Catatan dari Senayan

Politik Eksploitasi Pasar, Masjid, dan Leluhur

ADA warna lain menjelang Pemilu 2019 ini dibanding pemilu- pemilu sebelumnya. Kampanye pemillihan calon anggota ĺegislatif (Pileg) untuk DPR RI, DPD, dan DPRD terasa kalah pamor dari kampanye Calon Presiden dan Wakilnya (Pilpres). Itu merupakan konsekuensi dari Pileg dan Pilpres yang dilangsungkan serentak

Ada fenomena melemahnya kekompakan partai-partai koalisi dalam kampanye capres dan cawapres. Dua kandidat Presiden dalam Pemilu 2019 Joko Widodo (Jokowi) bernomor 01 dan Prabowo Subianto bernomor 02 selalu diidentilkkan dengan calon usungan PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, walaupun sebenarnya masing-masing calon diusung oleh gabungan partai (koalisi).

Wajar kalau kemudian Partai Demokrat yang merasa sebagai parpol papan atas enggan mengampanyekan usungan koalisinyq, Prabowo. Terasa aneh jadinya anggota koalisi partai pengusung Prabowo malah membebaskan kader-kadarnya untuk mengkampanyekan siapa pun capresnya. Demokrat merasa rugi mengampanyekan Prabowo di daerah yang capres favoritnya Jokowi. Dengan demikian tak terbantahkan adanya kolisi setengah hati.

Fenomena yang lebih terasa lagi adalah eksploitasi terhadap tiga hal, yakni pasar, masjid, dan para leluhur tokoh bangsa. Terlebih di media massa dan media sosial. Kampanye yang seharusnya diisi adu gagasan tentang pembangunan perekonomian malah disimplifikasikan sekadar mengeksploitasi harga bahan kebutuhan pokok di pasar. Calon yang satu menyatakan harga bahan kebutuhan pokok mahal, calon lainnya menyatakan sebaliknya. Anehnya para kader masing-masing partai pendukung dan media massa ikut terjebak perang harga ini.

Walaupun model kampanye seperti itu sah-sah saja tetapi tetap terasa dangkal dan tidak mengedukasi masyarakat. Karena sesungguhnya masyarakat dapat melihat sendiri kenyataan kondisi seperti apa dihadapkan dengan manipulasi yang dilakukan para kandidat maupun tim suksesnya. Pengetahuan masyarakat sendiri tentu selalu lebih alami, tanpa ada rekayasa dan manipulasi.

Eksploitasi masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya juga marak dalam masa kampanye kali ini. Kesempatan khutbah Jumat, ceramah di gereja dan tempat ibadah lainnya digunakan untuk mengampanyekan pasangan capres-cawapres dengan berbagai varian kemasan.

Dalil-dalil agama, kutipan ayat suci, dan ajaran agama dimainkan untuk membujuk publik agar kelak memilih pasangan capres dan parpol tertentu. Surga dan neraka pun menjadi bagian narasi biasa untuk mencintai dan membenci pasangan capres dan parpol tertentu. Ada juga pendikotomian partai setan dan partai pembela dan dan penista agama, dan sebagainya.

Pembodohan dan pendangkalan makna begitu mudah dilontarkan demi capres dan parpol tertentu. Meski ada rambu-rambu yang mengatur larangan berkampanye di tempat ibadah, seperti masjid dan gereja, para juru kampanye yang tampil menjadi khatib, juru dakwah, dan penceramah agama memanfaatkan celah aturan main dalam berkampanye dalam kemasan peraturan perundangan.

Kampanye pilpres dan pileg kali ini juga diwarnai pernyataan para pendukung yang “menjual” dan mengeksploitasi nama besar tokoh-tokoh bangsa. Bung Karno, Bung Hatta, Sudirnan, Soeharto, para pendiri NU, ditonjolkan untuk meyakinkan rakyat. Mereka yang mengeksploitasi nama-nama besar itu mungkin ingin memanfaatkan fanatisme dan sentimen sempit sebagian rakyat. Akibatnya ada yang tega memanipulasi realitas tokoh yang sejatinya rekam jejaknya tercatat sebagai antidemokrasi digunakan untuk menghadapi hajatan demokrasi. Aneh dan ironis.

Sudah hampir sepertiga masa kampanye dilalui, rasanya kita belum juga beranjak ke tingkatan berdemokrasi yang lebih dewasa. Muatan dan narasi yang dikampanyekan para juru kampanyekan masih bicara tentang wacana, romantisme, janji-janji, dan mimpi-mimpi prorakyat dan prokemajuan. Fakta sejarah, angka, data dengan mudah dikaburkan dan bahkan dimanipulasikan. Kita masih menunggu para kontestan dan pendukungnya mengubah cara dan gaya kampanye dalam sisa waktu yang ada. Sukses pemilu.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close