Opini

Prahara di Benua Afrika (1)

Pertarungan Antara Badan Intelijen Mesir vs Mossad

PENGANTAR

Mulai hari ini Senayanpost.com akan memuat cerita spionase bersambung “PRAHARA DI BENUA AFRIKA,” kisah pertarungan antara badan intelijen Mesir versus Mossad. Merupakan terjemahan dari buku Al Hifar: Qishshah A’naf Shira’ Bain Al-Mukhabarat Al-Mashriyyah wa Al-Israiliyyah, edisi kedua. Kairo: Al-Dar Al-Masria Publishing & Distribution House Ltd., 1987.

Cerbung diterjemahkan oleh KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung, yang pernah kuliah di Pasca Sarjana di Universitas Kairo Mesir.

Berikut sinopsis dari cerita bersambung itu:

SEUSAI Perang 5 Juni 1967, antara negara-negara Arab dan Israel, ketegangan di kawasan Timur Tengah kian membara. Dalam kondisi yang demikian itu Israel, yang berhasil menguasai Sinai dalam perang tersebut, mengumumkan maksudnya untuk melakukan eksplorasi minyak di Sinai. Untuk merealisasikan maksud tersebut, Israel pun menyewa sebuah rig. Dari sebuah negara Barat. Maksud itu dipublikasikan secara besar-besaran. Ke berbagai media massa dunia.

Mesir memandang maksud Israel tersebut tidak dilatarbelakangi faktor ekonomis. Namun, Israel, lewat upaya tersebut, bermaksud mempermalukan Mesir di hadapan dunia. Sebab, dengan dilakukannya eksplorasi minyak di Sinai, hal itu berarti Mesir tidak hanya tidak mampu menjaga kedaulatannya. Malah, juga sumber daya alamnya.

Mesir pun segera bergerak untuk menghentikan maksud Israel tersebut. Lewat jalur diplomatik. Ternyata, upaya tersebut mengalami kegagalan. Menghadapi jalan buntu lewat jalur diplomatik tersebut, Badan Intelijen Mesir pun menggelar sebuah operasi, dengan nama sandi “Operasi Rig”. Untuk menghancurkan rig tersebut sebelum memasuki Laut Merah. Atau paling sedikit menjadikannya tidak dapat dioperasikan sama sekali.

Selama 17 tahun “kisah” operasi tersebut tak pernah diungkapkan. Baru pada 1987 kisah itu diungkapkan pemerintah Mesir. Saleh Moursi, seorang penulis Mesir yang terkenal dengan karya-karyanya tentang “dunia yang sarat dengan misteri”, alias dunia spionase, segera “meramu” kisah operasi tersebut menjadi sebuah cerita spionase yang menarik berikut ini.

Selamat menikmati.

—oooaRuooo—

MUSIM dingin di Mesir pada 1970 begitu menggigit. Berbagai surat kabar melaporkan, suhu tahun itu turun tajam. Suatu hal yang tak pernah terjadi selama 30 tahun terakhir.

Suatu hari pada permulaan Februari tahun itu, menjelang tengah malam, jalan-jalan di Kairo tampak sangat lengang. Hinggapun di kawasan-kawasan kumuh. Padahal, warga kawasan-kawasan itu biasanya senang begadang. Hingga menjelang fajar tiba. Baik di musim dingin maupun musim panas. Keadaan serupa juga mewarnai jalan-jalan di pemukiman-pemukiman di seputar “Kota Seribu Menara” itu. Termasuk pula jalan-jalan di sekitar Istana El Qobba. Yang terletak di antara wilayah Kairo dan Mesir Baru.

Malah, jalan-jalan di wilayah itu tampak lebih menyeramkan ketimbang jalan-jalan yang lain. Bukan hanya karena hampir tiadanya lampu-lampu yang menerangi jalan-jalan itu, di samping tiadanya orang maupun mobil yang lewat serta tiadanya angin yang menghempas keras dari kebun-kebun di sekitar kawasan itu. Tapi, juga karena di kawasan itu tiada sama sekali pemukiman. Kecuali sebuah gedung besar yang dikelilingi tembok-tembok. Yang dijaga ketat sepanjang siang dan malam.

