PKI dan Sumur Tua di Magetan

PKI dan Sumur Tua di Magetan
Amidhan Shaberah

Oleh KH Amidhan Shaberah

INGAT lubang buaya di Jakarta Timur? Ya. Itulah “kuburan” 7 pahlawan revolusi yang dibantai dan dibunuh PKI. 

Sumur tua tampaknya menjadi tempat favorit PKI untuk mengubur korban-korban pembantaiannya. Tinggal masukkan mayat, lalu diurug dengan tanah, sampah, dan apa saja untuk menutup sumur tua itu. Tak perlu menggali tanah. Itulah kejamnya PKI. Sumur-sumur tua itu pula yang dipakai untuk mengubur mayat orang-orang yang dibantai PKI di Magetan. 

Magetan menjelang pemberontakan PKI di Madiun 18 September 1948 adalah ladang pembantaian manusia. Lokasi Magetan yang dekat  Madiun -- pusat gerakan PKI;  dengan perkebunan tebu yang luas dan sederet pabrik gula, kemudian banyak sumur tua dan transportasi lori tebu yang masuk ke kampung-kampung --  menjadikan wilayah Magetan jadi tempat pilihan PKI   untuk  pembantaian orang-orang yang tidak disukainya. Korban pembantaiannya tidak hanya orang asal Magetan atau Madiun. Tapi juga  banyak yang berasal dari wilayah lain.

Sumur  Tua di  Desa Soco

Soco adalah sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi, Madiun. Desa Soco termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Dalam peristiwa berdarah pemberotakan PKI tahun 1948, Soco memiliki sejarah tersendiri.

Di desa inilah terdapat sebuah sumur tua yang dijadikan tempat pembantaian. Ratusan korban pembunuhan keji yang dilakukan PKI ditimbun jadi satu di lubang sumur yang garis tengahnya tak lebih dari satu meter itu.

Letak Soco yang pas  --  dekat dengan lapangan udara dan dipenuhi tegalan yang banyak sumurnya, menjadikan kawasan itu  dipilih PKI untuk  ladang pembantaian. Apalagi desa ini juga dilewati rel lori pengangkut tebu ke pabrik gula Glodok, Kanigoro dan Gorang-Gareng. Gerbong kereta lori dari pabrik gula Gorang-Gareng itulah yang dijadikan kendaraan mengangkut para tawanan untuk dibantai di sumur tua di tengah tegalan desa Soco.

Di sumur tua desa Soco ditemukan 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sementara sisanya embuh siapa. Sumur-sumur tua yang tak terpakai di desa Soco memang dirancang oleh PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.

Beberapa nama korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan Ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat termasuk KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.

Di Soco sendiri terdapat dua buah lubang sumur yang dijadikan tempat pembantaian. Kedua sumur tua itu terletak tidak jauh dari rel kereta lori pengangkut tebu. Para tawanan yang disekap di pabrik gula Rejosari diangkut secara bergiliran untuk dibantai di Desa Soco. Selain membantai para tawanan di sumur Soco, PKI juga membawa tawanan dari jalur kereta yang sama ke arah Desa Cigrok. Kini, desa Cigrok dikenal dengan nama Desa Kenongo Mulyo.

Terungkapnya sumur tua di Soco sebagai tempat pembantaian PKI bermula dari igauan salah seorang anggota PKI yang turut membantai korban. Selang seratus hari setelah pembantaian di sumur tua itu, anggota PKI ini mengigau dan mengaku ikut membantai para tawanan.Setelah diselidiki dan diinterogasi, akhirnya dia menunjukkan letak sumur tersebut. Sekalipun letak sumur telah ditemukan, namun penggalian jenazah tidak dilakukan pada saat itu juga. Hal ini disebabkan oleh kesibukan pemerintah RI dalam melawan agresi Belanda yang kedua 19 Desember 1948 dan Serangan Umum 1 Maret 1949. 

