Positif Covid-19, 2 Napi di AS Tetap Jalani Eksekusi Mati

Positif Covid-19, 2 Napi di AS Tetap Jalani Eksekusi Mati
Ilustrasi | AFP

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Otoritas Amerika Serikat mengeksekusi mati terpidana kasus pembunuhan, Corey Johnson, Kamis (14/1/2021). Dia disuntik mati meskipun dalam kondisi positif Covid-19.  

Mahkamah Agung menolak permohonan pengadilan lebih rendah yang meminta eksekusi Johnson dan lainnya ditunda sampai sembuh dari Covid-19. Johnson dieksekusi di penjara Terre Haute, Indiana, menggunakan suntikan pentobarbital, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/1/2021).

Johnson bukan satu-satunya terpidana positif Covid-19 yang dihukum mati. Departemen Kehakiman juga menjadwalkan eksekusi mati terhadap terpidana pembunuhan, Dustin Higgs, pada Jumat malam.

Mahkamah Agung mengizinkan agar eksekusi dilanjutkan meskipun Higgs terinfeksi virus corona. Kedua orang itu masing-masing merupakan terpidana ke-12 dan 13 yang dihukum mati di bawah pemerintahan presiden Donald Trump.

Chutkan memerintahkan eksekusi ditunda hingga setidaknya 16 Maret untuk memberi kesempatan Johnson dan Higgs memulihkan kondisi. Alasannya, berdasarkan penjelasan ahli medis, paru-paru dua terpidana yang rusak akibat infeksi virus corona bisa mengakibatkan penderitaan tak terkira begitu mendapat suntikan.  

Keluarga TKI Korban Pembunuhan di Malaysia Minta Pelaku Ditangkap Hakim menilai keputusan untuk melanjutkan eksekusi melanggar Amandemen Ke-8 Konstitusi AS yang melarang hukuman kejam dan tidak biasa. Namun panel hakim Pengadilan Banding AS di Washington DC membatalkan putusan Chutkan dengan perolehan dua berbanding satu.

"(Amandemen Ke-8) Tidak menjamin seorang terpidana mati tanpa rasa sakit, sesuatu yang tentu saja tidak dijamin bagi banyak orang," demikian pertimbangan hakim, mengutip penjelasan Mahkamah Agung.

Johnson divonis mati karena membunuh tujuh orang di Virginia pada 1992 sebagai bagian dari jaringan kejahatan narkoba. Pengacara mengatakan, kliennya memiliki cacat intelektual yang seharusnya tidak bisa dieksekusi.

Pengacara beralasan skor IQ 77 yang ditunjukkan saat persidangan pada 1993 tidak benar. IQ sebenarnya di bawah itu. Pengadilan menggunakan batas IQ di kisaran 70-75 untuk menentukan seseorang mengalami cacat intelektual.

Sementara itu Higgs dihukum terkait penculikan dan pembunuhan tiga perempuan di Patuxent Research Refuge, Maryland, pada 1996. Dia sendiri tidak terlibat langsung dalam eksekusi yang menurut pengacara seharusnya bisa mendapat grasi. Hukuman mati dimulai lagi di pemerintahan Trump.

Dia dikenal sebagai politikus yang sejak lama mendukung hukuman mati. Sementara itu presiden terpilih Joe Biden menegaskan akan berusaha untuk menghapus kembali hukuman mati.