Polri

Polda Metro Serahkan Data 11 Penjahat yang Ditembak Mati ke Ombudsman RI

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengaku telah memberikan kepada Ombudsman Republik Indonesia (ORI) terkait tewasnya 11 pelaku kejahatan yang ditembak mati polisi dalam Operasi Kewilayahan Mandiri. Nico memberi keterangan mewakili Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis.

Dia juga memberikan bukti-bukti yang dibutuhkan. Nico menyerahkan sepenuhnya hasil kajian Ombudsman.

“Saya serahkan ke ombudsman. Itu gini, di pasal 30 UU Ombudsman itu diatur bahwa apa yang sedang dilakukan pemeriksaan oleh Ombudsman itu nanti yang mengeluarkan hasilnya itu Ombudsman, bukan kita. Jadi tanyain nanti ke Ombudsman. Kalau terkaitnya ya terkait dengan itu, terkait dengan tindakan tegas yang dilakukan oleh kepolisian,” ujar Nico di Mapolda Metro Jaya, Senin (13/8/2018).

Mantan Direktur Narkoba Polda Metro Jaya ini telah memberikan semua data yang dibutuhkan Ombudsman. Salah satunya adalah visum dari pelaku kejahatan.

“Iya sudah, sudah dikasihkan,” katanya.

Sebelumnya, Ombudsman Republik Indonesia (ORI) memanggil Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis atas tewasnya 11 orang diduga pelaku kejahatan jalanan. Ombudsman ingin mengetahui penyebab petugas menembak mati 11 penjahat tersebut.

“Mungkin kalau dia (yang menembak mati adalah) Polda Metro, kami akan undang Pak Kapolda (Idham Azis),” kata anggota komisioner Ombudsman Adrianus Meliala di Kantor ORI, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Pusat, Senin (23/7/2018).

“Jadi jangan karena dia preman, bertato, agak suaranya naik sudah dikatakan sebagai (penjahat) bisa ditembak. Nggak bisa begitu,” ujarnya.

Seperti diketahui, menjelang pergelaran Asean Games 2018, Polda Metro Jaya melaksanakan operasi kewilayahan cipta kondisi untuk memberantas kejahatan jalanan. Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis telah memerintahkan anak buahnya tak segan memberikan tindakan tegas kepada pelaku.

Hasilnya, 52 pelaku kejahatan ditembak saat penangkapan, 11 di antaranya tewas dalam rentan waktu 3 sampai 12 Juli. Sejumlah aktivis hak asasi manusia mengecam aksi yang tergolong extra judicial killing itu.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close