Awal tahun 1950-an, barulah sumur tua di desa Soco digali. Salah seorang penggali sumur bernama Pangat menuturkan, penggalian sumur dilakukan tidak dari atas, namun dari dua arah samping sumur untuk memudahkan pengangkatan jenazah. Penggali sumur dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri atas enam orang.

Menurut Pangat, mayat-mayat yang dia gali pada waktu itu sudah dalam keadaan hancur lebur seperti tape singkong. Daging dan kulit jenazah hanya menempel sedikit di antara tulang-belulang. Di kedalaman sumur yang sekitar 12   meter, regu pertama menemukan 78 mayat, sementara regu kedua 30 mayat. Semua jenazah dihitung hanya berdasarkan tengkorak kepala, karena tubuh para korban telah rusak. 

Kini di tempat pembantaian itu dibangun monumen peringatan kekejaman PKI.  Tujuannya agar masyarakat waspada dan hati-hati terhadap provokasi PKI dalam gerak-gerik politiknya. Juga tak mudah melupakan sejarah busuk gerakan komunisme tersebut.

Sumur Tua di Desa Bangsri 

Dari sejumlah tempat pembantaian yang digunakan PKI di sekitar Magetan, sumur tua desa Bangsri adalah yang paling awal dipakai orang-orang paku arit.   Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela pohon di dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI.

Para korban pembantaian di Bangsri berasal dari Desa Selo Tinatah. Mereka dibantai sebelum pemberontakan PKI Madiun 18 September 1948. Mereka yang tertangkap PKI kemudian ditahan di dusun Dadapan. 

Beberapa hari menjelang hari pemberontakan, para tawanan pun disembelih di lubang pembantaian di tengah tegalan tersebut. Mayat korban penybelihan ditumpuk di Sumut tua Bangsri.

Sumur Tua di  Desa Cigrok

Sumur tua di Desa Cigrok ini hampir sama dengan sumur tua di Desa Soco, sama-sama tidak terpakai untuk mengambil air. Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat yang pantang menimbun sumur setelah tidak digunakan lagi, sumur tua Desa Cigrok pun demikian. Tak dipakai, juga tak ditimbun oleh pemilik maupun masyarakat. 

Sumur tua itu dibiarkan sampai tertimbun sendiri oleh peristiwa alam. Seperti tertutup debu, dedaunan, ditumbuhi lumut, pohon perdu, dan lain-lain. Sumur tua Desa Cigrok terletak di rumah seorang warga desa bernama To Teruno. Ia sebenarnya bukanlah anggota PKI, justru dialah yang melaporkan kekejaman PKI di sumur miliknya itu kepada kepala desa. 

Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan adzan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga jadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua desa Cigrok. Selain KH Imam Shofwan dan dua puteranya, terdapat pula Hadi Addaba dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari Kharis Suhud.  Imam sebenarnya ikut mengawal KH Imam Mursjid ketika diciduk dari pesantrennya, namun di tengah jalan mereka terpisah. Jenazah Imam Faham akhirnya ditemukan di sumur tua itu, sementara jenazah KH Imam Mursjid hingga kini belum ditemukan.

Sumur Tua di  Desa Kresek

Selain beberapa sumur di Magetan, tempat pembantaian  korban kebiadaban juga ditemukan di sebuah lubang di dusun Kresek, desa Dungus. Di lubang pembantaian di tepi bukit ini ditemukan 17 jenazah. Mereka diantaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan, dan masyarakat biasa.

Pembantaian di dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Danmereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua.Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang janda warga Desa Kresek yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu. 

Kini   di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan "kekejaman PKI pada tahun 1948"  tersebut.Sebagaimana monumen di Desa Soco, monumen keganasan PKI di Kresek  dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya; agar masyarakat tidak mudah melupakan sejarah yang mengerikan itu. (*)

KH Amidhan Shaberah adalah Ketua MUI 1995-2015 dan Komnas HAM 2002-2007