Pintu Gerbang Wisata Australia Bakal Dibuka untuk Asia, Indonesia Tak Termasuk

Pintu Gerbang Wisata Australia Bakal Dibuka untuk Asia, Indonesia Tak Termasuk
opera House, Australia (foto kumparan.com)
JAKARTA, SENAYANPOST.com - Pemerintah Australia tengah mempertimbangkan membuka perbatasan untuk negara-negara di Asia, termasuk sebagian China. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan kebijakan ini diambil setelah Australia menutup perbatasannya untuk wisatawan asing sejak Maret lalu.
Dilansir Traveller, di tengah pandemi Australia hanya mengizinkan wisatawan asing dari negara yang tergabung dalam travel bubble, seperti Selandia Baru. Kedua negara tersebut telah sepakat untuk membuka travel bubble pada 16 Oktober lalu.
Morrison mengesampingkan pelancong yang masuk dari Amerika Serikat atau Eropa, dan lebih condong mengizinkan orang dari negara berisiko rendah seperti Taiwan, Jepang, Singapura, dan bahkan provinsi di China. Sayangnya, Indonesia masih belum termasuk dalam daftar negara yang akan diizinkan untuk masuk ke Australia.
"Kami ... sedang mencari pengaturan alternatif apa yang dapat dilakukan untuk mengarahkan pengunjung melalui pengaturan karantina yang sesuai untuk negara-negara berisiko rendah," kata Morrison, kepada wartawan di Canberra, sebagaimana dikutip dari Traveller.
Di sisi lain, China adalah salah satu negara pertama yang melarang masuknya Australia ke negaranya selama pandemi virus corona. Pertimbangan untuk melonggarkan pembatasan perjalanan muncul ketika Morrison mengatakan Australia telah mencatat tiga hari tanpa kasus COVID-19 lokal. Semua kasus baru biasanya terdeteksi pada penduduk setempat yang baru saja kembali dari luar negeri.
Pada Maret 2020, Australia menutup perbatasan untuk semua non-warga negara dan penduduk tetap, meskipun pada Oktober, Canberra mengizinkan penduduk Selandia Baru untuk masuk. Perjalanan internal dibatasi, meskipun pembatasan tersebut dijadwalkan akan dihapus pada akhir tahun 2020 nanti.
Langkah ini diambil untuk menghidupkan kembali pariwisata yang akan menjadi pendorong perekonomian Australia, yang menyusut 7 persen dalam tiga bulan yang berakhir pada Juni, terbesar sejak tahun 1959.
Menurut data pemerintah Australia, pariwisata pada tahun 2019 menyumbang 3,1 persen dari produk domestik bruto negara itu atau sekitar hampir 61 miliar dolar Australia atau setara Rp 629 triliun.
Meskipun banyak warga Australia mengambil liburan secara lokal, banyak operator pariwisata yang kesulitan dan terpaksa memecat staf. Menurut data resmi, angka pengangguran naik hingga 6,9 persen pada September.
Morrison juga mengatakan Australia akan memperpanjang tunjangan pengangguran yang lebih tinggi hingga akhir Maret 2021. Saat ini mereka yang menganggur menerima 815 dolar Australia atau setara Rp 8,3 juta setiap dua minggu, tetapi ini akan turun menjadi 715 dolar Australia atau Rp 7,3 juta pada akhir Desember nanti. (ws)