Gedung itu, dari belakang tembok, tampak bagaikan hantu raksasa yang diam seribu kata. Juga, diselimuti kekelaman yang mencekam. Meski demikian, sejumlah cahaya redup tampak menyeruak lewat beberapa jendela yang bertebaran di sana-sini dan bersembunyi di balik kaca-kaca yang dicat warna biru. Sejak Perang 5 Juni 1967. Dengan kata lain, sejak sekitar tiga tahun yang lewat. Gedung yang menyeramkan itu tidak lain adalah Markas Besar Badan Intelijen Mesir.

Di jantung gedung itu sendiri, beberapa ruangan tampak sarat dengan kesibukan, meski tak terlihat banyak orang yang berlalu-lalang. Ini karena berbagai peralatan elektronik yang bertebaran di gedung itu, sesuai dengan sistem yang berlaku, bekerja seakan tanpa henti. Para petugas yang menangani peralatan itu duduk. Tanpa berbicara sama sekali.

Memang, terkadang salah seorang di antara mereka memberi isyarat. Atau mencari gelombang yang tepat. Atau asyik mendengarkan derit suara yang menyeruak keluar dari peralatan itu. Dari waktu ke waktu, salah seorang petugas mengarahkan pandangannya ke arah tembok utama gedung itu. Yang sarat dengan jam-jam yang bergantungan. Masing-masing jam menunjukkan waktu setempat setiap ibukota negara. Di berbagai kawasan dunia.

Menit demi menit berlalu tanpa perubahan apa pun, andaikan petugas itu tidak tiba-tiba berdiri seakan tersengat aliran listrik. Segera, petugas itu memegang pena dan siap mencatat sesuatu, sementara tangan kanannya mengencangkan earphone. Di telinganya!

Begitu mendapat panggilan, pandangan petugas itu segera terarah pada sebuah jam yang menunjukkan waktu setempat di wilayah pantai timur Amerika Latin. Waktu di wilayah itu menunjukkan pukul empat tiga puluh menit sore. Kemudian, tanpa sadar, pandangannya segera terarah ke jam tangannya-yang memiliki tipe khusus-yang menunjukkan pukul sebelas tiga puluh menit malam. Waktu Kairo.

Begitu panggilan itu usai, selesai pulalah pesan yang ia terima. Begitu ia selesai menerima pesan itu, segera ia tahu, ada seorang temannya yang sedang menunggunya. Di gedung yang sama. Bukan karena pesan itu penting, karena setiap pesan di sini selalu dipandang penting. Tetapi, pengalamannya yang panjang, dengan berbagai persoalan pelik dan misteri, membentuk dalam dirinya perasaan aneh yang membuatnya mampu memilah antara sesuatu yang penting, yang sangat penting, dan begitu sangat penting.

Jika setiap pesan yang diterima berbentuk sandi, dan bila ungkapan sandi itu berbunyi “kacang tanah itu telah kami keringkan dan kentang itu telah kami kupas”, sejatinya ungkapan itu bisa berarti seseorang telah mati. Atau bangunan telah ambruk, dokumen telah berhasil didapatkan, atau seseorang dengan diam-diam telah pergi ke bulan! Selepas tiga menit dua puluh detik tepat-demikian petugas itu mencatat di buku laporannya-berlalu, semua pesan itu telah diterima petugas itu. Lalu, pengirim pesan itu, bernama Maurice, mengecek kembali pesan yang ia kirimkan. Begitu pesan itu rampung dicek, petugas itu lalu mencopot earphone dari kedua telinganya dan mematikan alat penerima sandi. Segera, ia meninggalkan ruangan itu. Dengan membawa pesan yang iaterima dengan sangat hati-hati. Dan, tampak petugas itu begitu terburu-buru.

