Opini

Politisi Sedang Terjangkit ‘Doraemon Sindrom’

“Aku ingin begini, aku ingin begitu, aku ingin ini ingin itu, banyak sekali…” sepenggal lirik lagu Doraeman dalam kartun serial Doraemon. Setelah lagu itu, lalu kucing rumahan bernama Doraemon merogoh kantong ajaib di bagian depan bajunya. Dan jadilah segala yang diinginkan. Kucing Doraemon, ciptaan animator Jepang itu, telah memenuhi ruang khayal anak-anak untuk mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin di alam nyata.

Saat ini, sindrom Doraemon sedang ‘menjangkiti’ politisi di tanah air. Wakil Ketua DPR yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon membuat pernyataan panas di akun Twitternya, ingin pemimpin Indonesia seperti Presiden Rusia, Vladimir Putin, “Klu ingin bangkit n jaya, RI butuh pemimpin spt Vladimir Putin: berani, visioner, cerdas, berwibawa, nggak byk ngutang, nggak planga plongo,” kicau Fadli Zon di akun Twitter, @fadlizon, Jumat (30/3/2018).

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ingin pemimpin seperti Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri dan juga mantan Menteri Senior Singapura. Seperti yang disebutkan Sekjen PAN Eddy Soeparno.

“Lee Kuan Yew (eks Perdana Menteri Singapura) menurut saya. Beliau berkarakter, memegang kekuasaan dengan konsep amanah, tidak menyelewengkan mandat, berhasil membangun identitas bangsa dan melihat jauh ke depan dan sangat intelektual.”

Politisi lainnya dari PAN Mulfachri Harahap berpendapat, “Kalau saya melihat bahwa pemimpin Indonesia yang ideal adalah orang yang harus memiliki komitmen untuk melaksanakan janji-janji kemerdekaan, memiliki pemahaman yang baik tentang nilai-nilai kebangsaan kita. Nasionalisme di atas nilai-nilai yang disebutkan Fadli. Ya mesti dong, karena kita ini kan negara dengan banyak kultur, suku, latar belakang masyarakat yang berbeda dan kemudian kita mengikatkan diri dalam sebuah ‘nation’ yang namanya Indonesia. Yang cocok yang nasionalismenya tinggi dan cinta persatuan.

Sementara politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), inginkan Presiden seperti Erdogan. Hal ini disampaikan oleh Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

“Kita juga punya figur Erdogan, Presiden Turki. Mampu menghadirkan infrastruktur kelas dunia dengan dana sendiri. Membangun industri dalam negeri dan memperkuat industri pertahanan. Perhatian pada kondisi umat di seluruh dunia. Dan saat yang sama, mampu menaikkan pendapatan per kapita masyarakat secara signifikan. Syaratnya; integritas, kapasitas dan berpihak pada anak bangsa sendiri.”

Untuk Indonesia, adalah sangat tidak mungkin saat ini mempunyai pemimpin seperti Vladimir Putin, yang sudah pasti menganut komunis dan sosialis, yang sangat bertentangan dengan sikap rakyat Indonesia terhadap paham politik Rusia, karena adanya luka sejarah pada peristriwa G 30 S/PKI.

Sementara bila ingin seperti pemimpin Singapura Lee Kuan Yew, juga sangat tidak mungkin karena kultur masyarakat Singapura sangat jauh berbeda. Juga luas negara, Singapura hanya berupa titik kecil yang tidak kelihatan di dalam peta dunia ukuran satu meter. Sementara Indonesia begitu luasnya diapit dua samudra besar, Pasifik dan Samudra Indonesia. Menjadi pemimpin di Singapura, sepertinya tidak serumit menjadi pemimpin di Indonesia, yang cukup konsentrasi kepada pembangunan ekonomi maka urusan sudah selesai.

Juga tidak mungkin seperti pemimpin Turki. Erdogan pasti akan menangkap orang-orang yang menentang sikapnya. Tidak peduli, rakyat biasa, tentara, polisi, ulama, mahasiswa, politisi dan siapa saja, akan digulung bila mencoba menentangnya. Itu terbukti ketika upaya kudeta beberapa waktu lalu, ribuan orang ditangkap, dan entah berapa jumlah korban nyawa. Erdogan adalah seorang diktator di abad modern ini.

Tetapi sesungguhnya, bila dibawa ke masalah psikologi, mereka yang menginginkan seseorang menjadi orang lain, masuk dalam gangguan kejiwaan bernama sociopathy atau antisosial. Pribadi yang seperti ini biasanya akan selalu sinis, cenderung tidak mempunyai perasaan, kurang merasa empati, kerap menghina orang lain entah itu penderitaan, hak maupun perasaan.

Ciri-ciri sociopathy, kurangnya rasa menyesal atau bersikap acuh tak acuh, cepat marah dan cukup agresif, dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan adanya norma sosial yang berlaku di masyarakat.

Tetapi saya lebih menyukainya dengan menyebutnya sedang terjangkit sindrom Doraemon. Sesuai karakternya, Doraemon dengan kantong ajaibnya bisa memberikan sesuatu yang diinginkan orang lain, terutama orang terdekat, sementara dia sendiri meyakini tidak bisa melakukannya. Lagipula itu hanya ada dalam film kartun.

Di saat politisi di negara sendiri menghendaki pemimpin seperti pemimpin negara lain, sementara negara lain menghendaki negaranya dipimpin oleh seseorang yang seperti pemimpin Indonesia. Di masa lalu, banyak sekali negara yang berharap negaranya dipimpin oleh orang seperti Soekarno. 

Sementara di masa kini, rakyat beberapa negara  bermimpi memiliki pemimpin seperti Joko Widodo (Jokowi), misalnya Malaysia. Nama Presiden Joko Widodo cukup populer di Malaysia hingga sebagian kalangan pengusaha disana sempat melontarkan candaan bahwa Jokowi layak menjadi Perdana Menteri di negara itu.

Ini diungkapkan Konsul Jenderal Indonesia di Kuching, Malaysia, Jahar Gultom, kepada Tempo.co, Jumat, (16/3/2018).

“Jokowi pimpin Malaysia sajalah,” ujar Jahar mengutip pernyataan seorang pengusaha Malaysia sambil menambahkan ini karena kinerja Jokowi dinilai positif, dikutip dari Teras.id.

Negara modern seperti Jepang juga mengidolakan Jokowi. Surat kabar Jepang bernama Nihon Keizai Shimbun atau biasa disebut Nikkei, membahas Jokowi secara khusus dalam dua halaman.

Dalam ulasannya, berita tersebut diberi judul ‘Presidenku Adalah Seorang Tukang Kayu’. Disebut pula kalau Jokowi merupakan sosok yang sangat ramah dan populer. Bahkan, dalam ulasan yang panjang itu penuh dengan pujian. Ya, seperti yang kita ketahui kalau Jepang adalah negara dengan etos kerja yang sangat luar biasa, menghargai waktu dan sangat disiplin. Mungkin inilah alasan mengapa Presiden Indonesia ini diulas media massa Jepang karena etos kerja Jokowi dalam tugasnya.

Pada kesimpulannya, koran Nikkei menyebut para politisi Jepang harus belajar dari sosok Jokowi ini. Koran Nikkei sendiri merupakan surat kabar nasional Jepang yang fokusnya pada berita ekonomi dan keuangan.  

Agar tidak menjadi bahan ejekan,  marilah kita belajar melihat gajah di pelupuk mata sendiri.

*Penulis adalah pengamat sosial politik, tinggal di Jakarta

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close