Polisi Kantongi Bukti Keterkaitan Unggahan Anggota KAMI dengan Demonstrasi Ricuh

Polisi Kantongi Bukti Keterkaitan Unggahan Anggota KAMI dengan Demonstrasi Ricuh

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Polri mengaku mengantongi bukti adanya keterkaitan unggahan oleh tiga anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dengan demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang berujung ricuh. 

Ketiga anggota KAMI itu di antaranya, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat. 

"Kalau penyidik sudah menahan seseorang, menersangkakan seseorang, itu sudah tidak ada keragu-raguan lagi," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Awi Setiyono, Jumat (16/10/2020). 

Dia mengatakan, diperlukan alat bukti yang cukup untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka. 

Lalu, butuh minimal dua alat bukti yang cukup untuk membawa sebuah kasus ke tahap persidangan. Pembuktian itu yang kemudian menjadi tugas penyidik. 

"Tugasnya penyidik untuk membuat konstruksi hukum. Sehingga, apa yang dikatakan yang bersangkutan di medsos, kemudian ditarik benang merah sampai di lapangan, implementasinya bagaimana, itu kan tugasnya penyidik untuk membuktikan itu," ucap dia dikutip dari Kompas.com.

Salah satu bukti yang dikantongi penyidik berupa keterangan saksi. Selain itu, penyidik sudah meminta keterangan ahli bahasa, ahli ITE, serta ahli hukum pidana. 

Terkait kasus ini, polisi menetapkan sembilan orang sebagai tersangka. Sebanyak 4 orang tersangka terkait demonstrasi di Medan, Sumatera Utara dan 5 orang yang ditangkap di Jabodetabek. 

Tersangka yang diduga terkait demo di Medan yakni KA, JG, NZ, WRP. 

Keempatnya ditangkap di Medan dalam kurun waktu 9-12 Oktober 2020. KA atau Khairi Amri merupakan Ketua KAMI Medan.

Unggahan para tersangka dalam grup aplikasi WhatsApp “ KAMI Medan” diduga mengandung ujaran kebencian atau hasutan hingga menyebabkan aksi berujung anarkistis.

Selain itu, lima tersangka yang ditangkap di Jabodetabek diduga melakukan tindak pidana yang sama, yakni menyebarkan konten berisi ujaran kebencian berdasarkan SARA maupun hoaks hingga aksi berakhir ricuh. 

"Berkaitan dengan penyebaran dengan pola hoaks, mengakibatkan anarkis dan vandalisme, sehingga membuat petugas luka, barang-barang dinas rusak, gedung, dan fasilitas umum,” tutur Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono, Kamis (15/10/2020). 

“Semuanya membuat kepentingan umum terganggu,” kata Argo.

Unjuk Rasa Kelima tersangka terdiri dari, KA, DW, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat. 

Ketiga nama terakhir merupakan petinggi KAMI. Adapun Anton ditangkap di daerah Rawamangun pada 12 Oktober 2020. 

Pada 13 Oktober 2020, polisi menangkap Syahganda di Depok dan Jumhur di Jakarta Selatan. 

Tersangka KA ditangkap di Tangerang Selatan pada 10 Oktober 2020. Sementara itu, polisi tak merinci kapan DW ditangkap. 

Saat ini, semua tersangka ditahan di Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri. Polisi menegaskan tidak akan menangguhkan penahanan para tersangka.