Opini

Politik Lentur Ala Jokowi

“KENAPA sih Presiden kok lemah gitu? Mau mau aja ngikutin tekanan massa? Saya jadi ilfill ma Jokowi.”

Begitu saya baca status seorang teman yang saya kenal dulu sebagai pendukung berat saat Pilpres lalu. Kalau cebong, dia cebong anti karat. Tapi semakin ke sini dia seperti ragu dengan apa yang dia dukung.

Saya jadi dejavu saat pertama kali Jokowi terpilih menjadi Presiden pada 2014.

Keluhan yang sama terdengar dari mereka yang berjibaku di jalanan untuk memenangkannya. “Jokowi plonga plongo.” “Presiden boneka” “Presiden ingusan.” Begitu narasi yang dibangun setiap menit saat melihat kebijakan Jokowi tidak sesuai dengan yang diinginkan.

Apa yang diinginkan pendukung Jokowi?

Sebuah tindakan tegas dan keras, dimana mereka bisa bersorak sorai. Seperti Ahok. Lebih mudah membangun militansi saat mendukung Ahok, karena apa yang dia lakukan terlihat jelas.

Tapi apa yang terjadi ? Ahok kalah. Dan kekecewaan berujung penyesalan, karena akhirnya sampai sekarang Jakarta menjadi seperti kota tak bertuan.

Kenapa Ahok bisa kalah? Ibarat main layang-layang, Ahok selalu bermain “tarik” yang keras ketika ada musuhnya. Dia tidak pernah main “ulur”.

Ketika lawannya tahu bawah Ahok cuman bisa gaya tarik, mereka membangun taktik jitu untuk mengalahkannya, yaitu membangun kebencian kepada Ahok lewat ras dan agama dan perilaku. Ahok digambarkan sebagai musuh bengis dan lawannya adalah pahlawan yang santun.

Tasssss. Akhirnya Ahok pun masuk penjara.

Dan aku mengikuti gerakan Jokowi sampai sekarang dan mengagumi kelenturannya. Tetapi tetap tidak mudah menebak langkah bayangannya.

Jokowi ini beda. Dia memainkan tarik ulur dengan cerdas. Dia lentur, bergantung bagaimana angin dan lawannya bermain. Lawannya sampai bingung, di mana kelemahan si “planga plongo” ini ya? Dihadapi keras, dia melunak. Dihadapi dengan lunak, dia mengeras.

Sulit mendeteksi kelemahan Jokowi di mana. Mau dihina apa pun, Presiden tetap tersenyum. Tapi kerisnya di belakang. Gerakannya lebih kejam tanpa ketahuan dan saat lawannya tidak sadar. Bum! Mereka mati dengan luka dalam beberapa bulan kemudian.

Lama-lama mereka tahu bahwa Jokowi itu bukan plonga plonga seperti yang mereka kira selama ini. “Orang ini mirip Soeharto.” begitu bisik-bisik mereka menggambarkan senyum Jokowi dengan smiling general yang selama 32 tahun mereka takuti.

Lawan Jokowi yang tadinya bilang plonga plongo, mendadak bilang “rezim Jokowi kejam mirip Soeharto”. Aneh, kan? Berbalik 180 derajat.

Jadi saya ketawa saat teman saya itu bilang Jokowi lemah. Lemah menurut pemikiran dia, karena dia berharap Jokowi bertarung seperti model MMA. Petarung keras dengan gaya bebas.

Tapi Jokowi bukan. Dia orang Solo. Semakin besar lawannya, dia bukan semakin menjauh. Dia malah mendekati sedekat-dekatnya sampai musuhnya luluh dan menganggap dia seperti saudara dekat. Di sanalah pelan-pelan Jokowi mematikan langkahnya sehingga dia tidak bisa bergerak.

Jadi, saat gelembung demo semakin lama semakin besar, Jokowi malah membuka kerannya. Demo pun tersalurkan seperti air mengalir deras. Akibatnya memang rusuh, tapi apinya kecil dan gampang dipadamkan. Lebih bahaya kalau keran ditutup, pipa saluran bisa meledak.

Sesudah air tinggal tetesan, Jokowi pun melangkah mendekati mereka. Oke, tinggal pasang selotip saja. Dan semuanya akhirnya kembali tenang. Lawan baru sadar beberapa bulan kemudian kalau mereka kalah. Mereka ngamuk-ngamuk dan Jokowi tersenyum melambaikan tangan dari kejauhan.

Dia orang Solo. Begitu tulisanku saat 2014.

Dan aku mengikuti gerakan Jokowi sampai sekarang dan mengagumi kelenturannya. Tetapi tetap tidak mudah menebak langkah bayangannya.

Seruput kopinya.

*Penulis buku Tuhan dalam Secangkir Kopi

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close