Perilaku petugas itu memang di luar kebiasaannya. Memang, sejak sekitar sebulan, ia mendapat perintah untuk tidak membincangkan pesan-pesan itu di telpon. Juga, tidak mengirimkan pesan-pesan itu kepada siapa pun. Tapi, ia diperintahkan menyerahkan pesan-pesan itu langsung kepada pihak yang dituju.

Sekitar dua puluh lima menit kemudian, ketika waktu menunjukkan menjelang tengah malam, telpon berdering. Di ruang kerja Amin Houweidi, Direktur Badan Intelijen Mesir saat itu. Segera, Houweidi menjulurkan tangannya untuk mengambil gagang telpon. Meski Houweidi saat itu sedang sibuk bekerja dan menelaah sejumlah laporan, tapi ia tampak gelisah. Seperti halnya seseorang yang sedang menantikan suatu berita penting.

“Hallo!” ucap Houweidi. Singkat.

Segera Houweidi, dengan mendengar suara orang yang berbicara kepadanya, mengenali orang yang berbicara dengannya. Tampak, seakan seluruh panca inderanya tiba-tiba terbangunkan. Ia ingin mengemukakan sejumlah pertanyaan. Namun, kemudian, ia hanya berseru, “Kutunggu kedatanganmu. Segera!”

Memang, demikianlah kesepakatan antara Direktur Badan Intelijen Rahasia Mesir dan Taher Rasmi. Dengan kata lain, keduanya sepakat untuk tidak membincangkan “masalah” itu lewat telpon. Hinggapun telpon di dalam lingkungan gedung badan intelijen itu sendiri. Kerahasiaan mutlak, hingga sejauh yang dapat dilakukan, mesti dijaga. Ini karena operasi yang sedang digelar begitu komplek.

Sejak operasi itu dirancang, operasi itu memang memerlukan kerahasiaan luar biasa. Hingga pun kata-kata yang mereka ucapkan di telpon. Khususnya yang berkaitan dengan operasi. Semua berbentuk sandi. Tak mengherankan bila kata-kata yang didengar Direktur Badan Intelijen Mesir itu sebagai berikut, “Maaf, Pak! Saya akan datang agak terlambat! Apalagi Bapak belum tiba di ruang kerja! Saat ini, saya sedang menikmati kopi Perancis hangat…!” Kata-kata ini berarti ia ingin menemui sang direktur sebelum meninggalkan gedung itu. Dengan membawa berita hangat atau penting!

Amin Houweidi pun meletakkan gagang telpon dan segera berdiri dari tempat duduknya. Dengan cepat ia melangkahkan kedua kakinya menuju pintu. Seakan ia mendahului kedatangan bawahannya yang menelponnya tadi. Juga karena ia tahu, Taher Rasmi segera akan meninggalkan ruang kerja kerjanya, kemudian menyeberangi taman belakang, mengitari bangunan utama, kemudian naik tangga tanpa menggunakan lift. Semua itu memakan waktu sekitar delapan hingga sepuluh menit. Maka, Houweidi pun berdiri di tengah-tengah ruang kerjanya. Yang dihiasi sejumlah kursi kulit mewah.

Meski ruangan itu dilengkapi dengan pemanas, Houweidi merasakan gigitan musim dingin menelusuri seluruh tubuhnya. Meski demikian, tanpa berkedip ia memandangi sebuah peta besar dunia. Dan, pandangannya terarah suatu titik di atas pantai timur Amerika Utara sebelah utara.

Untuk beberapa saat Houweidi berdiri mematung di tempat itu. Sementara itu pandangannya tetap terarah ke titik yang ia pandangi. Seakan, ia melihat langsung ke tempat yang dituju. Yaitu tempat pertemuan antara Sungai Saint Lawrence dan Lautan Atlantik di Kanada Timur.

(Bersambung)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close