penting adalah tim itu, yang terdiri dari pria dan perempuan, muda maupun tua dari seluruh lapisan usia, dan dari berbagai bangsa yang tidak saling mengenal satu sama lainnya mulai saat ini harus bergerak cepat, sigap, dan cermat. Juga, sanggup menghadapi bahaya.

Tiga bulan sebelumnya, dalam kehidupan Direktur Badan Intelijen Mesir itu, juga dalam kehidupan badan intelijen itu, tidak terdapat problem yang bernama “rig”. Problem itu sendiri baru menyeruak keluar pada permulaan November 1969. Pada hari-hari permulaan bulan itu, sejumlah kantor berita dunia menyiarkan, Israel bermaksud melakukan pengeboran minyak. Di Teluk Suez. Kala itu, perang gerilya yang dilancarkan Mesir sedang mencapai puncaknya. Keberhasilan sejumlah milisi Mesir menyusup ke kawasan Sinai, lewat Terusan Suez, membuat Israel berang.

Semula sejumlah orang mengira, berita itu mungkin semacam balon percobaan atau psy-war, andaikan pada minggu yang sama kantor-kantor berita itu tak menyiarkan berita lain “bahwa Israel menyewa sebuah rig untuk melakukan pengeboran minyak di Sinai. Pengeboran itu akan dilakukan segera”.

Begitu Kairo menerima berita itu, segera gerak cepat ke berbagai arah dilakukan. Sebab, tampak gamblang Israel bermaksud meredam Perang Gerilya dan mengatakan kepada dunia bahwa kondisi Sinai kondusif. Bila negara itu menyewa rig, berarti negara itu akan melakukan pengeboran minyak di kawasan pantai. Bila satu-satunya pantai yang layak dilakukan pengeboran di kawasan itu terletak di Pantai Sinai di Teluk Suez, berarti-tanpa memandang problem-problem politik atau ekonomis yang ditimbulkannya-pengeboran itu akan dilakukan di hadapan orang-orang Mesir, sedangkan mereka tidak berbuat apa-apa terhadap rig itu. Jadi, tujuan utama pengeboran itu adalah untuk mempermalukan Mesir. Di hadapan dunia.

Jelas, Mesir tak mungkin berdiam diri. Tidak boleh tidak Mesir harus melakukan sesuatu. Namun, apa yang dapat dilakukan Mesir-selain upaya diplomatik-sedangkan rig itu berada di tempat yang jauh. Malah, rig itu tidak ada sama sekali. Sebab, tak seorang pun tahu perihal rig itu dan Mesir juga sama sekali tak memiliki informasi apa pun mengenai rig itu. Hingga pun nama rig itu! Juga, di mana rig itu? Di perairan mana rig itu sedang berlabuh? Berapa besarnya? Perusahaan apa yang membuatnya? Perusahaan apa yang menjadi pemiliknya? Perusahaan apa yang menyewanya? Di manarig itu dibuat?

Demikian halnya berapa kekuatannya? Di lingkungan mana bisa dioperasikan? Hingga kedalaman berapa kemampuannya dalam mengebor? Hinggaberapa lama jauhnya dari tempat basah? Berapa orang yang mengoperasikannya dan dari mana kebangsaan mereka?

Di samping itu, setiap rig memiliki kapal tunda (tugboat)-kapal kecil tapi kuat-yang menariknya dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Atau dari satu pantai ke pantai yang lain. Kapal penarik dari manakah yang membawa rig itu ke Laut Merah? Apa kebangsaannya, berapa kekuatannya, berapa kapasitas bahan bakarnya, dan siapa nakhodanya? Dan, berpuluh-puluh pertanyaan lain yang tiada jawabannya kecuali kekelaman semata!

(Bersambung)

BACA JUGA: Prahara di Benua Afrika (1)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close