Opini

Pisahkan Anak-anak dari Orangtua Teroris!

ZAMAN sekarang, bukan saja salah bergaul. Salah pengajian dampaknya jauh lebih berbahaya. Itu dialami IM, 30 tahun, warga yang tinggal di Wonokromo, Jatim.

Tadinya IM lelaki biasa. Sholat seperti biasa. Jemaah di masjid dan gayeng. Sehari-hari IM berjualan makaroni yang dititipkan ke warung sekitar rumah kontrakannya. Anaknya tiga. Masih piyik.

Dua bulan belakangan IM berubah. Ia makin tertutup. Istrinya yang semula berjilbab biasa, mulai memakai jilbab hitam panjang hitam dengan cadar. Anak-anaknya jarang main ke luar.

IM mengikuti sebuah pengajian entah di mana. Pandangannya tentang dunia semakin kelam. Ajaran agama yang dihembus-hembuskan ke kepalanya penuh kebencian.

IM tergila-gila pada ISIS. Ia membenci polisi yang dianggap sebagai pihak yang sering menjadi penghalang tegaknya hukum agama. Tidak ada jalan lain bagi IM, kecuali berjihad.

Jihadnya simpel. Cukup jadi ganas dan barbar. Tandanya ia sudah menegakkan agama.

Maka hari itu, IM datang ke Polsek Wonokromo. Pura-pura membuat pengaduan. Polisi menerimanya tanpa curiga. Rakyat yang mengadukan masalah ke polisi, apapun aduannya, memang harus ditampung. Harus diperlakukan dengan baik.

Tetiba IM mengeluarkan golok dari tas hitamnya. Membacok seorang polisi. Kena di kepala, pipi dan tangan. Untung saja rekan polisi lainnya sigap. IM dilumpuhkan dengan timah panas. Tidak mati.

Orang sejenis IM banyak bertebaran. Malam takbiran kemarin, ada orang goblok mau meledakkan pos polisi di Jateng. Dengan tas ransel, ia mendekati pos polisi yang sibuk mengatur lalu lintas.

Lalu duuaar! Tasnya meledak. Mengenai dirinya sendiri. Tidak ada polisi yang terluka.

Di Serang juga ada penyerang polisi dengan golok. Juga di Jabar. Atau bom Thamrin yang mensasar pos polisi di tengah jalan.

Kita tahu, di bawah Kapolri Tito Karnavian, Densus 88 terus merangsek jaringan teroris. Mereka membongkar sel-sel radikal yang berbahaya. Gerakannya lebih senyap tapi hasilnya nyata.

Bandingkan dengan periode-periode lalu. Penanganan teroris sering cuma besar di media. Kadang malah ada siaran langsung segala. Seperti film koboi. Tapi efektifitasnya rendah. Gerakan teroris terus berbiak.

Saya gak tahu, apakah dulu dengan gembar-gembor aksi penanganan teroris, tujuannya agar bantuan asing mengalir deras? Jika cuma itu, pantas saja pemberantasan gak pernah tuntas.

Sekarang Densus 88 banyak bekerja dalam senyap. Banyak penangkapan besar tidak mendapat liputan besar-besaran. Tapi justru lebih sering membongkar setiap sel jaringan itu. Kaum radikal makin membenci polisi. Tidak heran jika polisi selalu jadi sasaran teror. Tujuannya meruntuhkan mental.

Saya pernah mendengar dari seorang pejabat BNPT, bahwa untuk menjadikan orang radikal hanya butuh waktu sebentar. Cukup digojlok beberapa kali pertemuan di pengajian, mereka sudah percaya kematiannya akan disambut 72 bidadari. Mungkin hayalannya, mereka bisa bangbang di surga.

Saya gak terlalu peduli nasib pelaku teror bermotif bokep itu. Mau ditembak, kek. Mau dihukum seumur hidup, kek. Itu adalah pilihan mereka sendiri. Mereka memang layak mendapat hukuman berat. Sebagai manusia, mereka gak bernilai sama sekali.

Tapi, saya kadang berfikir, setelah pelaku ditangkap atau ditembak. Setelah kematian merengutnya. Bagaimana nasib istri dan anak-anaknya. Siapa yang akan bertanggungjawab pada hidupnya.

Perempuan-perempuan bernasib sial karena bersuamikan kadal gurun. Hidupnya dikungkung dalam doktrin. Ia dipenjara oleh ajaran yang meleset dan kaku. Ketika ia tidak dapat melepaskan diri dari ajaran sesat itu, bagaimana dia melanjutkan hidupnya dan hidup anak-anaknya.

Siapakah yang menampung mereka? Yang paling saya khawatirkan, mereka ditampung oleh gerombolan itu lagi. Anak-anak dibesarkan oleh doktrin kebiadaban. Dan kekejian, demi kekejian, akan kembali mereka pertontonkan nanti ketika mereka dewasa.

Negara harus bisa menangani persoalan ini. Anak-anak itu tidak bisa dilepaskan begitu saja di bawah asuhan ibu yang otaknya disusupi virus. Sebab ibunya akan menularkan kembali virus radikal di kepala anak-anaknya. Negara melalui Departemen Sosial harus bisa memgambil alih tanggungjawab membesarkan anak-anak itu. Jangan biarkan mereka tumbuh menjadi moster yang lebih mengerikan.

Kalau negara mau mengeluarkan duit besar buat rehabilitasi pecandu narkoba, rasanya negara juga perlu melakukan kebijakan rehabilitasi pada keluarga teroris. Pisahkan anak-anak dari orangtua biadab itu.

Ambil mereka. Masukan ke pesantren-pesantren NU dengan biayai negara, misalnya. Atau cari jalan pendidikan lain. Intinya jangan lagi dekatkan anak-anak itu dengan lingkungan beragama yang mengajarkan kebiadaban. Jangan satukan lagi dengan orangtua bermental biadab.

Jadikan mereka orang yang lebih berguna. Ajarkan mereka cara beragama yang penuh kasih sayang dan toleran. Tanamkan jiwa sosial dalam dirinya. Jangan sampai mereka jadi sampah lagi seperti bapak-ibunya.

Memisahkan anak dari ibu dan bapaknya memang kesannya sedikit kejam. Tapi lebih biadab lagi kalau kita biarkan orangtua gila membesarkan anak-anaknya, dengan menularkan virus Zombie di kepalanya. Mereka akan tumbuh menjadi Zombie yang jauh lebih mengerikan.

“Mas, kalau teroris cowok mendapat 72 bidadari. Kalau yang cewek nanti dapatnya apa?,” tanya Bambang Kusnadi.

“Mungkin yang perempuan dapatnya Tupperware, Mbang,” Abu Kumkum, nyeletuk.

www.ekokuntadhi.id

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close