Polisi Selidiki Dugaan Penganiayaan Antar Dosen UIN Surabaya

Polisi Selidiki Dugaan Penganiayaan Antar Dosen UIN Surabaya

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Kasus dugaan penganiayaan antar dosen di Universitas Islam Negeri Surabaya (UINSA) didalami oleh Polrestabes Surabaya. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir, Rabu (12/8/2020).

Kapolrestabes Kombes Pol Jhonny Edison Isir menyatakan benar adanya laporan tersebut. Laporan polisi bernomor: STTLP/B/736/VIII/RES.1.6/20/Jatim/Polrestabes ini berisi laporan Dr Ahmad Nur Fuad, MA (56) Wadir Pasca Sarjana UIN Surabaya dianiaya oleh SU (57) ketua Prodi Studi S2 Islam UIN Sunan Ampel Surabaya.

“Benar ada laporan dari dosen tersebut, masih didalami,” kata Kombes Pol Jhonny Edison Isir.

Ahmad Nur Fuad menjelaskan bahwa dirinya memperoleh Beasiswa dari Kemenpora. Hanya saja, sebagai atasannya, SU merasa tak dihargai. Sampai akhirnya Fuad dan SU bertemu di ruangan dan terjadi kesalahpahaman.

Hingga SU diduga melakukan tindakan anarkis dengan memukul beberapa kali ke Fuad di ruangannya. Pemukulan dilakukan S sebanyak lima kali dan mengenai kepala bagian kiri.

Kedua petinggi sekaligus pendidik di tingkat universitas ini pun bersitegang dan menghadap ke pimpinan universitas. Hanya saja keduanya tak mendapatkan titik terang.

“Saya sudah menjelaskan tapi dia (SU) tak mendengarkan. Jadi pemukulan ini pun saya laporkan ke polisi seusai mendapatkan ijin dari pimpinan universitas. Bahkan ada rapat Senat untuk membahas perkara ini,” jelas Fuad melalui siaran persnya.

Tak hanya melaporkan aksi kekerasan ini, Fuad juga melakukan visum pada titik luka badannya. Visum ini bertujuan untuk memperkuat laporan kepolisian supaya bisa ditangani sesuai dengan berkas laporan yang ada.

Rektor Prof. H. Masdar Hilmy, mengatakan kejadian itu benar adanya. Rektor pun mengatakan bahwa hari Selasa (11/8/2020) ia telah memanggil kedua pihak untuk dimintai kejelasan terkait duduk perkara.

Selaku pimpinan, Rektor menyayangkan tindak kekerasan fisik yang dilakukan. Rektor juga berharap bahwa kekerasan tidak dilakukan dalam upaya penyelesaian masalah.

“Apapun bisa dibicarakan. Jangan sampai ada kekerasan fisik. Saya sudah sampaikan itu. Tapi memang yang bersangkutan mengaku khilaf karena sedang marah,” ujar Prof. Masdar, Rabu (12/8/2020).

Kaitannya dengan korban, Rektor juga telah memberikan masukan untuk sedapat mungkin mengupayakan penyelesaian lewat jalur kekeluargaan. Sembari berupaya mencari cara menghentikan tindak tanduk kekerasan yang dilakukan.

“Tapi kalau Pak Wadir mau melakukan visum, disilakan. Asalkan cara-cara yang ditempuh adalah legal dan tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan,” imbuh Prof. Masdar.

Kendati sempat tidak menduga kejadian tersebut akan dibawa ke ranah hukum, Rektor memaklumi hak konstitusional Wadir sebagai warga negera yang memiliki kebebasan.

“Bahwa yang bersangkutan dalam hal ini korban memilih jalur hukum, itu sudah di luar kewenangan Rektor untuk mencegah,” tegas Prof. Masdar.

Namun, secara kelembagaan Rektor juga menegaskan bahwa hal tersebut telah diupayakan untuk diselesaikan melalui Komite Etik Senat Universitas. Tentunya dengan tetap mengutamakan upaya-upaya rekonsiliasi dan mediasi bagi kedua belah pihak.

“Kita berupaya untuk menempuh cara-cara yang elegan dan bermartabat untuk menyelesaikan hal ini agar tidak merugikan kedua-duanya,” kata Prof. Masdar Hilmy. (Jo)